I am a Virgin

I am a Virgin
54. Sangat Perhatian


__ADS_3

Revan menghampiri Elena, menatap iba pada gadis itu.


“Elena, lo benar-benar kelihatan sangat lelah. Lo butuh istirahat. Ayolah. Kita pulang aja,” bujuk Revan. “Salva lebih ngebutuhin kita.”


“Lo pergilah. Gue masih mau di sini,” ketus Elena dengan sorot mata yang terus mengarah ke jalan masuk terminal. “Ini udah larut malam, kasian Salva sendirian.”


“Tapi…”


“Gue nggak akan ninggalin tempat ini sebelum ketemu supir yang namanya Danu itu,” potong Elena. “Duit itu nggak sedikit, dan gue mesti nyari kemana buat ngegantiin?”


“Gue usahain bisa cariin uang itu.”


Elena berhenti hilir-mudik dan langsung menatap Revan dengan pandangan tajam. “Revan, sampe sekarang duit buat operasi Salva aja gue nggak tau dari mana asalnya. Trus sekarang lo mau nyari duit puluhan juta buat ngegantiin duit yang ilang itu? Dari mana lo dapet duit itu? Dari mana?” tanyanya dengan dahi mengkerut. Penasaran tingkat dewa.


“Gu… Gue… Gue dapetin dari orang kaya yang dermawan.” Revan gugup. Alasan apa yang harus ia kemukakan?

__ADS_1


“Siapa dia? Kapan lo kenal dia? Kenapa tiba-tiba orang itu bersedia ngasih duit secara cuma-cuma ke lo?” berondong Elena semakin penasaran. “Revan, bukankah lo yang bilang bahwa kita udah melalui banyak hal bersama-sama. Kita udah bertahan dengan baik atas segala kesulitan yang ada. Dan lo nggak harus bertahan dalam kesulitan itu jika lo mau. Tapi lo tetap bertahan. Itu karena lo perduli sama gue. Gue juga perduli sama lo. Gue nggak mau lo ngedapetin uang itu dari hasil nggak bener.”


“Misalnya?” lirih Revan tenang.


“Ngerampok. Nyolong. Maling. Malakin orang.”


“Emangnya ada tampang itu di muka gue?”


Elena menatap wajah tampan di depannya. Ya, Revan tidak memiliki tampang pemalak ataupun perampok.


“Atau…”


“Atau…” lidah Elena terasa berat untuk melanjutkan. Ia ingin melanjutkan kalimatnya menjadi ‘atau pemuas tante-tante girang’.


“Atau ngejual diri?” lirih Revan lebih seperti bisikan.

__ADS_1


Elena tersentak dan tak bisa berkata-kata. Terpaku. Merasa sedang disindir. Ternyata masih seburuk itu pandangan Revan terhadapnya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan pandangan Revan terhadapnya. Ah, ia hanya berharap Revan mempercayainya. Bahwa ia tidak akan mungkin melakukan hal serendah itu. Itu saja. Tapi kenyataannya Revan tidak bisa mempercayainya. Tak cukupkah kebersamaan mereka untuk mengenal satu sama lain? Seharusnya Revan lebih mempercayainya meski tanpa penjelasan. Dan sebaliknya, Elena pun tidak bisa mempercayai Revan bahwa uang yang didapatkan Revan berasal dari hal yang positif.


Revan merasa sangat bersalah melihat ekspresi wajah Elena yang lemah. Tak seharusnya ia berkata begitu hanya untuk menyinggung Elena.


“Maaf,” lirih Revan berusaha memperbaiki keadaan. “Ya udah, gue balik ke rumah sakit. Salva pasti nungguin.”


Elena mengangguk.


“Jaga diri baik-baik! Kalau ada apa-apa, langsung lapor aja ke security,” pesan Revan.


“Tenang aja, ini tempat rame kok. Nggak ada yang berani ngejahilin gue di sini. Kalau ada yang jahat, gue langsung teriak.”


Revan tersenyum kemudian berbalik. Meninggalkan terminal.


Elena mengamati punggung Revan hingga hilang dari pandangan. Ia sadar Revan sangat memperhatikannya. Sangat menyayanginya. Tak seharusnya ia membebani Revan dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Ia menarik nafas dan berusaha menimbulkan kepercayaan terhadap Revan. Berusaha berpikir positif bahwa Revan mencari uang itu dengan cara baik, meski ia tidak tahu dari mana asalnya. Ia tahu Revan adalah lelaki baik. Ia tidak ingin Revan mengotori tangannya, mencari uang dengan cara buruk demi Salva seperti apa yang sempat dilakukannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2