
Revan menjelaskan apa yang terjadi, tentang dirinya yang jatuh dari jembatan dan tergelincir ke sungai setelah dua orang mengejar hampir merampoknya, tentang Salva, juga tentang kehidupan keluarga miskin itu.
“Bik, aku tinggal bersama yatim piatu yang hidupnya sangat memprihatinkan. Aku ingin menjaga mereka,” ucap Revan terbata, mengingta betapa sulit kehidupan yang dilalui Elena dan adiknya.
“Masyaa Allah…Sungguh Mas Revan mulia dengan memberikan pertolongan pada mereka, Bibik sampai terharu mendengarnya,” sahut Bik Nur di seberang.
“Bik, ijinkan aku tinggal bersama mereka untuk beberapa saat lagi.”
Bik Nur menangis mendengar permintaan ijin majikannya. Sampai segitu patuh dan taatnya Revan terhadapnya, Revan bahkan meminta ijin untuk bisa tinggal bersama keluarga lain kepadanya, padahal dia bukanlah siapa-siapa dalam hidup Revan, dan justru Revan menganggapnya lebih dari sekedar pembantu. Bik Nur yakin, bocah yang dulu dia didik san bombing dan kini sduah menjadi dewasa itu memiliki kepribadian yang baik.
“Bibik sih ngijinin aja, Mas. Hanya saja, Bibik ndak tega kalau harus membohongi mami sama papinya Mas Revan. Dengan Bibik diam dan tidak memberitahu mereka tentang keberadaan Mas Revan, sama artinya Bibik berbohong bukan?” Suara Bik Nur terdengar resah.
__ADS_1
“Aku janji, Bik. Aku pasti pulang. Kasih aku waktu sebentar lagi.”
“Iya, Mas. Jangan lama ya, Mas. Kasihan Bapak sama Ibu. Mereka sangat mencemaskan Mas Revan.”
“Iya, Bik. Makasih.”
Kemudian Revan meminta Bik Nur menarik uang dari kartu ATM miliknya sesuai nominal yang dia sebutkan.
Setelah itu Revan meminta Bik Nur datang ke klinik tempat Salva sedang dirawat. Bik Nur mengiyakan, mematuhi perintah majikannya.
Revan menunggu kedatangan Bik Nur di teras klinik. Duduk di kursi rotan. Setelah cukup lama menunggu, Bik Nur pun datang membawa uang yang diminta dan sebungkus kantong plastik berwarna hitam. Bik Nur menyerahkan uang dan kantong hitam tersebut kepada Revan.
__ADS_1
“Apa ini, Bik?” tanya Revan menatap kantong yang disodorkan.
“Untuk ganti baju,” jelas Bik Nur. Sebelumnya, ia sempat mampir di butik membeli sehelai kaos dan celana yang kemudian ia serahkan pada Revan.
Bik Nur ingat terakhir kali melihat penampilan anak yang amat disayanginya itu kumal ketika ditemuinya di pasar. Sebenarnya Revan tidak mau menerima pakaian itu. Tapi ia tak kuasa menolak melihat ekspresi kecewa di wajah perempuan yang dihormatinya itu.
Revan dan Bik Nur membawa Salva ke rumah sakit setelah sebelumnya Revan mencari Elena ke rumah, namun ia tidak menemukan gadis itu. Ia curiga Elena pergi menemui Om Davin. Dengan was-was ia meneliti gerobak dan mencari kartu nama yang diselipkan di sana. Benar, kartu itu sudah tidak ada. Kecemasan mulai membuat jantungnya tidak nyaman. Ia takut si hidung belang itu melecehkan Elena.
Sengaja Revan tidak memberitahukan Elena tentang ingatannya yang sudah berangsur kembali. Semenjak ia diajak Elena ke pasar, ingatannya mulai pulih. Samar-samar ia mengingat pasar yang sering ia masuki bersama Bik Nur. Suasana, keramaian, dan kondisi pasar yang sering didatanginya itu membuat ingatannya perlahan kembali.
TBC
__ADS_1
KLIK LIKE YAK