
Revan memandangi dirinya di depan cermin, ia kecewa pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa bertindak lebih kejam, setidaknya mengatakan yang sejujurnya bahwa ia benarbenar tidak bisa mencintai Dinda karena hatinya sudah terpaut pada Elena. Tapi bagaimana bisa ia bicara sekejam itu pada gadis sebaik Dinda yang bahkan menangis pilu saat memohon pengertian.
Betapa rumit kisah cinta yang harus ia jalani.
Dengan perasaan gundah, Revan menyetir mobil menuju ke kontrakan Elena. Ia ingin mengatakan pada gadisnya itu bahwa ia tetap teguh memilih Elena. Dan ia akan menjamin bahwa Dinda akan baik-baik saja meski keputusannya telah bulat. Meski kemarin dinda memohon untuk diberi waktu supaya mereka bisa bersama-sama kembali agar perasaan Revan bisa kembali kepada Dinda, namun Revan tidak akan memberi waktu untuk Dinda, sebab ia tidak mau memberi harapan pada yang ujung-ujungnya hanya akan sia-sia. Ia sudah tahu takaran perasaannya, dan jangan diukur lagi apalagi dites dengan berbagai macam cara. Nama di hatinya hanya satu, Elena.
Mobil berhenti di depan rumah kontrakan. Revan keluar dari mobil menuju rumah kontrakan. Lampu di dalam rumah mati, hanya lampu teras yang menyala. Revan menaiki teras dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Rumah terlihat sepi. Revan menatap ke dalam rumah melalui celah kaca jendela, ia tidak dapat melihat apa-apa, di dalam gelap.
“Elena!!” panggil Revan.
Tidak ada jawaban. Kemana gadis itu? Apakah Elena sedang mengantar Salva pergi mengaji? Atau sedang keluar mencari makan malam?
__ADS_1
Revan merogoh ponselnya dari saku celana lalu menlepon Elena. Sambungan telepon tidak terhubung, ponsel Elena tidak aktif.
“Mas Revan, cari Mbak Elena, ya?” Tanya pemilik kosan yang kebetulan sedang melintas di depan rumah kontrakan.
Revan menoleh ke sumber suara. “Iya, Bu. Elena kemana? Apa Ibu melihatnya?”
“Mbak Elena pergi, Mas. Bawa koper gitu. Dia berpesan kalau Mas Revan datang, supaya Mas Revan mengambil kertas di vas bunga yang ada di teras.”
Deg! Revan terkejut. Perasaannya mendadak cemas bukan main. Dengan gerakan tergesa-gesa, manik mata Revan mengedar mencari vas bunga yang dimaksud. Ia mendapati sebuah kertas yang terselip di vas bunga. Segera ia menyambar kertas tersebut lalu membuka lipatannya. Matanya nanar membaca tulisan rapi yang tertera.
Aku sangat mencintaimu. Jangan lagi kamu tanyakan sebesar apa cintaku ke kamu, mungkin tidak akan terukur kedalamannya. Sudah lama kita saling kenal, saling berbagi, bahkan hidupku terasa sangat berarti semenjak mengenalmu.
__ADS_1
Tapi hidup tidak akan berhenti meski kita tidak bersama lagi, bumi juga tetap berputar tanpa menyatunya cinta kita. Kamu dan Dinda sudah lebih dulu saling berbagi dalam suka dan duka. Dan aku muncul belakangan.
Di sini, justru aku yang kelihatan jahat. Aku yang menjadi orang ketiga. Tidak, Revan. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengan wanita yang sudah lebih dulu kamu cintai. Dinda pernah mengisi kehidupanmu, berarti dia sudah pernah mengisi hatimu, ada cinta yang dulu kamu rasakan terhadapnya. Maka kembalikan sisa cinta itu hingga menjadi utuh dan sempurna dengan kepergianku ini.
Nggak banyak yang bisa kukatakan ke kamu, cukup satu kata. Cinta. Ya,jangan pernah kamu lupakan ada wanita yang pernah mencintaimu dnegan sangat tulus.
Terakhir, jangan sakiti Dinda. Dia terlalu baik untuk menumpahkan air mata hanya karena aku. Memang sulit dan bahkan sakit saat aku harus menuliskan kalimat ini ke dalam kertas, tapi aku harus melakukannya demi menjaga hati yang lain.
Salam sayang,
Elena
__ADS_1
Revan melihat dua bundar bekas air yang menetes di kertas itu. Ia yakin itu adalah air mata Elena saat menuliskan surat tersebut. Revan meremas kertas itu dengan mata berair. Tidak. Bukan itu yang dia harapkan. Elena, kamu kemana?
TBC