
Revan memarkirkan mobilnya ke garasi. Sepanjang turun dari mobil sampai menginjak teras, bibirnya terus tersenyum. Bagaimana mungkin ia sanggup menahan senyum disaat isi kepalanya sedang mengingat Elena. Gadis itu seperti mamiliki magnet yang membuat Revan kerap mengenangnya. Kebersamaannya selama bersama Elena tidak hanya sebentar, dan itu cukup membuat perasaannya terpaut pada gadis itu. kegigihan Elena dan semua tentang Elena, benar-benar membuat Revan jatuh hati. Hari-harinya terasa jauh lebih sempurna saat merasakan cinta.
“Sore, Mam!” Revan mendekati mamanya yang saat itu sedang duduk di sofa ruang tamu. Mamanya tidak sendirian, ada seseorang menemaninya.
“Heei... Anak Mami udah pulang. dari tadi Mami nungguin kamu. Ini lihat siapa yang dateng. Udah sejak tadi loh dateng ke rumah.” Vira menyentuh bahu gadis yang duduk di sisinya.
Manik mata Revan bergerak menatap gadis berambut sebahu yang tersenyum manis ke arahnya. Revan pun balas tersenyum meski ia tidak mengenal gadis itu.
Vira bangkit berdiri, ia kemudian meraih dua bahu puteranya sembari berkata, “Kamu masih inget kan sama gadis cantik itu?” Vira menunjuk gadis cantik itu dengan alisnya yang terangkat naik.
Revan menatap gadis itu tanpa jawaban. Memangnya siapa gadis itu? sepertinya ia memang pernah mengenalnya, tapi dimana? Kapan? Dan siapa dia?
“Lama kalian nggak ketemu,” lanjut Vira.
__ADS_1
Revan mulai terlihat tidak nyaman atas ucapan mamanya. Senyumnya pelan memudar dan manik matanya bergerak gusar.
“Mami yang suruh Dinda ke sini.” Vira membimbing Revan duduk ke sofa.
Ekspresi Revan masih menunjukkan raut bingung, dan Vira mengerti apa yang dipikirkan puteranya saat menatap raut bingung Revan.
Revan menatap gadis yang disebut dengan nama Dinda itu, gadis itu mengulas senyum ramah dan kembali dibalas dengan senyum kaku oleh Revan.
“Revan, kamu ingat, Dinda adalah tunanganmu.” Vira menjelaskan, menjawab kebingungan yang dipendam oleh Revan.
Tubuh Revan terasa lemas saat tahu ternyata ia sudah bertunangan, dan bahkan gadis yang statusnya tunangannya itu justru terasa asing baginya.
“Selama ini Dinda juga turut mencari keberadaanmu saat kamu menghilang. Dia sangat mencemaskanmu,” jelas Vira yang mengetahui kondisi Revan saat ini, putranya itu butuh penjelasan untuk mengingat semuanya. Berangsur-angsur ingatan Revan telah kembali, namun memori tentang Dinda, sepenuhnya belum bisa diingat oleh Revan.
__ADS_1
Revan kembali menatap Dinda, mencoba mengingat-ingat tentang gadis itu. juga mengingat perasaannya terhadap gadis itu. Ugh... Bahkan perasaannya terakhir kali pada gadis itu pun ia lupa.
“Revan, hubungan kalian sudah cukup lama. Dan kepergianmu kemarin cukup membuat Dinda merasa sangat kehilangan. Inilah saatnya kamu dan Dinda membicarakan hubungan kalian.” Vira tersenyum menatap Revan yang raut wajahnya kini sudah mulai tenang.
“Mami pasti dah tahu kondisiku saat ini, aku butuh waktu untuk mengembalikan memori ingatanku. Bahkan untuk Dinda sekalipun,” ujar Revan.
“Maka dari itu, kamu mesti bertemu dengan Dinda supaya kamu mengingat segalanya. Dinda adalah orang paling istimewa di hidupmu. Kamu ingat?” Vira tersenyum lebar berusaha mengembalikan ingatan Revan tentang Dinda.
Revan diam saja. Ia terdiam berusaha mengingat-ingat.
“Ya sudah, Mami tinggal dulu. Kalian bicaralah!” Pandangan Vira kini tertuju ke wajah Dinda. “Dinda, Tante ke atas dulu.”
“Iya, Tan,” jawab Dinda lembut.
__ADS_1
TBC