
“Isinya nggak ada yang kurang, kok,” jelas Elena pada satpam.
Satpam diam saja. Masih bengong. Memikirkan betapa besar jiwa gadis di hadapannya itu. Ia berteriak memanggil saat Elena berbalik untuk segera pergi karena merasa dicuekin. Elena berhenti. Menoleh.
Satpam keluar mengitari pintu gerbang. Mendekati Elena.
“Maaf atas sambutanku yang kurang baik,” ujar satpam.
Elena diam. Tak masalah baginya. Sudah lazim.
“Majikan saya sedang nggak ada. Keluar sejak tadi. Saiapa namamu?” tanya satpam. Ia perlu mengenal gadis di depannya itu agar mudah memberitahu identitas orang yang menemukan dompet pada majikannya nanti.
__ADS_1
“Elena,” singkatnya. Kemudian bergegas pergi.
Satpam berteriak mengucapkan kata terima kasih.
Elena merasa harus mengembalikan dompet itu setelah hatinya berbalik menyadari bahwa isi di dalam dompet itu bukanlah haknya. Tak akan berkah jika ia mengambilnya. Tuhan Maha Tau. Maha cepat memberi perhitungan. Seperti halnya memberi perhitungan padanya yang sempat tergiur dengan uang tiga puluh juta milik Om Davin. Sekejap saja Tuhan melenyapkannya. Entah mengapa, mendadak ada ketakutan besar bersarang dalam hatinya ketika hendak memasuki toko emas untuk menjual emas-emas itu.
Cukup sudah kesalahan yang telah dilakukannya dengan mengambil uang milik Om Davin, jangan lagi ditambah dengan kesalahan baru dengan mengambil dompet yang bukan haknya. Hasutan di dalam hati kecilnya memang terus meneror, tapi ternyata ia masih memiliki iman yang sanggup melawan hasutan itu. Elena tidak menyesal telah mengembalikan dompet itu. Sama sekali tidak.
Malam ini, ia telah berbuat baik. Mengembalikan dompet yang bukan haknya pada pemiliknya. Semoga Tuhan memberi jalan baik pula untuk masalahnya. Harapnya dalam hati.
Elena ingin menceritakan apa yang telah terjadi pada Revan tentang Om Davin yang mengancam akan memenjarakannya bila uang itu tidak dikembalikan dalam waktu tiga hari. Tapi ia mengingat sudah terlalu banyak yang Revan lakukan untuknya. Ia tidak sampai hati menyampaikan kejadian itu. Kesannya terlalu mendesak untuk meminta bantuan. Biarlah, untuk kali ini ia tidak membebani Revan yang sudah banyak berbuat hal baik untuknya, juga Salva. Biarlah ia sendiri yang mencari solusi untuk masalahnya kali ini. Meski berat.
__ADS_1
Tapi bagaimana caranya ia bisa mencari uang puluhan juta dalam waktu tiga hari? Sungguh, ia tetap membutuhkan bantuan Revan. Setidaknya mereka akan bersama-sama mencari uang itu. Entah bagaimana caranya.
Salva sudah tidur terlelap di ranjang kecil.
Revan duduk di kursi, pojok ruangan. Pria itu diam saja, seperti sedang memikirkan banyak hal. Tak lama kemudian, pandangannya tertuju ke wajah Elena yang terlihat sangat letih. Sangat lelah. Sangat kesal. Revan bangkit dari kursi. Ia mengambil sebuah nasi bungkus di meja. Lalu memberikannya pada Elena.
“Makanlah. Lo pasti laper.”
Elena menatap bungkusan itu tanpa menyentuhnya. Perutnya memang kosong. Sejak siang belum terisi makanan. Tapi nafsu makannya hilang entah kemana, rasa sesak membuatnya tidak berselera makan.
TBC
__ADS_1