I am a Virgin

I am a Virgin
88. Extra Part 5b


__ADS_3

Elena kembali duduk ke kursi tunggu. Tak lama ia mendapat panggilan. Ia memasuki ruangan dan mengikuti tes. Sesuai dengan jabatan yang dilamar adalah Administrasi, maka Elena diminta untuk mengetik, mengirim email, mengolah data exel, dan masih banyak lagi lainnya. Tidak heran jika Elena bisa menggunakan laptop, sebab selama ia sudah pindah ke rumah kontrakan, ia kerap ke warnet untuk belajar computer. Bahkan ia mengikuti kursus kilat. Ia juga sudah mendapat sertifikat computer.


Selama dua jam, ia mengikuti tes bersama peserta lainnya. Elena terlihat serius mengerjakan tugasnya. Kerja keras sudah menjadi prinsip dalam diri Elena. Tidak mudah baginya berputus asa, dan memang kata putus asa tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Sudah terlalu banyak perjuangan yang Elena kerahkan untuk meniti kehidupannya yang penuh liku, dan tidak akan mungkin baginya menyerah meski pekerjaannya tidak mudah. Dan tidak ada kata sulit dalam hidupnya, bahkan yang sulit pun menjadi mudah baginya. Termasuk mengikuti tes seperti yang sekarang ia jalani.


Usai mengerjakan tugasnya, Elena keluar ruangan. Ia mengernyit saat berpapasan dengan Revan. Langkah Elena terhenti, begitu juga dengan Revan. Keduanya bersitatap.


“Apa yang kamu lakukan di ruangan itu?” Tanya Revan.


“Aku mengikuti tes.”


Revan mengernyit. “Bukankah arga sudah kusuruh untuk membawamu menemui personalia? Kamu nggak perlu mengikuti tes.”


“Maaf, Van. Arga tadi memang udah bawa aku ke tempat personalia, dia udah mengerjakan tugasnya dengan baik. Tapi aku balik lagi ke sini. Aku ingin ikut tes, aku ingin menguji potensiku. Kamu marah ya?”


Revan diam saja.


“Kamu marah? Ya udah, kalau marah ya silahkan. Aku nggak melarang.” Elena menatap Revan sinis.

__ADS_1


“Loh, kok malah jadi kamu yang marah?”


“Habisnya kamu ditanyain malah diem aja.”


Revan tersenyum. “Aku lupa dengan siapa aku sedang bicara. Seharusnya sejak awal aku sudah suruh kamu ikuti prosedur perusahaan, aku tahu kamu gadis luar biasa.”


“Kalau aku nggak lulus, aku bisa terima, kok. Jadi jangan malah kamu yang emosi.”


Revan terkekeh. “Kamu memamg nggak berubah. Entah dalam posisi salah atau benar, kamu selalu sewot melulu.” Revan menjepit ujung hidung Elena.


Pandangan mata orang-orang di sana tertuju ke arah Revan dan Elena.


Wajah Revan sontak memerah mendapat tatapan penuh penilaian dari orang-orang di sekitar sana. Ia sampai kebablasan. Sosok Elena memang selalu membuatnya merasa lupa diri.


“Ya sudah, aku ke ruangan,” ucap Revan.


“Tunggu!”

__ADS_1


Revan menaikkan alis. “Apa?”


“Aku harap kamu nggak ikut campur dalam penilaian kelulusan tes milikku. Biarkan aku mendapat nilai sesuai kemampuanku. Biarkan aku tahu setingkat apa potensi dalam diriku!” tegas Elena penuh ancaman.


Revan mengangguk pasrah. Ternyata Elena sudah memprediksi kemungkinan yang akan dia lakukan, terpaksa ia menyetujui. Gadis itu bisa saja menjadi berang jika keinginannya tidak dipenuhi. Revan kenal betul siapa Elena, gadis pekerja keras yang emosinya mudah naik, namun hatinya baik. Sangat baik. Sifat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Revan.


“Aku pulang,” ucap Elena.


“Selamat menanti hasil tes. Semoga lulus! Aku akan merayakannya jika kamu benar-benar berhasil lolos.”


“O ya? Es krim cokelat ya!”


Revan mengangguk.


Elena tersenyum simpul kemudian melenggang pergi. Ucapan Revan menjadi motivasi besar baginya.


***

__ADS_1


__ADS_2