
Elena memejamkan mata sebentar. Ia menyesal tidak mengetahui sakit adiknya lebih awal. Ia bahkan tidak akan tahu bahwa Salva mengidap sakit amandel bila demamnya tidak separah ini. Satu hal yang mengagumkan baginya, Salva begitu kuat, sudah sampai selama ini Salva menahan sakit tanpa pernah mengadu. Akibat amandel yang telah meradang, Salva terjangkit demam dan muntah-muntah.
Salva tidak tau penyakit yang dideritanya. Setahunya, yang namanya penyakit pasti hanya akan membuat kakaknya menderita karena kesusahan mencari uang untuknya berobat. Tapi dia tak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu justru membuat sakitnya semakin parah dan membuat Elena lebih repot mengurusinya. Anak sekecil itu sudah mengerti dengan perasaan. Mengerti dengan rasa tak tega. Mengerti dengan arti kasihan. Seandainya ia jujur dari awal, tentu Elena akan mencegahnya memakan makanan yang menjadi pantangan dan keadaan tidak adan separah ini. Tapi ya sudahlah, semua sudah terjadi.
“Salva, apapun yang terjadi, Salva harus ngomong sama kakak,” lirih Elena sambil mengelus kepala Salva. “Orang amandel itu nggak boleh makan cabe, nggak boleh makan gorengan, penyedap rasa. Tapi Salva makan itu semua. Dan akhirnya justru membuat sakit Salva jadi bertambah parah.”
Salva mengangguk. Kini dia sadar akibat ketidakjujurannya justru membuat keadaan menjadi tambah rumit. Sesungguhnya ia hanya ingin Elena tidak mencemaskannya.
Operasi amandel memang operasi kecil, tapi biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Elena berjanji untuk dapat segera melakukan operasi itu, agar Salva sembuh dari sakitnya. Tapi ia bingung, dari mana ia bisa mencari sejumlah uang seperti yang disebutkan bidan berjilbab. Biayanya besar, seorang Elena tentu akan kesulitan mencarinya. Dalam setahun, belum tentu dia bisa mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk biaya operasi.
“Kamu kakak laki-laki Salva?” tanya bidan berjilbab menunjuk Revan.
__ADS_1
“Mm.. I iya…” jawab Revan antara gugup dan bingung. Apa arti keberadaannya di tengah-tengah Elena dan Salva? Kakak laki-laki?
“Oo…”
“Makasih udah nungguin Salva.”
“Udah jadi tanggung jawabku. Siapa namamu?” bidan itu ramah.
“Boy.”
“Mana yang bener ni? Boy? Atau Revan?”
__ADS_1
“Revan,” sahut Elena cepat hingga Revan tidak punya kesempatan menjawab.
“Saya Aini. O ya, kalau ada apa-apa, panggil aja saya.” Aini berlalu keluar membawa piring yang isinya telah habis. Ia berhenti dan melontar senyum ke arah Revan ketika berada di ambang pintu. Senyuman dan tatapan yang ditujukan ke Revan jelas tertanam kekaguman.
Hati Elena berdenyut melihatnya. Ada rasa yang menggelinjang dalam dadanya. Rasa tak rela. Rasa panas yang membuat jantung tidak nyaman. Atau apalah. Tapi ia berusaha membuang jauh perasaan aneh yang baru kali pertama dirasakannya. Perasaan apa itu? Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang dirasakan. Yang jelas, ia kesal dengan apa yang dilihat.
***
Sudah tiga hari Salva dirawat di klinik. Elena dan Revan silih berganti menunggunya. Ketika Elena sedang berkeliling mendorong gerobak soto, Revan bertugas menjaga Salva. Ketika Revan mencari kayu bakar, Elenalah yang menunggu Salva.
Sore ini, Elena mendorong gerobak yang isinya hanya tinggal sedikit. Tuhan mempermudah jalan rejekinya dalam mencari nafkah. Tapi ditengah kelancaran usahanya mencari lembaran rupiah, sempat terbesit di kepala Elena bahwa tenaganya sedang dikuras Tuhan. Hasil kerja kerasnya disetor untuk mengangkat penyakit yang diberikan Tuhan.
__ADS_1
Cepat-cepat Elena mengusir pikiran jahat itu dari otaknya. Bagaimana bisa dia memusuhi zat yang Maha Agung, zat penciptanya sendiri? Ia berusaha menanamkan pikiran bahwa Tuhan baik padanya. Tuhan sedang menguji imannya dengan berbagai ujian. Tapi kenapa ujian itu tidak putus? Meski awalnya berniat untuk berpikir positif, tapi pada akhirnya buruk juga yang di pikirkannya. Tetap saja, ia tidak bisa positif thinking. Tidak bisa berpikir baik seperti apa yang diajarkan ibunya.
TBC