I am a Virgin

I am a Virgin
40. Lemah


__ADS_3

Sebuah angkot berhenti setelah ia melambaikan tangan. Angkot melaju membawanya sampai menuju ke persimpangan jalan. Elena turun. Kemudian berlari lagi di jalan sepi. Sesekali kepalanya menoleh ke kiri kanan dengan gelisah.


Sampai di klinik Bu Diana, Elena lega. Nafasnya masih terengah-engah. Kecemasan yang sejak tadi membungkus wajahnya mulai memudar dan hilang. Ia menerobos masuk klinik. Terkejut saat memasuki kamar nomer Salva sudah kosong. Salva tidak ada di ranjang. Revan juga tidak ada.


Elena berbalik keluar. Berpapasan dengan Aini. Bidan berjilbab putih itu tersenyum menyapa.


“Salva mana?” tanya Elena tanpa mengindahkan senyum Aini.


“Salva dibawa pergi sama Revan.”


Elena mengernyitkan dahi. “Kemana?” tanyanya semakin cemas.


“Katanya ke rumah sakit.”


Deg! Jantung Elena berdetak kencang. Ke rumah sakit?


“Apa keadaan Salva tambah parah? Apa dia panas lagi? Apa klinik ini udah nggak bisa nanganin sakitnya sampe-sampe dia dilariin ke rumah sakit?” tanya Elena bertubi-tubi.


“Tenang Elena, Salva nggak apa-apa. Amandelnya nyeri sekali karena dia nggak meminum obat yang disarankan. Revan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit,” jawab Aini tenang.

__ADS_1


“Ke rumah sakit mana?”


Aini menyebutkan salah satu rumah sakit besar di Jakarta.


Elena termenung sebentar. Bingung. Kenapa Revan membawa Salva ke rumah sakit? Apa Revan punya uang untuk biaya rumah sakit?


“Revan itu sayang banget sama Salva,” ujar Aini memuji Revan. Matanya berbinar menunjukkan betapa ia sangat membanggakan sesosok Revan.


Elena merengut. Tidak suka dengan pujian yang ditujukan kepada Revan. Entah mengapa hatinya nyeri. Revan adalah miliknya. Ia tidak ingin ada perempuan lain yang memujinya. Ah, sungguh tidak layak ia bersikap demikian kepada Aini. Bukankah hanya Aini yang perduli terhadapnya? Hanya Aini yang baik hati ditengah pandangan orang yang sinis terhadapnya? Elena berusaha mengusir jauh perasaan tak suka itu.


“Nggak perlu cemas, Salva bersama orang yang menyayanginya,” ungkap Aini.


Elena terduduk di sofa teras klinik. Sejenak termenung. Mengingat kejadian di hotel. Matanya terpejam erat. Kemudian kepalanya menggeleng berusaha membuang ingatan buruk yang membuatnya merasa jijik.


Ia memandangi tas kecil yang dijinjing. Uang tiga puluh juta telah ada di tangannya. Salva harus sembuh. Pikirnya.


Cepat-cepat ia berlari meninggalkan klinik. Ingin segera bertemu Revan untuk menanyakan segala yang menjejal pikiran.


Lima puluh meter kakinya meninggalkan klinik, Bruk!!

__ADS_1


Pandangannya yang mengarah ke bawah membuat proses tabrakan dengan sosok yang berjalan di depannya tak terelakkan.


“Revan?” pekik Elena ketika mengangkat wajah. Bibirnya langsung tersenyum lebar. Semburat kebahagiaan terpancar di wajahnya. Kayak sudah sebulan lamanya tidak bertemu. Padahal baru beberapa jam ia tidak melihat wajah Revan.


“Maaf, gue pergi dari klinik nggak pamitan sama lo. Tadi gue nungguin lo di klinik lama banget, tapi lo nggak dateng-dateng. Gue bawa Salva ke rumah sakit.”


“Tapi kenapa? Kenapa lo bawa dia ke rumah sakit?”


“Agar secepatnya dia dioperasi.”


“Operasi? Dari mana lo ngebiayain operasinya?”


“Nggak penting dari mananya, yang jelas dia udah dioperasi.”


“Udah dioperasi?” lirih Elena lebih seperti bisikan. Jantungnya mendadak lemah.


Revan mengangguk. Mendengar Salva telah dioperasi, Elena justru menunjukkan ekspresi aneh yang tak biasa, terlihat kecewa, galau, menyesal, dan… Entahlah. Ekspresi wajahnya membingungkan.


“Bukankah seharusnya lo gembira?” tanya Revan meneliti wajah Elena yang gusar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2