
Itulah yang membuat Revan menadapatkan nilai plus dari keluarga kecil itu. Pandangannya beralih memperhatikan Elena yang sedang menikmati nasi goreng di depannya. Wajah gadis itu terlihat lebih cerah. Mempesona. Memikat hati. Rambutnya yang panjang diikat satu ke belakang. Cantik. Revan terus memperhatikan wajah itu. Hatinya bergetar. Ia benar-benar telah jatuh cinta.
Elena menuang air minum dari ceret ke gelas dan meletakkannya ke depan Revan.
Revan tersenyum penuh penghargaan diperhatikan begitu. Padahal ia bisa mengambil air minum sendiri. Belum jadi suami, sudah dilayani begitu. Sikap Elena benar-benar menghargainya. Begitulah setiap hari. Sudah terbiasa Elena menghargai ayah ibunya, hingga sikap itu terbawa kepada mereka yang dianggap lebih tua.
“Gue jadi ngerasa dihormati banget,” ucap Revan merasa bangga pada Elena. Rasa cintanya pada Elena kian meledak. Revan semakin menginginkan Elena. Tak ingin rasanya melepas gadis itu. Sungguh, Revan sangat ingin Elena yang menjadi pendamping hidupnya kelak. Tapi apakah itu bisa terjadi? Ada banyak perbedaan pendapat dan pola pikir diantara mereka. Andai suatu saat nanti ia harus berpisah dengan Elena, entah apa yang akan ia rasakan. Mungkin kesepian, mungkin dunianya akan berubah, warna hidupnya pun menjadi hitam putih. Ah, entahlah…
“Ini biasa gue lakukan, Van.” Elena menumpuk piring-piring kotor ke dalam baskom. Menarik piring bekas makan Revan yang telah kosong dan memasukkannya ke baskom.
__ADS_1
“Elena, gue punya satu cerita.”
“Cerita apa?”
“Gue pernah jatuh dari motor, dan kondisi gue cukup memprihatinkan. Lecet dimana-mana, memar dan berdarah-darah. Nggak ada seorang pun yang berani nolongin. Entah kenapa mereka semua malah hanya menonton dan nggak ada seorang pun yang mau mengulurkan bantuan. Tapi kemudian ada seorang pemuda yang ngebantuin gue. Dia gendong gue sambil lari dan masukin gue ke mobilnya. Dan yang lebih mengesankan, dia berani menjamin dirinya saat gue harus masuk ke rumah sakit. Dia juga yang bertanggung jawab atas biaya yang harus dikeluarkan. Ini membuktikan kalau orang kaya nggak semuanya kejam.”
“Beneranlah, masak boongan.”
“Berarti lo udah bisa mengingat kejadian sebelumnya?” Elena menatap Revan tajam. Antara cemas dan takut berbaur jadi satu. Cemas jika Revan akan meninggalkannya setelah ingatannya pulih. Takut kalau benar ternyata Revan berasal dari keluarga berada. Hubungannya dengan Revan mungkin tidak akan sebaik sekarang jika benar Revan berasal dari kalangan berada.
__ADS_1
Revan terdiam seribu bhahasa, lehernya terasa tercekat. Niatnya ingin member pengertian pada Elena dengan sekilas cerita yang mungkin bisa membuat pandangan Elena terhadap orang kaya akan berubah, tapi cerita itu justru berbalik menyudutkannya. Ia telah salah bicara. Dan kini ia bingung harus menjawab apa.
“Ah iya, kenapa gue bisa inget momen itu? Ya Elena, gue inget kejadian itu. Tapi….” Revan terlihat pura-pura mikir. “Tapi kenapa hanya itu aja yang gue inget? Ah, yang lainnya kenapa gue nggak inget? Sepertinya ingetan gue berangsur pulih. Iya, gue inget kejadian itu. Kecelakaan itu adalah kejadian pertama yang gue inget.”
“Lo yakin hanya itu yang lo inget?” selidik Elena penuh kecemasan. Takut Revan akan mengingat semua yang sudah berlalu. Andai ingatan Revan sudah pulih, akankah kehidupan Elena akan kembali seperti semula? Tanpa Revan.
“Iya. Jangan paksa gue mengingat semuanya. Pala gue pusing kalau dipaksa.”
TBC
__ADS_1