I am a Virgin

I am a Virgin
71. Ucapan Tak Pantas


__ADS_3

elena menatap Revan. “Lalu… Uang operasi Salva itu…”


“Ya, itu uang gue,” potong Revan cepat. “Sekarang ayo kita ke tempat Om Davin, kita balikin uang yang lo pinjem itu ke dia.”


“Tapi… Gue udah terlanjur minta sama nyokap lo.”


“Batalin aja. Gue pulang ke rumah untuk ngambil uang. Dan ini uang buat lo.” Revan membuka kemeja yang kancing atasnya terbuka. Ia memperlihatkan segepok uang yang diselipkan di balik ikat pinggangnya.


Elena kembali tergugu. Jadi… Ternyata orang baik yang telah menyelamatkan Salva dari penderitaan itu adalah Revan? Dan sekarang, Revan juga yang akan menyelamatkannya dari ancaman Om Davin?


“Tunggu disini!” perintah Revan kemudian berlari cepat memasuki pintu gerbang yang terbuka sedikit. Ia memasuki garasi. Keluar dengan menaiki motor sport. Kepala dibungkus helm. Motor yang ia tunggangi itu menghampiri Elena. Revan menyentuh tangan Elena dan menariknya hingga tubuh Elena mendekat.


Pria itu membuka helm. Merogoh ponsel di saku celana lalu memberikannya pada Elena.


“Hubungi Om Davin. Tanyakan dimana dia sekarang. Kita harus segera bertemu dengannya,” perintah Revan tak sabar ingin segera mengembalikan uang itu agar gadis yang amat disayanginya itu tidak lagi berhubungan dengan Om Davin.


Elena menghubungi nomer yang tercatat dalam memori kepalanya. Tak lama kemudian Om Davin menjawab teleponnya.

__ADS_1


“Kenapa, gadis cantik? Apa kau sudah berpikir lebih jernih lagi? Apa sudah berubah pikiran?”


“Gue bakalan ngembaliin uang itu. Sekarang juga.”


Tawa Om Davin meledak mendengar Elena akan segera mengembalikan uang itu. Kemudian Om Davin menawarkan pilihan lain.


“Kau tidak perlu mengembalikan uang itu padaku jika kau mau,” tukas Om Davin dengan suara mendesah. “Aku terlanjur penasaran padamu. Kau hanya tinggal meluangkan sedikit waktumu untuk bercinta denganku. Tiga jam saja. Kepuasanku akan meleburkan tuntutanku terhadapmu. Lunaslah semuanya. Bagaimana?”


Elena menarik nafas dalam. Giginya gemeletukan. Emosinya naik ke ubun-ubun. Matanya menyipit menahan gemuruh emosi di dalam dada. Ingin memaki, tapi ia tidak mau Revan tahu bahwa lelaki hidung belang itu sedang berusaha menjatuhkan harga dirinya. Ia juga tidak mau kemarahan Revan tidak terkontrol. Sebab pria tampan itu sangat sensitif terhadap Om Davin.


“Kenapa terburu-buru? Apa kau sudah tidak sabar untuk segera tidur denganku? Kau pasti akan terpejam merasakan milikku. Coba saja! Aku bisa buktikan padamu.”


“Om, katakan dimana kita bisa bertemu!” bentak Elena semakin muak.


Om Davin tertawa kasar. Kemudian menyebutkan alamat sebuah hotel untuk bertemu. Elena sempat menolak, mereka berembuk merundingkan tempat untuk bertemu. Namun akhirnya Elena mengalah. Ia tidak punya pilihan lain, Om Davin memaksa bertemu di sana.


Elena menggeser tombol merah. Bibirnya tersenyum tipis. Om Davin pasti berpikir bahwa Elena akan datang sendirian.

__ADS_1


“Nih!” Elena menyerahkan ponsel yang baru saja ia pakai.


“Itu buat lo,” tukas Revan.


“Buat gue?” Elena mengernyitkan dahi.


Revan mengangguk dengan seulas senyum. Elena terpana menatap senyuman itu. Sungguh, Revan terlihat lebih tampan saat tersenyum.


“Supaya kita mudah berkomunikasi,” lanjut Revan.


“Kalo ini buat gue, lo pake apa?”


“Ini!” Revan menunjukkan ponsel satunya, yang baru ia ambil dari kantong celana.


Elena ber-Oo panjang. Cepat-cepat ia mengantongi ponsel pemberian Revan. Ia tersenyum senang. Kali ini ia tidak akan menolak pemberian Revan, karena yakin pemberian itu tulus.


TBC

__ADS_1


__ADS_2