
“Van, kamu nggak suruh temenmu masuk dulu?” tanya Dinda.
“Bukan, Dinda. Elena bukan temanku,” ucap Revan.
Dinda mengangkat alis tak mengerti.
“Maafin aku, Dinda. Aku harus jujur padamu. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untukku mengatakan yang sebenarnya.” Revan berbicara dengan serius.
Dinda tersenyum menatap Revan yang tiba-tiba terlihat tegang dan serius.
Elena tak kalah tegang mendengar kata-kata Revan, sepertinya Revan sedang ingin mengatakan perasaannya saat itu.
Revan ingin mengungkapkan perasaannya pada Dinda, tentang siapa sebenarnya Elena. Namun senyum lebar Dinda membuatnya ingin menarik ulur niatnya.
__ADS_1
“Dinda, kamu tahu kalau aku pernah kecelakaan dan menghilang untuk beberapa waktu yang tidak sebentar. Selama itu, tahukah kamu apa yang terjadi?”
Dinda mengangguk. “Aku sangat tahu. Kamu sudah sangat sering dan bahkan berulang-ulang menceritakannya padaku, bahwa kamu ditemukan oleh seseorang dan kamu hidup bersama seorang gadis dan anak berkekurangan itu.”
“Tahukah kamu siapa gadis itu?”
Lagi, Dinda mengangkat alis.
“Elena,” singkat Revan.
“Sampai saat ini Revan masih bernafas bukan karena aku, tapi berkat kebaikan Tuhan yang masih memberinya nafas,” kata Elena. “Revan beruntung memiliki calon istri sepertimu. Kalian sangat serasi.”
“Sungguh?” Dinda merasa tersanjung dan wajahnya terlihat bersinar cerah.
__ADS_1
Revan mengernyit mendengar pernyataan Elena. Ada rasa yang menggigit di hatinya saat itu.
“Aku permisi.” Elena balik badan. Namun langkahnya tertahan saat sentuhan hangat sebuah tangan melingkar di pergelangan tangannya. Ia menoleh dan melihat tangan Revan menahannya.
“Tunggu, Elena. Jangan pergi!” Suara Revan bergetar. Pandangannya kini beralih kepada Dinda. “Dinda, aku harus berterus terang sama kamu, bahwa selama aku hilang ingatan dan hidup bersama Elena, perasaanku terhadap Elena mengalir begitu saja. Aku jatuh cinta pada Elena.” Revan masih memegangi tangan Elena dengan Erat, seakan tidak mau melepaskannya.
Wajah cerah berbinar Dinda langsung lenyap seketika. Kini wajah cantik itu terlihat mendung dan matanya berair.
“Aku dan Elena menjalin hubungan, kami menjadi sepasang kekasih sejak saat kami hidup di satu atap. Sampai detik ini perasaanku ke Elena tidak berubah. Bahkan aku sudah lupa dengan rasa cintaku yang pernah terpaut padamu. Aku lupa, Dinda. Ini bukan kemauanku, tapi kenyataan telah membawaku ke jalan ini. Aku tidak pernah meminta untuk bisa mencintai Elena, tapi cinta itu tumbuh begitu saja, dan bahkan tetap utuh sampai sekarang. Kamu boleh menghujatku, tapi aku bisa apa? Apakah kamu masih mau berhubungan atau bahkan menikah dengan pria yang mencintai gadis lain? Apakah kamu masih mau mempertahankan hubungan dengan pria yang hati dan perasaannya untuk wanita lain?”
Cukup lama Dinda terdiam, mendung di wajahnya kian menjadi-jadi. Sampai akhirnya air matanya menganak sungai. Tangis Dinda pun pecah.
Elena mengernyit melihat tangisan Dinda. Detik itu juga, tiba-tiba ia merasa menjadi wanita paling jahat sedunia.
__ADS_1
TBC