
“Adik lo nyenengin banget.” Revan menanggapi sambil mengunyah pizza.
“Dari dulu dia emang kayak gitu, nggak suka nyusahin kakaknya.”
“Sama kayak lo, yang nggak mau nyusahin orang lain. Siapa dulu pacarnya.”
Elena membelalak. Revan terkekeh.
“Ini makan!” Revan kembali menyuapi Elena.
Elena menatap pizza yang disodorkan ke depan mulutnya. “Harus ya nyuapin gue?” tanyanya dengan jantung deg-degan. Kenapa responnya semendebarkan ini disaat sedang berdekatan dengan Revan?
“Iya.”
“Tapi itu kan bekas gigitan lo.”
“Biar rasa sayang lo ke gue tambah dalem, makanya lo mesti makan bekas jigong gue.”
“Iiih.. Revan jelek, ah.”
“Enggaklah, biar kita satu rasa. Entar juga bakalan tuker-tukeran, kok. Saling ngerasain kalo udah hidup bersama.”
“Tuker-tukeran apanya?” Elena membelalak.
__ADS_1
Revan hanya mengulumm senyum. “Emangnya lo nggak mau bekas gue?”
Elena hanya tersenyum. Revan membuatnya menjadi salah tingkah.
“Ayo, makan!” Kembali pria itu mendekatkan pizza ke mulut Elena membuat Elena tak kuasa menolak pemberian Revan.
Dengan canggung, Elena menggigit pizza tersebut.
“Enak kan kalo disupain kekasih?” Revan mengerlingkan satu matanya.
“Biasa aja.”
Revan tersenyum lagi.
“O ya, uang kontraknya…”
Wajah Elena mendadak berubah mendung. “Gue ngerasa nggak pantes ngedapetin ini semua, Van. Gue…”
“Jangan katakan apapun, Elena. Kita udah bicarakan ini.”
Elena terdiam.
“Kalau kata orang sesame manusia kita kan harus saling bantu, apa salahnya gue negbantuin orang yang lebih membutuhkan, yaitu elo. Ada hak lo dalam harta gue bukan?”
__ADS_1
Elena akhirnya mengulas senyum.
“Ya udah, gue pulang dulu. Gue pasti akan sering dateng ke sini ngejengukin lo. Mengenai sekolah Salva, besok gue bantu urus untuk kepindahannya. Ada sekolah nggak jauh dari sini. Jalan kaki pun nyampe, kok. Salva pasti akan seneng di sekolah barunya nanti.”
Elena mengangguk.
“Oke, gue pulang.” Revan bangkit berdiri. Sesampainya di pintu, ia menoleh, menatap Elena yang berdiri di belakangnya, ia sebenarnya masih ingin bersama Elena di sana. Tapi hari sudah sore dan rasanya tidak pantas ia terlalu lama berada di sana.
Keduanya bersitatap. Beberapa detik mata keduanya beradu pandang. Tak seorang pun yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya Elena tersadar saat ubun-ubunnya terasa hangat oleh sentuhan bibir. Ya, Revan mencium pucuk kepalanya.
“Gue sayang sama lo,” bisik Revan membuat sekujur tubuh Elena terasa dingin oleh siraman cinta.
Keduanya kembali bersitatap. Elena hanya diam dan Revan juga diam. Seakan-akan mata mereka yang sedang saling bicara, hingga akhirnya keduanya tersenyum bersamaan.
“Pulang, gih!” titah Elena menyadarkan Revan yang masih mematung seperti tak ingin pergi dari rumah itu.
“Iya.” Revan balik badan kemudian menuruni teras. Ia menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan yang tidak luas.
Manik mata Elena mengamati ban mobil Revan hingga hilang dari pandangan. Rasa syukur membuncah dalam benaknya. Ia tak menyangka Tuhan memberikan banyak anugerah dalam hidupnya melalui Revan. Lihatlah, kini ia bisa kembali hidup dengan layak. Dan lihatlah, Revan begitu baik terhadapnya. Ujian berat hanyalah diperuntukkan orang-orang yang terpilih, dan Elena dipilih menerima ujian yang telah ia lewati karena Tuhan menyayanginya. Dan sekarang Tuhan membalas segala ketabahan yang Elena jalani dengan anugerah yang jauh lebih indah.
Terima kasih, Tuhan. I Love You.
***
__ADS_1
Love,
Emma Shu