
Om Davin memasuki kafe. Ia terlihat rapi mengenakan jas hitam, di dalamnya kemeja putih dihiasi dasi cokelat. Ia berhenti sebentar, pandangannya berkeliling mencari perawan yang diincar. Ia tersenyum lebar saat mendapati Elena. Kemudian menghampiri dan duduk di kursi depan Elena.
“Halo, cantik!” sapanya dengan tatapan nakal. “Udah lama menunggu?”
Elena tidak langsung menjawab. Bola matanya justru mengamati tingkah Om Davin yang seperti kehausan belaian perempuan. Nafasnya, tatapannya, dan lidahnya yang terus membasahi bibir membuat Elena merasa jijik.
“O ya, kita pesan minuman dulu, ya!” Om Davin menawarkan.
Elena mengangguk. Beban berat terasa menggantung di benaknya dan membuat perasaannya semakin tidak nyaman. Ia tidak mau banyak ngoceh yang hanya akan membuat beban itu bertambah berat.
Seorang pelayan menghampiri ketika Om Davin melambaikan tangan memanggilnya.
“Elena mau pesan apa?” tanya Om Davin dengan nada merayu.
“Terserah,” jawab Elena sekenanya.
Om Davin memesan jus lemon dan mie goreng spesial. Pelayan berlalu pergi. Sebentar kemudian, pelayan kembali dan menyuguhkan pesanan. Jus lemon dingin dan mie goreng hangat.
Elena memperhatikan mie goreng yang asapnya masih ngepul. Aromanya sedap menusuk rongga pernafasannya. Mie itu tidak seperti mie goreng biasa. Mie pangsit dicampur telur, udang, taoge dan sawi, dihias daun selada dan beberapa potong tomat. Air liurnya menggelitik. Makanan di depannya itu pasti enak sekali.
__ADS_1
Om Davin meraih sumpit. Menyiram mie dengan saus. Lalu mencampurnya dengan menggunakan sumpit. Menyantapnya pelan-pelan. Sesekali terdengar suara keras, Srruuuut….
Elena tidak menumpahkan saus ke atas mie dan mencampurnya. Lalu mengambil sumpit dan menyantap mie goreng dengan lahap. Lidahnya serasa dimanja dengan kenikmatan yang luar biasa.
“Mau nambah lagi?” tanya Om Davin ketika piring Elena telah kosong.
Elena menggeleng. Sebenarnya perutnya masih muat untuk diisi seporsi lagi, mulutnya juga masih berharap mendapat sentuhan lezat mie yang baru kali ini dirasakan. Tapi gengsi. Dia merasa harus menjaga image. Ia juga harus menunjukkan bahwa orang melarat tidak selamanya haus dan rakus dengan makanan lezat.
Om Davin masih terlihat menyantap makanannya. Ternyata Elena lebih dulu selesai makan. Om Davin melirik Elena sembari **** senyum. Otaknya sudah membayangkan sesuatu yang indah.
“Jadi, tiga puluh juta, deal?” tanya Om Davin sambil mengunyah sisa mie.
Om Davin tersenyum lagi. Lalu mengelap sekeliling bibir dengan tisu dan meletakkan tisu itu ke atas piring kotor. “Ada. Tapi nggak saya bawa. Nanti sama-sama kita ambil.”
“Bukannya gue udah pesen agar uangnya dibawa?” sewot Elena. Jika Om Davin mengajaknya mengambil uang, artinya Om Davin memiliki kesempatan untuk menjahilinya.
“Nggak sempet, baby. Aduuuh… Om terburu-buru.”
Dasar akal bulus tua-tua keladi. Ternyata dia tidaklah bodoh. Tidak mungkin ia menyerahkan uang tanpa mengharap imbalan yang diharapkan.
__ADS_1
“Lalu… gimana caranya gue bisa angsur uang Om? Berapa tiap bulan yang mesti gue bayar?” tanya Elena.
Om Davin menatap bibir merah Elena, lalu tersenyum tipis.
“Ah, nanti kita bicarakan soal itu. Sekarang ikutlah denganku.” Om Davin bangkit berdiri.
Elena tak bergerak. Masih diam terpaku.
“Ayo!” paksa Om Davin.
“Ngapain gue mesti ikut?” Elena merasa was-was. “Om pergi aja sendiri. Gue tunggu disini. Bawa uangnya kesini.”
Elena berusaha sebisa mungkin untuk menghindari tangan jahil lelaki itu.
“Om nggak punya waktu untuk bolak-balik kesini. Ikutlah. Kamu akan langsung menerima uangnya dari Om. Memangnya kamu nggak takut bawa uang sebanyak itu sendirian di tempat rame begini? Kalo uangnya dirampas preman gimana? Sia-sia uang sebanyak itu lenyap.”
Benar juga apa kata Om Davin. Akan hancur harapannya bila uang puluhan juta yang sudah ada di tangan tiba-tiba dirampas orang. Tapi kemudian ia mengelak.
TBC
__ADS_1
klik tombol like di setiap chapternya yak