
Elena kaget. Aroma parfum yang tersengat ke dalam rongga pernafasannya membuat jantungnya terasa mau copot. Aroma itu… Elena mengangkat wajah melihat sosok yang berdiri di jarak dua senti dari hadapannya. Tak salah lagi, Om Davin.
Lelaki berperut agak buncit itu menatap Elena sadis. Matanya menyipit dan memerah. Urat di pelipisnya menonjol akibat giginya merekat erat. Tangan kokohnya memegangi lengan Elena kuat, membuat kening Elena terlipat menahan sakit. Elena tidak mau mengaduh, atau merintih. Ia gadis kuat yang tidak pernah manja. Segala kesulitan hidup telah dilaluinya tanpa mengaduh, apa lagi hanya pegangan kuat tangan Om Davin? Ia mampu menahannya.
“Kau belum tau siapa aku,” desis Om Davin menatap galak.
Elena balas menatap tanpa gentar meski sesungguhnya kecemasan sedang melandanya. Cemas memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk mengganti uang milik Om Davin yang hilang.
Hah, lelaki berotak kotor itu marah padanya hanya karena ….
“Kau akan mendekam dalam penjara karena berani bermain-main denganku,” lanjut Om Davin. Kali ini suaranya lebih tinggi.
__ADS_1
Elena kaget. Penjara? Seumur hidupnya tidak pernah terpikir bisa masuk dalam sel beku yang mengerikan itu. Namun Elena berhasil membuat ekspresi wajahnya tidak setakut batinnya, sehingga ia tetap terlihat tenang di mata Om Davin.
“Aku bisa jahat jika aku mau. Bisa saja kugunakan rekaman cctv di hotel itu sebagai bukti bahwa kau mencuri uangku. Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa. Aku merasa dirugikan. Dan kau harus mengganti kerugian yang kuderita. Paham?” Om Davin semakin mempererat pegangannya.
“Mencuri?” Elena melipat dahi kuat. “Gue nggak mencuri. Bukankah kita udah bicarakan hal ini sebelumnya? Kita bahkan udah sepakati sejak awal tentang uang itu. Om akan kasih uang itu buat gue kan? Sesuai perjanjian awal. Tapi kenapa sekarang ngerasa dirugiin? Dengan anceman ini, justru gue yang dirugiin. Om memperalat gue. Setelah kesepakatan itu, sekarang justru Om bilang gue mencuri uang. Ini nggak adil. Lagi pula gue udah niat ngebalikin uang itu, kok.”
“Ooo... Benarkah? Sekarang, mana uangnya?” mata Om Davin melotot. “Kembalikan! Sekarang juga!” Om Davin menyodorkan telapak tangannya.
“Sudah kau pakai?” Om Davin tersenyum remeh. “Sudah kuduga. Lima menit saja uang itu ditanganmu, pasti sudah ludes. Gadis sepertimu tentu sangat membutuhkan uang. Pikirkan saja bagaimana caranya kau ganti kerugianku. Jangan sampai kau tidur di sel.”
Elena terus berusaha menampilkan ekspresi tenang meski hatinya bertanya, bagaimana nasib Salva jika ia tinggalkan? Benar, Om Davin adalah orang kaya. Semua yang Om Davin katakan bisa saja terjadi jika ia mau. Toh, bukti Elena membawa uang itu pastinya terekam jelas di cctv. Tak ada alasan untuknya membela diri. Ancaman Om Davin membuat kecemasan semakin mengiris-iris hatinya.
__ADS_1
“Gue akan ngembaliin uang itu,” seru Elena seketika.
Om Davin tersenyum remeh untuk kedua kalinya. Mengembalikan uang? Puluhan juta? Mustahil. Desisnya dalam hati.
“Dengan cara apa kau mengembalikannya? Melayaniku di ranjang dalam dua kali pertemuan pun nggak akan bisa melunasinya.”
Elena menarik lengan tangannya kuat hingga terlepas dari pegangan tangan kokoh itu. Pergelangan tangannya memerah. Sakit.
“Aku sudah berbaik hati menghargai tiga puluh juta untuk keperawananmu. Bukankah itu merupakan kemurahan hati?” desis Om Davin sengak.
TBC
__ADS_1