I am a Virgin

I am a Virgin
84. Extra Part 3.a


__ADS_3

Elena mengusap pucuk kepala Salva dengan seulas senyum lebar saat langkahnya sampai di depan gerbang sekolah.


“Besok Salva nggak usah dianterin lagi ya, Kak. Salva bisa pergi ke sekolah sendiri,” ucap Salva dengan paras ceria. Ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah baru setelah kemarin Elena mendaftarkannya. Semangatnya tampak berapi-api.


“Iya, sekolah Salva kan deket sama kontrakan. Kamu yang semangat, ya. rajin belajar!” pesan Elena.


“Siap, Kak. Kalau Kak Revan dateng ke rumah, sampaikan ucapan I Love You untuknya ya, Kak.”


“Oke.” Elena dan Salva ber-tos ria.


Salva berlari memasuki halaman sekolah, kedua rambutnya yang diikat dua bergoyang seiring gerakan tubuhnya.


Elena balik badan kemudian berjalan menuju ke kontrakan. Sesampainya di kontrakan, ia melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah. Sosok pria berdiri nyender di sisi mobil, siapa lagi kalau bukan Revan.


Pria itu melepas kaca mata hitam dari matanya lalu menyangkutkannya ke kancing kemejanya. Ia tersenyum menatap kedatangan Elena.


“Gimana hari ini?” tanya Revan.


“Fine. Semuanya baik-baik aja.” Elena tersenyum manis, membat Revan terpaku untuk sejenak menatap senyuman yang selalu ia rindukan itu.


“Salva?”


“Udah berangkat sekolah.”


“Ooh...”

__ADS_1


“O ya, gue mau ke dalam untuk siap-siap menyusun soto ke gerobak. Hari ini gue harus keliling berjualan soto.” Elena melirik gerobak yang ia onggokkan di samping rumah.


“Mm... Elena, sebelum lo pergi, boleh nggak gue sarapan di rumah lo.”


Elena mengangkat alis, heran.


“Gue kangen soto elo. Boleh kan gue makan soto sekarang? Gratis, ya!”


Elena terkekeh seketika. Sosok Revan yang kesehariannya disuguhi makanan lezat di meja makan, kini hadir di hadapannya meminta makanan sederhana, soto. “Ya udah, ayo masuk biar gue siapin. Tapi lo makan aja sendirian ya. gue mesti siap-siap buat dagang.” Elena melenggang memasuki rumah.


Revan mengikuti hingga sampai ke ruang makan. Revan duduk di salah satu kursi meja makan menunggu hingga Elena muncil dari arah dapur membawa semangkuk soto yang amsih panas.


“Lo masak sendirian?” tanya Revan menatap soto yang sudah disajikan di hadapannya.


“Iya.” Elena mengambil sendok dan garpu lalu meletakkannya ke mangkuk soto.


“Lo pasti repot kan ngelakuin ini semua sendirian?” Revan mulai mengunyah sotonya.


“Enggak. Udah biasa. Ya udah gue tinggal dulu ya.” Elena melangkah untuk meninggalkan Revan namun Revan menahan tangannya.


“Tungguin gue!”


Elena menatap pergelangan tangannya yang dipegang oleh Revan. Kemudian pandangannya beralih ke mata pria itu. “Ini udah siang, Van. Gue mesti berkemas.”


“Lo nggak usah mengerjakan pekerjaan itu lagi.”

__ADS_1


“Lah, trus gue makan pake apa kalo gue nggak kerja? nungguin duit jatoh dari langit?” semprot Elena membuat Revan mengulumm senyum. Kegalakan Elena tidak juga hilang meski ia sudah pindah rumah sekarang.


“Sini duduk!” Revan menarik tangan Elena hingga tubuh gadis itu terhempas duduk ke kursi sisinya akibat tarikan tangannya. “Gue ingin lo kerja di perusahaan papa gue. Juga tempat dimana gue kerja.”


Elena terbelalak kaget.


“Gue serius, Elena. Jangan ngeliatin gue kayak gitu.”


“Tapi...” Elena menggeleng-gelengkan kepala tak yakin.


“Tapi apa?”


“Gue kan Cuma punya ijazah SMA doang.”


“Perusahaan yang gue tawarin ke lo ini adalah perusahaan punya bokap gue. Gue bisa tempatkan lo dimana aja sesuai yang gue mau.”


“Oya? Serius? Gue mau bnaget. Mau mau, Van.”


Revan tersneyum senang melihat kegirangan Elena.


“Dan soal kuliah lo, gue akan biayain, oke? Lo bisa bekerja sambil kuliah,” lanjut Revan.


Elena malah terdiam. Kemudian ia berkata, “Soal kerjaan, gue mau banget, Van. Tapi soal kuliah, maaf gue nggak bisa menerima tawaran lo. Gue akan kuliah kalo gue udah dapet gaji dan gue akan biayain kuliah gue dengan hasil jerih payah gue sendiri. Jangan bikin gue terlalu bergantung sama lo. Udah cukup semua yang lo kasih ke gue.”


Revan termenung menatap Elena , namun kemudian ia mengangguk.

__ADS_1


TBC


__ADS_2