I am a Virgin

I am a Virgin
39. Oh My God


__ADS_3

Pletak…


Suara kunci pintu yang dibuka terdengar seperti geledek di telinga Elena. Om Davin masuk ke kamar. Elena terseret masuk. Pintu kembali ditutup.


Elena tersentak. Tersadar telah berada di sebuah kamar berdua saja. Hembusan angin sejuk dari Ac menyapu kulit. Jika dalam keadaan normal, seharusnya ia menikmati keindahan kamar yang mewah nan nyaman itu.


“Elena…” desis Om Davin mendorong tubuh Elena hingga menyandar di dinding. Tanpa berbasa-basi, lelaki itu bergerak cepat.


Elena terhimpit. Nafasnya sesak. Keringat dingin mulai mencuat ke permukaan kulit. Jantungnya deg-degan. Tak pernah ia merasakan situasi sulit dan menegangkan seperti yang ia rasakan sekarang. Benar-benar mengerikan. Lebih mengerikan dari gelapnya malam berteman badai dan petir. Andai saja ia seorang peri, tantu sudah disulapnya Om Davin jadi kecil agar bisa dikantonginya lalu dilempar jauh entah kemana.


“Stop!” Elena mendorong Om Davin.


Suara nafas Om Davin mengisi kesunyian. Matanya liar mengamati sekujur tubuh Elena.

__ADS_1


Elena menelan dengan payah. Lehernya tercekat. Tatapan Om Davin membuat suasana yang dirasakannya semakin mengerikan.


“Ayolah Elena, realistis saja,” rayu Om Davin sambil mengelus rambut Elena lembut. “Kamu butuh uang itu bukan? Kita sama-sama saling menguntungkan. Kamu nggak perlu mengembalikan uang itu pada saya. Ingat Elena, kamu nggak akan mendapatkan uang sebanyak itu jika kamu nggak memberikan apa yang saya mau.”


Sentuhan tangan Om Davin membuat kulit Elena merinding hebat. Elena kembali menahan dada Om Davin ketika lelaki itu berusaha maju dan mendekatinya.


“Om pikir gue percaya? Jangan-jangan Om ngibulin gue doang. Om pergi setelah ngedapetin apa yang Om inginkan. Tunjukkin dulu uangnya!”


Om Davin tersenyum meremehkan. “Tenang Elena, uang itu ada. Bagi saya uang segitu nggak seberapa.” Om Davin berjalan menuju meja dan membuka lacinya. Mengeluarkan tas hitam berukuran kecil dan membuka resletingnya, memperlihatkan tiga gepok uang.


Elena tersadar tubuhnya telah terhempas ke atas ranjang empuk ketika tangan berotot yang baru saja menyeret dan melemparnya ke ranjang.


Seketika, dunia Elena mendadak berubah.

__ADS_1


* * * * * * *


Elena berlari kencang menelusuri trotoar di bawah siraman lampu jalanan. Rambutnya yang panjang berkibar. Wajahnya dipenuhi ketegangan, kecemasan., ketakutan yang bercampur dengan raut muak. Aroma tubuh Om Davin masih terasa melekat di hidungnya meski kini ia sudah jauh dari lelaki itu.


Ia ingat kejadian menjijikkan yang terjadi beberapa saat tadi bersama dengan Om Davin, yang tentunya akan menyisakan sejarah buruk di kehidupannya. Beberapa kali ia mengusap baju di dadanya. Disitulah aroma parfum milik si tua bangka itu melekat. Menjijikkan.


Ia ingat bulu halus di atas bibir Om Davin, menggelikan sekali, juga memuakkan. Ia ingat sapuan hangat nafas Om Davin yang bau petai. Ia ingat tangan kokoh itu menggenggam jari-jarinya. Oh My God, bayangan itu terus melintas di pikirannya. Terus berkelebatan hingga membuat kepalanya berdenyut sakit.


Dahinya mengkerut. Matanya nanar lurus ke depan. Sesekali menoleh dengan rasa was-was. Kedua tangan mendekap tas hitam, memeluknya sangat erat. Jangan sampai ada yang mengambil tas berharga itu darinya.


T B C


L o v e,

__ADS_1


E m m a S h u


__ADS_2