
Ya Tuhan, masih banyak sisi kehidupan yang Elena perlu pandang prihatin.
“Ada perlu apa ke Pondok Cermai, Neng?” tanya Bapak tua menyebut alamat perumahan kompleks yang Elena sebutkan. Sambil terengah ia menanyakan hal itu. “Itu kan kompleks orang-orang kaya, Neng? Apa ada yang dikenal di sana?”
Elena sadar, pertanyaan itu diajukan tukang becak karena penasaran, tak mungkin wanita berpakaian kumal sepertinya memiliki saudara di komplek elit itu. Tentu tukang becak member pertanyaan yang tepat, ada perlu apa ia menuju ke perumahan elit itu.
“Ada perlu dikit, nih, Pak.”
“Berarti ada kenalan di sana ya, Neng?” Tukang becak terskesan ingain mengajak ngobrol.
“Enggak, pak. Justru lagi nyari kenalan.” Elena mengulumm senyum. “Udah lama jadi tukang becak ya, Pak?” Elena mengalihkan pembicaraan. Dari pada dirinya terus yang diinterogasi, mendingan balik nanya.
__ADS_1
“Sudah, Neng. Sudah sepuluh tahun lebih. Yaa… beginilah usaha saya untuk mencari nafkah, untuk anak istri. Alhamdulillah, sulung saya lulus kuliah juga.”
Elena tertegun. Kuliah? Betapa bahagianya mereka yang bisa bersekolah sampai ke jenjang itu. Ah, andai saja Elena juga bisa berskolah, pasti sekarang ia sedang duduk di bangku kuliah, menulis, atau membaca sesuatu. Ya Rabb, kenapa Elena berpikir demikian? Maafkan Elena yang sempat merasa ingin seperti mereka. Apakah pantas ia megeluh dan berharap menjadi seperti yang lain? Seharusnya ia bersyukur, sudah banyak karunia yang ia nikmati meski di tengah ujian yang begitu rumit. Nafas. Ya, nafas adalah karunia paling agung dari Yang Maha Kuasa. Dan satu lagi, sehat. Kesehatan adalah yang paling utama. Jika sudah sakit, lumpuhlah segalanya.
Becak berhenti saat Elena memerintahnya. Elena turun setelah membayar.
“Kembaliannya, Neng!” Tukang becak menyodorkan uang kembalian.
“Alhamdulillah. Semoga rejeki buat Neng tambah lancar.” Tukang becak itu memasukkan uang ke saku kantong bajunya yang juga lusuh. “Permisi, Neng!’ Tukang becak berlalu pergi.
Elena mengangguk. Lalu balik badan, melangkah menuju pagar besi setinggi dua setengah meter yang mengelilingi rumah megah. Tangan mungil Elena menyentuh pagar. Pandangannya mengedar kepada rumah megah itu. Ini adalah kedua kalinya ia mendatangi rumah mewah itu. Pertama kalinya datang, ia melihat rumah bak istana itu disinari oleh lampu benderang. Kali ini, ia datang di pagi hari. Tidak ada lagi kelap-kelip lampu yang menyinari, dan keindahan rumah itu terlihat semakin jelas. Mewah, megah, dan memukau mata.
__ADS_1
Seorang satpam berjalan cepat mendekati pintu gerbang saat melihat gadis berpakaian kumal datang. Satpam itu telah mengenal Elena sebelumnya, saat Elena mengembalikan dompet majikannya.
“Ada apa, Elena?” tanya satpam diiringi senyum. “Dompetnya udah saya balikin ke majikan saya, kok.”
“Gue kesini bukan buat nanyain itu,” jawab Elena canggung. Entah bagaimana caranya ia akan mnengutarakan maksudnya.
“Lalu?” tanya satpam. “Apa mau ketemu majikan saya?”
Elena diam sejenak. Berpikir. Memang tujuannya kesana ingin bertemu dengan majikan di rumah megah itu. Nekat. Hanya itu yang membuatnya bisa berdiri di sana. Kedatangannya berbekal harapan bahwa Tuhan bersedia mengetuk pintu hati pemilik rumah megah itu supaya berkenan membantunya. Masih boleh kan Elena meminta pada Tuhan? Dan jika bukan pada Tuhan ia memohon, lalu pada siapa lagi? Satu-satunya tempat memohon hanyalah kepada Tuhan, bukan? Dan Tuhan Maha mengabulkan doa. Elena bergumam dalam hati. Semua ini gara-gara Om Davin.
***
__ADS_1
TBC