I am a Virgin

I am a Virgin
13. Adilkah


__ADS_3

Salva mengamati wajah Dava dan tangis kakaknya silih berganti. Ketakutannya mulai meninggi.


“Kak, Dava nggak bergerak,” lirih Salva.


Elena tak menjawab. Tangisnya semakin mengharu. Diraihnya kepala Salva ke dalam pelukannya ketika Salva menjerit histeris.


Elena sudah tahu apa yang terjadi sejak tadi. Sejak dalam perjalanan pulang. Saat berlari di jalan becek yang dipenuhi dengan rumput, seratus meter sebelum sampai ke rumah, lehernya tak lagi merasakan hangat hembusan nafas Dava dalam dekapannya. Dadanya tak lagi merasakan detakan jantung Dava. Di jalan sunyi dan gelap, ia terus berlari. Hanya diterangi cahaya kilat yang sesekali kelap-kelip. Kakinya terasa lemas tak bertenaga, namun tetap ia berlari kencang hingga sampai ke rumah.


Malam itulah malam paling menyedihkan bagi Elena. Berat sudah perjuangan yang ia lakukan, tapi Tuhan berkehendak lain. Dunia Elena terasa sangat mencekam. Kelabu. Semua kebahagiaan sesaat itu lenyap tak berbekas. Tak ada lagi yang bersisa. Tak ada lagi. Elena menjual rumah dan semua benda peninggalan orang tuanya demi biaya hidup si bungsu, demi mempertahankan nyawa si bungsu supaya bisa minum susu. Karena sehari setelah lahir, Dava sudah menjadi yatim piatu setelah ibu menyusul ayah ke alam kubur. Sekarang nyawa Dava pun telah dicabut.


Satu per satu keluarga Elena pergi meninggalkan dunia. Dimulai dari ayah, menyusul bunda, dan sekarang Dava. Sempat terbesit pertanyaan di dada Elena, kenapa Tuhan tidak sekalian saja mengambil nyawanya dan nyawa Salva? Agar musnah manusia melarat yang mengotori bumi ini. Agar lenyap orang miskin yang selalu banyak permintaan pada Tuhan. Agar tak lelah Tuhan mengurus orang-orang melarat.


Segera ditepisnya prasangka buruk itu. Cepat-cepat ia menyadari bahwa semua manusia pasti akan mati. Bahwa Tuhan Maha adil. Tuhan telah mengambil kembali apa yang dititipkan.

__ADS_1


Elena larut ke dalam memori yang membuatnya sangat terpukul. Ia terkejut ketika merasakan sentuhan hangat di pipinya. Tangan Boy mengusapnya.


“Heh, ngapain lo?” Elena menampik tangan Boy hingga tangan lelaki itu terhempas ke bawah.


“Air mata lo meleleh. Gue ngebantuin ngapus doang.”


Apa? Elena menangis? Elena sebenarnya tidak ingin menangis. Air matanya saja yang membandel, jatuh tanpa sepengetahuannya. Ia bahkan baru sadar sedang menangis ketika sentuhan hangat tangan Boy mendarat di pipinya. Cepat-cepat telapak tangannya menyentuh kedua pipinya. Basah, terdapat sisa lelehan air mata.


“Galak banget sih? Maksud gue baik, kok.”


“Bilang aja lo baper.”


Boy mengangguk. “Iya, gue emang baper denger cerita elo tadi. Aduuuh, pokoknya sedih banget deh. Seandainya gue di posisi lo, mungkin gue nggak akan sekuat elo. Lo perempuan hebat, kuat dan....”

__ADS_1


“Stop! Jangan muji-muji gue.”


Boy terdiam. Tersenyum. Sampai kapan Elena jutek terus terhadapnya?


“Sekarang adik gue cuma tinggal satu, gue harus ngejagain dia dengan baik,” ucap Elena. Jika hasil memulung esok hari lebih banyak, dia akan membeli ikan untuk Salva. Ia tidak ingin Salva kurang gizi. Tidak ingin Salva sakit. Ia ingin Salva panjang umur. Tidak sakit-sakitan akibat gizi buruk.


***


Malam tiba, Boy tidur di sudut ruangan, tepatnya di dekat sederetan kardus yang menyumbat ruangan. Sedangkan Elena di sudut satunya lagi. Salva di sisi Elena. Mereka berpelukan.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2