I am a Virgin

I am a Virgin
82. Extra Part 2.c


__ADS_3

“Revan, apa kamu ingat hari pertunangan kita? Dimana kamu menyematkan cincin ini ke jariku dan disaksikan oleh kedua orang tuamu, juga kedua orang tuaku. Disaksikan oleh banyak orang.” Dinda meraih ponselnya di meja, kemudian ia menunjukkan foto-foto dimana Revan mengenakan jas hitam dan Dinda mengenakan gaun putih, Revan menyematkan cincin ke jari manis Dinda, keduanya slaing tatap dan tersenyum satu sama lain, tatapan dari keduanya menunjukkan saling cinta. Foto lain menunjukkan Revan tengah tertawa lepas memeluk Dinda. Masih banyak foto-foto lainnya yang menunjukkan betapa hubungan Revan dan Dinda sudah sangat jauh. Hubungan dua keluarga besar telah terjalin, dan Revan tidak bisa mengambil tindakan sepihak.


Revan menatap mata Dinda, mata yang berair itu menunjukkan harapan yang sangat tinggi.


“Maaf, Dinda. Aku masih belum bisa mengingat semuanya,” bisik Revan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan Dinda. “Beri aku waktu. Bahkan sekarang aku juga lupa seperti apa perasaanku terhadapmu.”


Dinda terlihat kecewa. Gadis itu melepas nafas berat lalu menggigit bibir bawah.


“Dinda, ini nggak mudah buatku. Aku belum bisa menjalani semuanya denganmu selama ingatanku tentangmu belum pulih. Aku bahkan merasa asing padamu. Maaf, ini bukan kemauanku. Kamu bersabar, ya!”


Dinda mengangguk. Tampak sekali ia gadis yang baik. “Aku akan bersabar demi hubungan kita. Aku yakin kamu pasti akan mengingatku, kamu nggak mungkin melupakan kenangan kita. Kita udah memiliki misi yang sama, hidup dan mati dalam ikatan pernikahan.”


Perkataan Dinda kian membuat Revan gusar. “Apa kita sudah pernah menentukan hari pernikahan?”


“Sudah. Tapi batal karena kamu menghilang.”


“Sekali lagi, aku butuh waktu untuk hubungan kita, tolong bersabar.”

__ADS_1


“Sampai kapanpun aku akan tetap bersabar, demi lelaki yang sangat kucintai. Aku memiliki harapan besar padamu, sama seperti yang pernah kita janjikan bersama.”


Revan tercekat. Kali ini ia harus bicara apa? Bahkan ini berangsur-angsur ingatan tentang Dinda bermunculan di kepala Revan. Ia ingat bagaimana ia memperlakukan Dinda, gadis itu diperlakukan bak ratu. Tapi itu dulu, sekarang perasaan itu entah kenapa bisa hilang.


“Dinda, pulanglah dulu! Ini udah hampir maghrib. Nggak baik cewek sendirian di jalan di waktu maghrib begini.”


Dinda tersenyum dan mengangguk. “Baiklah aku pulang dulu, kamu jaga diri ya. aku akan sering ke sini menemuimu, aku juga akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat-tempat yang pernah kita datangi bersama.”


Revan hanya diam sampai akhirnya Dinda balik badan lalu menghilang dari pandangannya.


Revan menaiki anak tangga dan menuju ke kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu kamar Vira.


“Masuk!” Suara Vira menyahuti dari dalam.


Revan mendorong pintu dan melhat mamanya tengah menyisir rambut di depan cermin. Revan memasuki kamar dan mendekati Vira. Ia berdiri di sisi kursi yang diduduki mamanya.


“Jadi gimana? Kamu ingat dengan Dinda, kan? Dia adalah gadis yang sangat kamu cintai, mana mungkin kamu melupakannya. Dia gadis yang baik,” celoteh Vira.

__ADS_1


“Mam, aku memang ingat dengan Dinda, tapi ...” Revan berhenti bicara.


Vira menaruh sisir ke tempatnya lalu menoleh ke arah Revan. “Tapi apa? Kamu ingin membahas pernikahanmu yang dulu sempat tertunda?”


“Bukan soal Dinda.”


“Lalu?”


“Soal Elena.”


“Elena? Ada apa dengan gadis itu?” Vira menatap Revan heran.


“Dia gadis yang menemukanku saat aku terseret arus sungai dan mnegurusiku. Jika tidak ada dia, mungkin nggak ada lagi nama Revan di dunia ini. Aku mencintainya. Ini bukan perara berhutang budi, tapi perkara hati.”


Seketika Vira membeku di tempat mendengar penjelasan puteranya.


***

__ADS_1


__ADS_2