
Tangan kanan Elena merogoh saku celana. Detik berikutnya matanya melirik tangan kirinya yang tidak memegang apapun. Keningnya mengernyit. Tas kecil berisi uang tiga puluh juta tidak ada di tangannya. Kegugupan mendadak menyergapnya. Lalu ia masuk ke kamar Salva dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia ingat, sejak tadi ia tidak kemana-mana, hanya duduk di dekat Salva. Tapi tas itu tidak ada di sana.
Andai saja ia sedang tidak di rumah sakit, mulutnya pasti sudah terbuka lebar dan berteriak histeris meluapkan kepanikan. Ia berbalik untuk segera membaritahukan pada Revan. Tapi belum sempat melangkah, Revan sudah berdiri di belakangnya hingga membuat Elena menabrak dada bidang Revan.
“Ya Tuhan, Revan. Uangnya hilang,” pekik Elena histeris.
“Uang apa?” tanya Revan sambil memegangi batang hidung dengan gigi meringis. Kening Elena telah menghantam batang hidungnya dengan kuat. Tapi sayangnya Elena terlalu sibuk mengurusi uangnya, terlalu fokus dengan kepanikannya sampai-sampai tidak menyadari hidung Revan memerah akibat ulahnya.
“Uang dari Om Davin. Gimana caranya gue bisa ngebalikin uang itu?” Wajah Elena memerah dibalut kecemasan. Habislah dia. Habislah…
Revan tetap tenang. Wajahnya tanpa ekspresi. Rileks menatap kepanikan Elena. Ia sadar jumlah uang yang hilang baginya tidaklah banyak. Isi rekeningnya memiliki jumlah berkali lipat dari jumlah itu. Akan mudah baginya mendapatkan uang itu. Elena tak perlu merasa panik untuk mengembalikannya. Tapi ia tidak bisa menenangkan Elena dengan kalimat itu. Sekarang belum saatnya Elena tahu siapa dirinya yang sebenanrnya.
__ADS_1
Elena berusaha mengingat-ingat kemana terakhir kali meletakkan tas kecil itu. Telapak tangannya menepuk kening saat mengingat sesuatu. Di angkot. Uang itu tertinggal di angkot. Elena dan Revan pergi ke rumah sakit dengan menaiki angkot. Kemudian Revan menggandeng tangan Elena menuruni angkot, Elena berjalan melenggang melupakan tas kecil yang terakhir kali ia letakkan di jok sisinya duduk. Bagaimana ia bisa ingat dengan tas itu? Kesehariannya terbiasa dengan tangan kosong. Turun dari angkotpun seingatnya tangannya tidak membawa apa-apa.
“Ya ampuuuun… Gawat. Ini gawat. Revan, gue mesti nyari uang itu. Kalo gue nggak ngebalikin uangnya, maka itu akan menjadi hutang di seumur hidup gue.” Elena berlari keluar kamar. Kemudian kembali masuk lagi. Ia mendekati Salva yang terdiam memperhatikan Revan yang masih mengelus batang hidung.
“Salva sayang, tunggulah di sini. Kakak ada perlu. Kak Revan akan ngejagain Salva.” Elena mengecup kening adiknya.
Salva mengangguk patuh.
“Kenapa?” seru Elena sambil berusaha menghempaskan tangan agar terlepas dari pegangan Revan. Terburu-buru.
“Elena, mau kemana?”
__ADS_1
“Nyari duit itu.”
“Kemana?” Revan tidak yakin Elena akan menemukan uang itu. Yang hilang adalah uang, bukan batu. Di jalanan banyak batu berserak, tidak akan ada orang yang berminat memungut. Tapi uang? Akankah orang tidak tergiur bila menemukannya? Apalagi jumlahnya bukanlah seribu atau dua ribu perak, tapi puluhan juta. Oke, mudah-mudahan masih ada orang jujur. Tipis kemungkinan Elena akan kembali menemukan uangnya.
“Ke terminal angkot. Gue mau cari supirnya, siapa tau uang itu masih rejeki gue,” jawab Elena penuh harapan.
Rejeki? Revan mengernyitkan dahi. Adakah rejeki yang didapatkan dari menjual diri? Rasanya itu bukan rejeki. Justru malapetaka.
TBC
KLIK LIKE PLIS
__ADS_1