I am a Virgin

I am a Virgin
92. Extra Part 7b


__ADS_3

Elena keluar dari ruangan interview dengan wajah cerah. Ia lulus interview dan hari ini ia sudah langsung mendapatkan kursi jabatan sebagai salah satu administrasi di perusahaan itu.


Dengan penampilan rapi, mengenakan pakaian formal dan rambut tergerai rapi, Elena duduk di kursi kerjanya bersama pegawai lainnya yang terlihat sibuk. Tidak butuh waktu lama bagi Elena mamahami pekerjaannya. Otaknya cukup cerdas untuk menangkap segala yang perlu dikerjakan. Mulai dari urusan tulis-menulis, menginput data di laptop, mengetik dan lain sebagainya, selalu ia kerjakan dengan teliti dan cekatan. Dedikasinya sangat baik dan bahkan ia mendapat pujian dari atasan atas kinerjanya yang patut diacungi jempol.


Pukul empat sore, Elena pulang dengan naik taksi online. Ia turun dari taksi dan mengernyit saat melihat sebuah mobil mewah terparkir manis di depan rumahnya. Ia kenal sekali degan mobil itu, milik Revan. Pria itu berdiri menyandar di badan mobil.


Revan berjalan mendekati Elena. Dengan senyum lebar dan pandangan takjub, ia menatap Elena gemas. “Aku seperti melihat Elena yang baru. Kamu benar-benar seperti wanita karier sekarang.” Ia menatap penampilan Elena yang anggun dan terlihat formal.


Elena diam saja. Wajah Revan mengingatkannya dengan gadis yang tempo hari memeluknya.


“Van, siap cewek kemarin?” tanya Elena tanpa memperdulikan ucapan Revan tadi.


Revan menarik nafas dalam-dalam. Belum sempat mereka bercengkrama membahas tentang hari pertama Elena bekerja, sudah muncul pertanyaan yang menimbulkan dinding pembatas diantara mereka.


“Namanya Dinda. Dia …” Revan berhenti bicara. Ia takut Elena akan marah atau bahkan meninggalkannya begitu saja setelah tahu apa yangs benearnya terjadi. Tapi sepertinya ia tidak lagi bisa menunda waktu, akan lebih buruk lagi kejadian yang mungkin bisa terjadi jika ia tidak lekas menjelaskan. Ia tahu betul sifat Elena yang keras kepala dan mudah marah. “Aku mencintaimu, Elena. Hanya kamu wanita yang ada di hatiku. Hanya kamu satu-satunya orang yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku. Aku sangat ingin hidup berumah tangga bersamamu.”


“Aku minta penjelasan tentang Dinda, bukan tentang kita.” Wajah Elena tampak tegang menanti penjelasan Revan.


Revan mengesah. Manik matanya berputar penuh kebimbangan. Elena sangat menanti kejujurannya. Tapi revan merasa perlu mengutarakan tentang cintanya yang begitu besar terhadap Elena sebelum ia menjelaskan tentang Dinda agar Elena tidak berkecil hati.


“Semenjak kita hidup satu atap, dan aku mengenalmu lebih dekat, perasaanku ke kamu mengalir begitu saja. Dia hadir dan aku nggak bisa mengelaknya,” lanjut revan. “Sampai saat ini rasa itu nggak berubah. Aku tetap mencintaimu meski kita nggak lagi bisa bersama-sama seperti dulu. Tapi di sisi lain aku melupakan satu hal, ada wanita lain yang ternyata telah menjadi tunanganku. Mami menjelaskan semua itu saat ingatanku belum sempurna pulih. Dan sekarang aku benar-benar telah ingat, bahwa Dinda memang tunanganku.”

__ADS_1


Ekspresi wajah Elena mendadak berubah. Seperti ada darah segar menyembur ke permukaan kulit wajahnya hingga pipi putihnya memerah. Hati Elena terasa mencelos, sedih, dan merasa tersisih.


“Jadi dia tunanganmu?”


“Aku bahkan baru yakin kalau aku benar-benar memiliki tunangan saat ingatanku sudah sempurna pulih.”


Elena tidak sanggup berbicara apa-apa lagi. Lidahnya terasa kaku dan kelu. Kenapa perasaanya menjadi kacau sekarang?


“Tapi Elena, keadaan ini nggak mengubah apapun dari dalam perasaanku. Aku tetap mencintaimu. Dan harapanku tetap sama, aku ingin menikah denganmu.”


“Meski ada Dinda sebagai tunanganmu begini?”


“Perasaanku yang bicara, dan itu nggak bisa diubah dengan akal.”


Revan terdiam. Ya, bagaimana dengan Dinda? Revan juga tidak tahu. Ia hanya berharap Dinda akan memahami situasi hatinya. Tapi apakah ia tidak terlihat seperti seorang pria egois jika meminta Dinda untuk memahami perasaannya yang ingin menikahi wanita lain? Sungguh egois!


“Ini terlalu sulit, Van.”


“Demi perasaan yang saling cinta, kenapa kita tidak mempertahankannya? Dinda adalah gadis baik, dia pasti akan bisa memahami semua ini.”


“Jangan menggampangkan perasaan orang baik.”

__ADS_1


“Lalu aku harus bagaimana? Aku Cuma sayang sama kamu.”


“Pikirkan baik-baik masalah ini, jangan sampai kamu menyesal jika salah mengambil keputusan.” Elena merasa takut kehilangan Revan. Ia ingin harapannya untuk dapat hidup berumah tangga dengan Revan akan terwujud. Satu-satunya pria yang dia cintai hanyalah revan, kemana lagi ia akan mencari pengganti Revan jika pria itu pergi untuk wanita lain?


“Aku nggak akan pernah merasa salah mengambil keputusan. Aku yakin dengan perasaanku.”


“Tapi aku nggak yakin. Kamu pernah bertunangan dengan Dinda, berarti dia pernah mengisi hatimu. Kamu pernah emncintai dia bukan?”


“Itu dulu.”


“Revan, selesaikanlah masalahmu dengan Dinda. Jangan temui aku jika maslaahmu belum selesai.” Elena melenggang melewati Revan kemudian masuk ke rumah dan menutup pintu.


Revan mengikuti Elena dan berdiri di teras, menatap pintu yang tertutup.


“Elena, aku akan menyelesaikan urusanku dengan Dinda, tapi berfjanjilah untuk tetap menungguku.”


“Pergilah!” lirih Elena dengan perasaan was-was. Takut Revan akan berpaling darinya dan cinta pria itu kembali tumbuh untuk dinda. Harapannya yang telah terpupuk untuk Revan begitu tinggi.


“Baik, aku pergi. Aku mencintaimu.”


Elena mengintip dari jendela. Revan tampak masuk ke mobil dan meninggalkan rumah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2