I am a Virgin

I am a Virgin
21. Takut


__ADS_3

Elena mematung. Tak tahu harus berbuat apa. Apakah ketakutannya akan terjadi? Semakin dekat bagi Boy untuk kembali ke masa lalunya, kembali ke ingatannya. Bukankah seharusnya Elena menanyakan kepada Bik Nur dimana alamat rumah Boy yang sebenarnya? Atau meminta Bik Nur membawa Boy pulang kepada keluarganya seperti apa yang dikatakannya di awal bertemu? Setidaknya menanyakan sedikit hal tentang asal-usul Boy? Tapi tidak. Dia bahkan membungkam. Sedikitpun tidak ingin tahu tentang semua itu. Tidak ingin lelaki itu meninggalkannya, meninggalkan Salva. Terlalu indah masa-masa bersama itu untuk dilewatkan. Tak mudah baginya membiarkan Boy pergi dari kehidupannya.


Tapi dia sadar tidak punya hak akan kehidupan Boy. Dia tidak boleh menahan Boy karena lelaki itu memiliki kehidupan sendiri. Elena hanyalah seseorang yang menolong Boy, tidak lebih. Terlalu egoois bila ia menjadi penghalang Boy untuk kembali ke keluarganya hanya untuk menjadikannya sebagai pencari nafkah hidupnya. Tapi ia sudah terlanjur merasa tergantung pada Boy.


Baiklah, Elena lebih baik diam. Mematung. Tak perlu ikut campur. Biarlah Bik Nur atau Boy saja yang memutuskan harus bagaimana bersikap. Elena tidak mau menjadi penghalang, juga tidak mau menjadi orang yang mempermudah pertemuan antara Boy dan keluarganya.


“Maaf,” singkat Boy kemudian menggandeng tangan Elena berlari menerobos keramaian, meninggalkan Bik Nur.


Elena menurut. Mengikuti kemana akan dibawa. Terbesit rasa syukur di hatinya melihat sikap Boy yang memutuskan untuk menjauhi Bik Nur. Setidaknya ketakutannya belum terjadi hari ini.


Bik Nur tergopoh mengejar sambil bereriak memanggil-manggil nama Revan. Namun larinya yang lambat membuatnya kehilangan jejak. Boy dan Elena hilang ditelan keramaian.


Sementara Elena masih terus berlari digandeng Boy hingga di tepi jalan raya. Tak sekalipun ia bertanya kenapa Boy melarikan diri dari Bik Nur. Ia pun tidak memberontak. Ia gembira karena Boy memilih melarikan diri. Itu artinya sekarang belum saatnya Boy pergi dari kehidupannya.

__ADS_1


Mereka terus berjalan hingga jauh dari keramaian kota. Memasuki jalan kecil yang samping kiri dan kanannya ditumbuhi rumput-rumput kecil.


Elena berhenti. Lelah. Ia menjatuhkan tubuh ke atas tanah. Merebahkan tubuh, telentang di atas rerumputan. Nafasnya terengah-engah. Boy menyusul. Duduk di sisi Elena.


Matahari bersembunyi di balik awan mendung. Siang itu sinar sedang bersahabat, tidak menampakkan wujudnya untuk membakar kulit.


“Boy, eh Revan, jadi nama lo yang sebenernya Revan?” celetuk Elena ditengah nafasnya yang terengah-engah.


Boy yang sebenarnya bernama Revan itu diam saja. Pandangannya lurus ke depan. Pada rumput yang bergoyang diterpa angin.


Yang ditepuk masih berpikir. Kerutan keningnya menunjukkan betapa dia sedang berjuang mengingat-ingat sesuatu.


“Boy, ah gue terbiasa manggil lo dengan nama Boy. Maksud gue Revan, lo inget sama orang yang namanya Bik Nur tadi nggak?” selidik Elena.

__ADS_1


Revan ikut merebahkan tubuh di sisi Elena. Menatap langit yang tertutup awan cokelat. Pelan awan berarak mengikuti arah angin.


“Gue nggak inget,” jawab Revan lirih. Ragu-ragu.


“Lo yakin nggak inget?”


Revan menggeleng pelan.


To be continued


Author Note : jangan lupa baca karyaku berjudul PCARKU DOSEN, kalian bakalan ketawa ngakak, baper, dan menemukan banyak pengalaman di sana. Itu cerita yang paling kuandalkan dan menguras energy banget.


So, jangan sampe ketinggalan baca.

__ADS_1


Love,


Emma Shu


__ADS_2