
Sejak kehadiran Boy, kehidupan Elena berubah seratus delapan puluh derajat. Segala kesulitan menjadi mudah. Jika dulu Elena selalu kesulitan mencari kayu bakar untuk memasak, kini Boy yang mencarikan kayu bakar. Setumpuk kayu bakar tersusun di samping rumah. Mungkin akan cukup untuk memasak selama satu minggu. Di atasnya ditutup terpal bekas agar tidak tersiram air hujan.
Boy membagi ruangan kecil itu menjadi dua bagian. Selebar satu meter khusus untuk tempat tidur Elena dan Salva, sehingga ketika malam-malam tiba, mereka yang perempuan tidur terpisah dengan yang laki-laki.
Dapur telah berubah. Kepulan asap yang biasanya berputar-putar di ruangan, kini tidak dirasakan lagi. Boy memindah dapur ke luar. Entah dari mana ia mendapatkan lembaran-lembaran kepingan papan hingga bisa dimanfaatkankan untuk menambah dapur. Yang jelas, setiap pagi ia keluar rumah, dan pulang ketika sore hari. Selalu membawa hasil. Tak pernah pulang dengan tangan kosong. Hanya saja, kemanapun pergi, dia selalu minta ditemani Elena. “Takut nyasar,” begitu katanya.
Boy juga berhasil membuat Salva memiliki lemari baju dan rak buku. Papan-papan pendek telah disulapnya menjadi lemari yang menempel di dinding. Buku-buku Salva tidak lagi mengisi kardus, kini tersusun di rak papan bertingkat. Gelas dan piring juga sudah tersusun di rak bertingkat. Kuali, panci dan alat-alat dapur tersusun di gantungan paku.
Dan yang lebih menyenangkan, ruangan kecil itu tidak pernah bocor lagi ketika hujan deras mengguyur. Boy telah memperbaiki atap yang bocor. Dia banyak akal, kreatif dan penuh dengan senda gurau sehingga rumah reot itu selalu terdengar suara tawa yang tidak pernah putus.
__ADS_1
***
Malam mengganti senja. Gelap membungkus kota.
Boy dan Salva sedang mengobrol, ditemani pelita kecil yang hanya mampu memberi penerangan remang-remang. Keduanya asik bercerita yang kemudian berujung dengan senda gurau. Jika sudah begitu, sering kali Salva tidak mau disuruh tidur karena masih ingin bermain dengan teman barunya. Mereka benar-benar sangat cocok.
“Salvaaa...! Jam berapa ini?” jerit Elena membuat Salva langsung menoleh ke arah kakaknya yang berdiri di pintu.
Elena menyusul masuk ke tempat tidur dan menutup separuh tubuh Salva dengan sehelai kain tipis yang biasa untuk selimut. Bocah cilik itu pun lelap.
__ADS_1
Setelah itu Elena keluar melewati ruangan dimana Boy tengah terbaring. Elena duduk di depan rumah beralaskan papan kecil agar celananya tidak kotor. Pandangannya mengedar ke atas, pada bintang yang bertabur rata memenuhi langit. Hanya itu yang menjadi hiburan di setiap malam-malamnya. Rasanya sudah seperti menonton bioskop. Setiap titik bintang memiliki daya tarik tersendiri baginya. Tak pernah bosan ia memandang.
Elena tersentak kaget saat menyadari sosok lelaki sudah duduk manis di sisinya. Lelaki berwajah tampan itu tersenyum sembari menaikkan alis.
To be continued
Author Note : jangan lupa baca karyaku berjudul PCARKU DOSEN, kalian bakalan ketawa ngakak, baper, dan menemukan banyak pengalaman di sana. Itu cerita yang paling kuandalkan dan menguras energy banget.
So, jangan sampe ketinggalan baca.
__ADS_1
Love,
Emma Shu