
“Sory deh kalo omongan gue ngebuat elo jadi ngelamun. Gue nggak bermaksud ngebuat elo jadi inget kedua orang tua lo.” Boy menatap muka Elena di sampingnya.
“Dari tadi sory sory mulu.”
“Abisnya, lo diajak ngomong malah ngelamun.”
Elena menarik nafas. Sudahlah, tidak perlu mengenang masa lalu, itu hanya akan mematahkan semangatnya saat ini. Jalani saja hidupnya sekarang yang bekerja sebagai pemulung, pemungut barang rongsokan.
“Kenapa lo mungut barang bekas di tempat sepi kayak tadi? Kenapa nggak di kota? Di sana pasti lebih banyak barang bekas berserak.”
“Jauh tauk. Capek. Lagian, setiap ke sana, gue pasti bakalan ngelewatin tukang soto yang jualan di tepi jalan.”
“Emangnya ada yang salah sama penjual soto? Apa kaitannya?”
“Idih, lo kepo aja deh.”
__ADS_1
Boy tersenyum melihat Elena jutek. Elena terlihat manis jika marah-marah.
“Gue nggak pengen ngeliat penjual soto itu karena gue ngiri. Setiap ngeliat dia, selalu timbul keinginan berjualan soto kayak dia, tapi gue nggak punya modal. Gerobak pun nggak punya. Penjual soto itu duitnya pasti banyak. Pembelinya rame, setiap gue lewat, pembeli nggak putus.”
Elena mengedikkan bahu. Apalah daya, ia hanya bisa memulung. Hasil memulung hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Juga biaya sekolah Salva. Itupun sering kurang. Apalagi jika ia sudah sakit, lumpuhlah semua kegiatan. Tungku tidak berasap. Mereka akan berpuasa dan berbuka dengan air putih saja.
Ketika sesekali Elena mendapat rejeki lebih, ia langsung membeli ikan atau ayam sebagai perbaikan gizi untuk adiknya. Lauk tersebut diolah dengan cara dipanggang. Hanya dengan cara itu, ia tidak memerlukan minyak goreng. Ia hanya butuh garam dan api saja. Begitu saja sudah enak. Sering kali ia tidak menyentuh ikan atau ayam yang dibelinya dari pasar. Dia lebih memilih makan dengan beberapa lembar daun ubi yang dipetiknya di belakang rumah, dan kemudian ditumis dengan rasa yang cukup asin. Agar awet, tidak cepat habis. Tanpa cabe. Lembaran uang di genggamannya tidak pernah cukup untuk membeli cabe yang harganya membubung tinggi.
“Oke deh, kita akan berusaha supaya lo bisa ngedapetin gerobak itu lagi.”
“Kita?” Elena mengerutkan dahi heran. Memangnya sampai kapan Boy akan tinggal di rumahnya hingga bisa mendapatkan gerobak yang diinginkannya? Butuh waktu lama untuk membeli gerobak. Dan Boy akan tinggal di sana selama itu? Tidak. Ingatan Boy harus secepatnya pulih, supaya dia bisa cepat kembali ke rumahnya. Entah apa yang membuat batin Elena merasa ingin mengusir Boy. Lelaki itu terasa asing di kehidupannya. Ia terbiasa hidup berdua bersama Salva.
Elena berharap lidahnya sanggup mengatakan bahwa ia tidak ingin Boy tinggal di sana lebih lama lagi, tapi tidak tahu harus mulai bicara dari mana.
“Udah, jangan bahas soal gerobak lagi. Kita ke topik lain.”
__ADS_1
“Oke, bicaralah. Gue nggak punya topik lain. Lo punya?”
“Kalau seandainya lo berasal dari keluarga kaya-raya, apa yang akan lo lakuin?”
“Mmm... Apa, ya?” Boy berpikir. Kemudian mengedikkan bahu. “Nggak tau. Emangnya gue mesti ngapain kalo berasal dari keluarga kaya?”
“Lo bakalan ngerasa jijik pernah tinggal di gubuk reot kayak gini. Dan setelah itu lo bakalan pura-pura nggak akan pernah mengenal kami. Itu yang akan terjadi.” Tekanan nada suara Elana terdengar penuh kebencian.
***
To be continued
Author Note : jangan lupa baca karyaku berjudul PCARKU DOSEN, kalian bakalan ketawa ngakak, baper, dan menemukan banyak pengalaman di sana. Itu cerita yang paling kuandalkan dan menguras energy banget.
So, jangan sampe ketinggalan baca.
__ADS_1
Love,
Emma Shu