I am a Virgin

I am a Virgin
24. Hidung Belang


__ADS_3

Lelaki berbadan besar itu turun. Ia merapikan jas cokelat yang dikenakan. Sekilas diamatinya wajah Elena yang cantik, sayangnya penampilannya kumal. Gadis miskin pasti membutuhkan uang. Pikir lelaki itu sembari mengusap dagu. Bola matanya liar mengamati sekitar. Saat itu sedang tidak ada pembeli. Hanya ada sesosok lelaki yang jongkok di dekat ember berisi air sambil mengelap mangkuk. Tak lain Revan.


“Pagi, Nona!” sapa lelaki berjas cokelat. Suaranya agak tertahan.


“Pagi, Pak,” sahut Elena ramah sembari memutar badan dan berhadapan dengan lelaki berjas cokelat.


Lelaki berjas cokelat sekilas mengamati tulisan yang tertera di kaca gerobak. Kemudian berkata, “Pesan soto satu bungkus.”


Satu bungkus? Jika melihat penampilan dan mobil yang terparkir, rasanya janggal jika lelaki itu memesan satu bungkus saja. Tapi Elena tidak mau berpikir jauh.


“Oke. Ditunggu, Pak.” Elena buru-buru meracik soto. Sebentar kemudian, soto pesanan siap dibungkus. “Ini, Pak.” Elena menyerahkan sebuah plastik berisi sebungkus soto.


“Jangan panggil Pak. Om Davin saja,” jawab lelaki itu sambil menerima sebungkus soto yang diberikan.


“Ooh... Iya, Om Davin,” sahut Elena polos.


“Siapa namamu?”


“Elena,” singkat Elena.

__ADS_1


Om Davin melirik Boy yang sedang fokus dengan pekerjaan. “Itu suami Nona?”


Elena mengikuti pandangan Om Davin. Kemudian menjawab, “Bukan. Temen, Om.”


“Ooh... Jadi belum nikah?”


Elena tersenyum polos menganggap pelanggannya sedang mengakrabkan diri.


Om Davin mengangguk-anggukan kepala. Artinya masih perawan. Pikirnya dengan seulas senyum yang mengembang dari sudut bibir. Kemudian ia menyerahkan selembar uang.


“Tunggu kembaliannya, Om.”


Spontan Elena menjerit. Boy terkejut, ia langsung berdiri dan mendekati Elena.


“Ada apa?” tanya Revan.


“Jangan kurang ajar, ya!” gertak Elena terengah dengan sorot mata menatap Om Davin tajam. Sangat marah.


“Sabar sabar.” Om Davin mencoba menenangkan.

__ADS_1


Pandangan REvan menatap Elena dan Om Davin silih berganti. “Lo mau kurang ajar sama Elena?” Revan melayangkan sekepal tinju ke arah Om Davin.


Om Davin mundur beberapa langkah karena takut digebukin. Layangan tangan Revan tidak sampai ke wajah Om Davin setelah Elena buru-buru menghadangnya. Susah-payah Elena menghalangi Revan yang terus berusaha mendekati Om Davin untuk menghantam. Kemarahan Revan telah mendidih hingga tidak terkendali.


“Jangan, REvan. Jangan!” Elena tidak mau terjadi keributan. Ia takut Revan memukul orang lain. Ia tak mau REvan terkena masalah.


“Lo bilang dia kurang ajar sama lo. Ini nggak bisa dibiarin, Elena!” Revan menjerit emosi. Darah muda di dalam tubuhnya menggelegak. Tak pernah ia merasakan kemerahan seperti itu. Entah mengapa, ketika Elena dijahili lelaki, mendadak emosinya naik drastis. Tak terkendalikan.


“Jangan! Gue bilang jangan!” pekik Elena.


“Maaf, jangan salah paham,” potong Om Davin mencoba membela diri. Kecemasan menghias wajahnya, takut mendapat tonjokan Revan yang telah mengepal. “Saya hanya meminta agar Elena tidak memberikan uang kembalian.”


Revan menatap Elena. Mengharap penjelasan apakah yang dikatakan Om Davin itu benar.


Elena melirik Revan tanpa memberi penjelasan.


“Elena, ini kartu nama saya. Jika kamu butuh sesuatu, hubungi saya.” Om Davin menyerahkan kartu nama. Masih saja ia berharap Elena bersedia menemuinya, lalu berharap minta bantuan, dan terakhir tidur bersamanya, suatu saat. Om Davin terlanjur merasa bergairah dengan kulit Elena yang sempat dilihatnya melalui robekan baju dan sempat dirabanya. Sungguh ia penasaran.


Elena hanya menatap kartu nama yang disodorkan tanpa menyambutnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2