
Elena sempat tertegun. Dia yang berminat berjualan soto, tapi justru Boy yang bersemangat kerja keras mencari uang dan mengumpulkannya untuk modal usaha. Elena ingat lembaran rupiah yang telah dikumpulkannya di bawah papan tempat tidur Salva. Sudah cukup banyak. Itulah uang hasil kerja keras Boy. Selama ini Boy memberikan seluruh uang hasil kerjanya kepada Elena. Boy nyaris seperti kakak tertua di rumah itu. Dia mengayomi, melindungi, bahkan mencarikan nafkah tanpa sepeserpun mengharap imbalan. Boy benar-benar telah mengubah kehidupan Elena. Bagaikan malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menjaga Elena dan adiknya.
Elena berlari mengikuti Boy keluar. Menyambar karung yang menggantung di samping rumah. Menyangkutkannya di bahu. Berjalan menjajari langkah Boy.
Hari ini mereka mencari tempat baru, menyusuri jalan padat kendaraan di tengah kota dan memungut barang bekas. Terkadang mengobrak-abrik isi kotak sampah yang bertengger di trotoar dan memungut barang yang bisa ditampung.
Karung besar di punggung Elena baru berisi separuh. Sedangkan karung Boy telah berisi penuh. Sesekali Elena mengusap keringat di pelipis dengan punggung telapak tangan.
Boy mengamati wajah Elena yang kusut dibasuh keringat. Hatinya iba.
“Laen kali lo di rumah aja, deh. Biar gue sendiri yang kerja,” kata Boy sembari mengiringi langkah gadis itu. Hanya semangat yang membuat kaki gadis itu tetap terus melangkah.
__ADS_1
“Gue udah biasa kali,” jawab Elena sekenanya.
“Itu dulu, sekarang kan ada gue. Jangan buat gue merasa percuma ada di rumah lo,” sahut Boy. Lalu ia menoleh ketika tidak mendengar sahutan. Ternyata Elena berhenti, gadis itu tampak asik mengamati seorang ibu yang sedang sibuk melayani serbuan ibu-ibu yang berkerumun membeli soto. Sorot mata Elena menunjukkan betapa ia sangat berharap dapat berjualan seperti ibu itu.
Boy menyenggol bahu Elena dengan uraian senyum. “Udah dihitung belum uang simpenan kita? Gue yakin secepetnya kita akan segera berjualan.”
Elena menatap Boy dan tersenyum lebar. Perkataan Boy menumbuhkan semangat baru di dadanya. Benar, ia akan secepatnya berjualan soto bermodalkan uang pencarian Boy.
Boy sekalipun tidak pernah mengeluh meski yang dipijaknya becek dan bau. Tangannya menjinjing seplastik kecil perbelanjaan. Ia mengikuti kemanapun Elena melangkah. Mirip seperti anak ayam mengikuti induknya. Sesekali kakinya menginjak sendal jepit Elena yang berjalan di depannya hingga membuat langkah Elena tersendat dan akhirnya ubun-ubun kepalanya terantuk dagu Boy.
“Jangan diinjek, dong!” protes Elena sebal setiap kali sendalnya terpijak.
__ADS_1
Boy tersenyum. Namanya juga tidak sengaja.
Sekarang mereka sudah sampai di tempat lengang. Boy mengajak Elena makan, mereka memasuki warung soto. Duduk di kursi panjang yang mejanya sudah diisi beberapa orang. Mereka berdesakan diantara pembeli yang lain. Boy rela hanya separuh badannya saja yang menempel di kursi, demi Elena. Mereka menyantap soto yang dihidangkan dengan lahap. Nikmat.
“Mau minuman hangat? Teh? Kopi? Atau...”.
“Nggak,” potong Elena. “Ntar uangnya habis.”
Elena terbiasa makan apa adanya dan minum air mineral. Rasanya berlebihan bila harus makan dan minum mengikuti selera.
TBC
__ADS_1