I am a Virgin

I am a Virgin
62. Gadis Hebat


__ADS_3

Elena mengesah. “Jangan dipaksa. Gue juga nggak maksa lo buat inget. Seenggaknya, kalo lo inget semuanya, lo bakalan kembali ke keluarga lo. Lo akan ngedapetin kebahagiaan lo.”


“Elena!” Revan menatap wajah Elena yang menunduk. Wajah itu terlihat kurang bersahabat.


“Hm.”


“Andai ingatan gue udah kembali, bolehkah gue tetep di sini?”


Pertanyaan Revan membuat Elena membeku di tempat. Elena bahagia mendengar pernyataan itu. Tapi sampai kapan Revan akan bertahan bersamanya? Mungkinkah pernyataan Revan itu berasal dari lubuk hatinya? Kalau saja Revan ternyata berasal dari keluarga tajir, apakah mungkin kata-kata yang Revan ucapkan itu akan tetap berlaku? Masihkah ada manusia yang rela hidup susah sementara kenyataan membuktikan kalau dirinya mampu hidup bergelimang harta?


“Jangan mengkhayal!” ucap Elena sambil menatap Revan.

__ADS_1


“Kok, mengkhayal?”


“Kalau lo berasal dari keluarga yang kehidupannya nggak ada bedanya sama gue, mungkin pertanyaan lo tadi masih bisa gue jawab. Tapi kalau lo berasal dari keluarga kaya, mungkinkah lo masih sudi bicara kayak gitu? Lucu, Van.”


“Lo itu ya, masih aja beranggapan begitu. Kenapa opini lo tentang orang kaya sulit diubah? Gue udah terlanjur nyama di sini.”


Elena kembali mengesah. Bukan maksudnya tidak bisa mengubah pandangannya terhadap orang kaya, hanya saja Elena takut kata-kata Revan hanya akan memberinya harapan semata. Dan saat Revan mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya, dia lupa dengan kata-kata yang ia ucapkan. Dan hal itu tentu saja akan melukai hati Elena. Itulah yang Elena takutkan. Kekecewaan.


Revan hanya menatap Elena tanpa memberi jawaban. Elena berkata benar, dan Revan kesulitan menyangkal kalimat itu.


“Saat pertama kali kita ketemu, gue ngeliat penampilan lo yang menarik. Baju, celana, ikat pinggang, semua yang lo pake bagus. Dari situ, gue prediksi lo berasal dari keluarga kaya. Mana mungkin ada orang miskin pake baju, celana dan ikat pinggang sebagus yang lo pake waktu itu.” Elena mengingat-ingat sat ia menemukan Revan di tepi sungai.

__ADS_1


“Lantas? Apa lo nggak suka gue kalo bener gue berasal dari orang kaya?”


“Nggak perlu dibahas lagi, Van. Lo udah tahu semuanya. Dan nggak perlu lagi gue jelasin hal yang berulang-ulang.”


Elena mengangkut baskom ke belakang, mencuci piring dengan air yang sudah diangkut oleh Revan dari sungai.


Sebelum ada Revan, Elena sebentar-bentar mesti berurusan dengan air sungai hanya untuk mencuci pakaian, mandi, buang air, atau bahkan hanya untuk mencuci piring yang jumlahnya hanya sedikit sehingga jika kotor sebentar-bentar ia harus bolak-balik ke sungai hanya untuk mencucinya sebelum makan. Itu sering kali ia ceritakan pada Revan bersama hingar-bingarnya suara tawa.


Revan mengintip Elena dari lubang kecil yang berada tepat di depan matanya. Dipandanginya wajah gadis itu dengan seksama. Elena, sosok itu mempunyai nilai lebih di mata Revan. Kesulitan hidup yang dilalui gadis itu tidak pernah membuatnya menyerah mengarungi kenyataan pahit. Selalu, selalu dilaluinya dengan gigih, pantang menyerah.


Gadis yang hebat. Gumam Revan dalam hati mengenang semua cerita Elena setiap malam yang menjadi pengantarnya sebelum tidur. Cerita yang membuat kepalanya menggeleng-geleng.

__ADS_1


TBC


__ADS_2