
“Elena, udahlah. Lupain. Lupain uang itu,” tutur Revan.
“Apa?” Elena melotot. Uang berjumlah besar hilang dan Revan bersikap biasa-biasa saja, tak ada ekspresi panik. Dan sekarang malah memintanya untuk melupakan. Revan benar-benar telah membuatnya naik darah. Elena tetap harus mengembalikan uang itu. Harus. “Lo pikir yang ilang itu kertas? Itu duit, Revan. Duit. Jumlahnya gede banget. Kemana gue bisa nyari gantinya? Saat ini gue hanya berharap keberuntungan. Itu aja.”
Akhirnya hati Revan terenyuh melihat kepanikan gadis yang amat disayanginya itu.
“Oke, oke. Gue ngerti dengan kepanikan lo. Pergilah cari uang itu, tapi gue mesti ikut. Gue mesti nememin lo.” Lembut suara Revan menenangkan.
Elena terpaku. Tatapannya yang tajam berubah teduh seketika. Suara lembut Revan membuat hatinya basah. Lagi-lagi ia merasa bersalah telah membentak lelaki penyayang itu. Lelaki yang telah banyak berjasa di kehidupannya.
“Revan, Salva lebih ngebutuhin lo. Kalo lo ikut gue, siapa yang ngejagain dia? Gimana kalo dia ngebutuhin sesuatu? Siapa yang akan ngambilin minum ketika dia pengen minum?” lembut suara Elena mengisi kesunyian lorong rumah sakit.
“Di sini ada suster. Percayalah, mereka akan ngejagain Salva. Tapi di luar sana, nggak ada yang bakalan ngejagain lo.”
__ADS_1
Elena tersenyum. Kemudian menjawab, “Baiklah.”
Mereka segera pergi setelah berpamitan pada Salva. Elena berpesan agar Salva memanggil suster apabila memerlukan sesuatu. Salva mengangguk mantap, senyumnya lebar, wajahnya berseri-seri. Ekspresi itu membuat Elena melangkah pergi dengan lega.
***
Elena mendatangi terminal angkutan kota. Di sanalah tempat angkot jurusan yang dinaikinya tadi berlabuh. Revan mengikuti arah langkah gadis itu. Dengan bermandi peluh mereka mengitari seluruh angkot yang terparkir. Kepanikan Elena kembali naik ketika menyadari angkot yang dinaikinya tadi tidak ada di sana.
Terpaksa, mereka menunggu.
Sementara Elena tidak begitu peduli dengan tenggorokannya yang kering. Satu kaleng minumannya belum juga habis. Hanya berkurang seperempat saja. Kepalanya terus melongok ke pintu masuk terminal sambil mondar-mandir.
Revan duduk di kursi. Ia mengamati wajah Elenayang terlihat frustasi. Kecemasan jelas terlihat di wajah gadis itu.
__ADS_1
“Elena, lo bakalan capek kalo mondar-mandir mulu. Duduk sini!” Revan menepuk kursi kosong di sisinya.
Elena tidak menjawab, hanya sekilas menoleh memperlihatkan kecemasan yang luar biasa.
“Elena!” Revan menarik pergelangan tangan gadis itu hingga tubuh gadis itu terhempas duduk di sisinya. Revan menatap lekat-lekat wajah berdebu yang terbasuh keringat itu. Hati Revan begitu iba menatap kecemasan di wajah itu. Ingin sekali Revan mengatakan kalau Elena tidak perlu lagi mencari uang itu dan Revanlah yang akan mencarikan gantinya. Namun harus dari mana ia memulai? Revan belum siap kehilangan Elena jika saja gadis itu membencinya saat tahu asal-usul dirinya.
“Revan, gue berharap banget bisa menemukan uang itu,” ucap Elena dengan raut yang semakin cemas.
“Semoga lo menemukannya. Ini, minumlah!” Revan memberikan sebotol minuman dingin.
“Thanks.” Elena menyambar botol itu lalu memutar tutupnya. “Aduh, susah banget sih ini ngebukanya.”
**TBC
__ADS_1
KLIK LIKE**