
Dulu, Revan sering mengantar Bik Nur ke pasar untuk berbelanja. Ia ikut berkeliling pasar menemani Bik Nur. Ia ingat penjual ikan berbadan pendek yang sering berteriak mempromosikan harga ikan. Ia ingat penjual sayur bermata besar yang murah senyum, sering memanggil karena langganan Bik Nur.
Bukankah Revan orang kaya? Pasar bukanlah tempat yang tepat untuknya? Tapi tidak. Ia menganggap semua tempat sama. Bukan berarti orang kaya tidak pantas blusukan ke pasar yang becek dan kotor. Toh, nyatanya ia menyukai hal-hal baru yang dianggapnya unik. Salah satunya pasar.
Begitu ia bertemu Bik Nur di pasar tempo hari, ingatannya benar-benar bertambah tajam. Wajah Bik Nur melekat dalam pelupuk mata. Wajahnya, suaranya, tatapannya, cara bicaranya sangat familier. Revan tidak butuh waktu lama untuk mengingatnya. Wajah tua itu adalah orang yang sering menyeka keringat di wajahnya ketika kecil. Orang yang setia menjaganya siang dan malam. Pembantu sekaligus pengasuhnya. Kasih sayangnya tulus. Seperti mentari yang tak pernah jera menyinari dunia. Melebihi orang tua kandungnya sendiri. Bik Nur bahkan terlihat menangis bila ia sedang sakit.
__ADS_1
Revan tidak mau diasuh babi sister dari yayasan. Ia terlanjur menyukai Bik Nur. Ia tidak mau ada tangan lain yang menyeka keringat di wajahnya selain Bik Nur. Kedua orang tuanya sibuk dengan perusahaan yang dikelola sehingga Revan lebih dekat dengan Bik Nur dibanding dengan orang tuanya sendiri.
Sesungguhnya ingatannya tentang Bik Nur spontan terkilas balik dalam pikirannya begitu ia menatap wajah Bik Nur di pasar. Begitu Bik Nur memanggilnya dan menyebut namanya. Tapi…. Revan lebih memilih kabur. Menjauh dari Bik Nur. Saat itu ia belum siap kembali ke rumah megahnya. Ia belum siap diajak Bik Nur pulang. Jauh sudah hatinya terjun di kehidupan Elena. Butuh waktu untuk memahami keadaan dan meninggalkan masa indah bersama Elena.
Ia masih ingin menyelami cinta. Masih ingin terus bersama Elena. Masih ingin terus menatap wajah Elena. Bukan hanya sejam dua jam, tapi setiap hari. Bahkan setiap detik bila perlu. Ah, cinta memang sulit diartikan dengan kata-kata. Perasaan sayang itu datang begitu saja tanpa alasan. Hatinya terpaut pada Elena seorang.
__ADS_1
Revan tidak ingin gadis yang amat dicintainya itu kecewa dengan kenyataan yang baru. Biarlah keadaannya begini dulu. Ia menikmati keadaan itu.
Bagi Revan, memiliki harta berlimpah dan kekayaan yang tak terhitung adalah hal biasa. Tapi mencintai Elena, itu lebih dari segalanya. Kebahagiaannya melebihi dari sekedar menjadi orang terpandang. Hidupnya jauh lebih terasa sempurna. Jadi jangan bertanya kenapa Revan lebih memilih hidup di gubuk reot ketimbang pulang ke rumah mewah. Hatinya telah terpaut pada seorang gadis, pautan itu begitu kuat dan mengantarkannya pada kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Yang tidak ia dapatkan dari apapun.
Bik Nur mengguncang bahu Revan ketika tak satupun pertanyaannya yang dijawab. Revan terlihat bingung. Bik Nur baru saja pulang ke rumah untuk melakukan beberapa pekerjaan sehari-hari. Kemudian kembali lagi ke rumah sakit setelah pekerjaan rumah selesai.
__ADS_1
“Mas, apa gadis yang di dalam tadi itu Elena? Itukah kakaknya Salva?” selidik Bik Nur penasaran.
TBC