I am a Virgin

I am a Virgin
91. Extra Part 7a


__ADS_3

Elena berlari menuju rumahnya. Sepenjang berlari, pikirannya semerawutan. Ia bingung dengan pemandangan yang ia saksikan tadi. Kenapa Revan bisa dipeluk oleh gadis lain? Siapa gadis itu? berulang-ulang pertanyaan yang sama terekam di kepalanya. Elena kesal sekali, hatinya terasa panas membara.


Elena masuk ke rumah dan membanting tubuh ke sofa. Degupan jantungnya sangat kuat dan tidak karuan. Hatinya semakin panas sekarang. Ia tidak tahu apa yang dilakukan Revan terhadap gadis itu saat ini. Mungkinkah gadis itu terus bersandar di lengan Revan di sepanjang perjalanan? Mungkinkah gadis itu menangis lagi di pelukan Revan saat sudah sampai di rumah sakit? Bayangan buruk menari-nari di kepalanya. Begitu banyak dugaan tidak menyenangkan menghantuinya. Dan bayangan itu membuat dada Elena kian sesak.


“Kak, itu peyek untuk Salva?”


Teriakan kecil dari arah pintu kamar membuat wajah Elena menoleh ke sumber suara. Elena mengangguk menatap peyek yang diletakkan di meja.


Salva berlari mendekati meja dan membuka plastik pembungkus peyek. Kemudian ia mengernyit heran menatap wajah Elena.


“Kakak menangis? Ada apa?”


Elena terperanjat. “Hah? Apa? Nangis?” Kedua telapak tangannya buru-buru menyentuh pipi. Astaga, telapak tangannya itu langsung menyentuh buliran air. Jadi, ia sedang menangis? Bagaimana mungkin ia sampai tidak sadar kalau air matanya meleleh membasahi pipi? Hatinya sedang galau tingkat akut sampai akhirnya tangisannya pun tercipta begitu saja bahkan tanpa sepengetahuannya.


“Eh, enggak. Ini kelilipan.” Elena bangkit berdiri kemudian berjalan menuju kamarnya. “Kamu bawa aja semua peyeknya, itu buat Salva semua,” serunya sembari terus berjalan dan tidak lagi terlihat oleh Salva.


Elena memasuki kamarnya dan menghempaskan tubuh ke atas kasur. Ia memeluk bantal guling. Segala pemikiran tentang Revan langsung menyerbu begitu saja ke dalam pikirannya.

__ADS_1


Huh… lelah hayati. Banyak resiko yang harus diterima saat hati telah terpaut pada cinta yang memikat, dirongrong oleh rasa takut kehilangan, diteror oleh kecemasan, dan tersiksa oleh kecemburuan. Apakah itu wajar? Atau Elena sudah berlebihan. Baiklah, Elena berusaha menguasai batinnya agar tetap tenang dan berpikiran positif tentang Revan, emski otak dan hatinya akhirnya menjadi bertentangan.


***


Elena tergugu melihat kalender yang terpajang di dinding. Seharusnya hari itu ia sudah mendapat panggilan dan menjalani proses interview, tapi kenyataannya ia tidak mendapat panggilan dari kantor. Ponselnya sepi dan tidak ada yang menelepon.


Bahkan sudah jam empat sore, tidak ada telepon masuk. Sementara pengumuman kelulusan hanya sampai jam dua belas siang. Fix, Elena tidak lulus. Harapan Elena pupus. Padahal ia sudah merasa yakin kalau ia lulus seleksi. Bukan takabur, tapi percaya diri. Sebab ia sudah mengerjakan semua tes yang menurutnya Sembilan puluh persen benar. Tapi sepertinya keyakinannya salah, mungkin orang lain yang ikut tes dengannya memiliki IQ lebih tinggi darinya, mungkin mereka jauh lebih pintar dari pada dirinya.


Elena tidak tahu harus menjawab apa jika Revan menanyainya nanti. Ia tidak malu untuk mengakui bahwa ia tidak lulus, bukan berarti ia bodoh, hanya saja lawannya jauh lebih pintar dari dirinya.


“Selamat sore!”


“Selamat sore! Benar saya bicara dengan Nona Elena?” Suara asing bernada lembut dan merdu seorang wanita menyahut di seberang.


“Ya, benar. Saya bicara dengan siapa?”


“Kami pegawai dari PT. Sentosa Jaya, memberitahukan bahwa Anda lulus seleksi tes.”

__ADS_1


“Alhamdulillah.” Elena melompat girang. Ia telah berhasil menguji kemampuan dalam dirinya. Ternyata otaknya masih cerdas.


“Besok jam delapan pagi, tepatnya di tanggal dua puluh April Anda diminta utuk hadir ke kantor mengikuti interview.”


“Baik. O ya, maaf saya mau Tanya, katanya pengumumannya ditunggu sampai jam dua belas siang, tapi ini kenapa baru diumumkan sekarang ya?”


“Maaf atas ketidaknyamannannya Nona Elena, ada kekeliruan dari pihak kami. Berhubung nama Elena ada dua, kami telah salah nama, justru Elena yang lain yang sudah kami hubungi. Seharusnya Anda yang pertama kami hubungi sejak tadi pagi. Tapi kesalahpahaman ini sudah kami luruskan.”


“Oke. Terimakasih atas penjelasannya.”


“Sama-sama. Terimakasih atas waktunya. Selamat sore.”


“Sore.”


Elena memeluk ponselnya. Ia tidak tahu harus membagi kebahagiaan pada siapa. Salva sedang mengaji di rumah pak ustadz tak jauh dari rumah itu. Ia juga tidak mau menelepon revan karena hatinya masih tidak nyaman untuk membuka cerita pada pria itu. Bahkan sampai detik ini Revan belum juga meneleponnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara pria itu dengan gadis yang memeluknya kemarin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2