I am a Virgin

I am a Virgin
65. Mengenalmu


__ADS_3

Sungguh, mengenal Om Davin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Sebenarnya bukan pertemuan dengan Om Davin yang merupakan kesalahan, tapi keputusannya menemui Om Davinlah yang menjadi sebuah kesalahan. Ah, betapa sulit hidupnya setelah mengenal Om Davin.


“Kalau diijinin, gue pengen banget ketemu majikan lo,” jawab Elena setelah berpikir ebberapa detik.


“Baiklah. Ayo, masuk!” ajak satpam.


Elena tak menyangka satpam itu bersikap manis, berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkan di awal pertemuan. Elena mengikuti satpam memasuki pintu gerbang.


“Tunggu sini aja dulu, ya. Biar kusampein,” ujar satpam.


Elena mengangguk. Menunggu di halaman, di depan pos dekat pintu gerbang yang biasa ditunggui satpam.

__ADS_1


Satpam berlari memasuki rumah megah melalui pintu besar bagian depan.


Elena menarik nafas dalam. Meski terbesit rasa pesimis, tidak mungkin orang kaya itu akan bersedia membantunya, namun ia menunggu dengan sebongkah harapan. Semoga usahanya membuahkan hasil. Kepercayaannya terhadap orang kaya sempat tumbuh ketika bertemu tante Vira yang memiliki pandangan teduh terhadap gadis melarat sepertinya.


Dan dengan sangat sulit, ia mencoba berdamai dengan hati yang selalu muak terhadap orang kaya saat melangkah ke rumah itu. Jika setelah ini ia tidak mendapatkan hati yang baik dari orang yang akan ditemuinya, mungkin ia harus melapangkan dada selebar-lebarnya. Karena memang benar apa kata Revan, tidak bisa menyama ratakan hati mereka yang kaya, atau hati mereka yang miskin. Karena hati manusia itu berbeda-beda. Pelan hatinya mulai terbuka untuk mengakui, kaya atau miskin, memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan.


Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam pemikirannya, hanya segelintir orang kaya saja yang bisa mengerti dengan artinya dermawan.


Beberapa menit berlalu. Elena mondar-mandir. Perasaan gelisah mulai menyerang. Bola matanya terus mengamati pintu rumah mewah. Tak ada tanda-tanda si pemilik rumah akan keluar.


Jika uang itu tidak ia dapatkan, maka ia akan mendekam dalam sel sempit yang mengerikan. Nafasnya terhela panjang.

__ADS_1


Jantung Elena berdegup keras saat melihat ibu muda berjalan anggun keluar dari pintu lebar. Rambutnya yang berpilin-pilin tampak indah. Ia mengenakan dress mewah selutut. Sepatu high heels menghias kakinya yang jenjang. Semakin mendekat, wajah ibu muda itu terlihat semakin jelas.


Elena mengucek mata. Memperjelas pandangan. Penglihatannya tidak salah, yang sedang ia lihat itu adalah Tante Vira. Dia bukan ibu muda. Tapi perempuan paruh baya yang tetap terlihat cantik dan muda. Ya, wajahnya jauh lebih muda dibanding usianya.


Ah ya, Elena baru ingat, pemilik dompet itu bernama Dona Savira. Jika saja ia memperhatikan foto yang terpajang di KTP dengan teliti, tentu ia sudah mengenal pemilik rumah megah itu sejak awal.


Dunia terasa amat sempit. Jutaan manusia yang menyumbat kota Jakarta, tapi pada Tante Vira juga ia dipertemukan.


“Selamat pagi, Elena!” sapa Tante Vira dengan uraian senyum cerah.


“Pagi, Tante,” balas Elena. Harapannya mendapatkan bantuan, tumbuh begitu saja saat melihat senyuman manis di wajah Tante Vira. Sejak awal, wanita itu memang ramah, tidak memiliki pandangan culas seperti yang lain. Tante Vira tetap menampilkan senyum terhadapnya yang berpenampilan compang-camping.

__ADS_1


TBC


KLIK LIKE YAP


__ADS_2