I am a Virgin

I am a Virgin
77. Indah Pada Waktunya


__ADS_3

“Gue perawan!” tegas Elena lagi meyakinkan.


Revan membelalakkan mata dan meninggikan alis. Masih tak yakin.


Elena kemudian menceritakan pertemuannya dengan Om Davin di hotel sesuai dengan runtutan kejadian yang masih terekam jelas di memori ingatannya. Malam itu, tangan Om Davin mengelus rambutnya hingga membuat seluruh pori-pori tubuhnya melebar akibat merinding hebat. Kemudian Om Davin menunjukkan uang di dalam tas hitam berukuran kecil.


Elena sempat terkesima melihat uang berjumlah tiga puluh juta yang muat hanya dalam satu tas kecil. Om Davin kembali memasukkan uang itu ke laci.


Elena tersadar tubuhnya telah terhempas ke atas ranjang empuk ketika tangan berotot yang baru saja menyeretnya itu menghentak tangannya kuat. Melemparnya ke ranjang. Jantungnya berdetak kencang ketika tubuh besar itu menghimpitnya. Tangan berotot itu berkelana, bibir tebal Om Davin merayap, nafasnya memburu penuh nafsu.


Seketika, dunia Elena terasa berubah. Masa depannya mendadak kelam, hitam, suram dan mengerikan.


“Minggir!” teriak Elena menyingkirkan tubuh Om Davin hingga tubuh besar itu terhempas ke samping. “Bauk! Mandilah dulu sana!” Elena menjepit hidung dengan jarinya.


Om Davin tersenyum lalu mencium kedua ketiaknya. “Tidak bau,” ujarnya. Tapi kemudian ia mengangguk. “Oke. Oke. Saya mandi dulu.”


Perintah Elena yang memintanya mandi terlebih dahulu menunjukkan bahwa Elena mulai mengikuti permainannya dan bersedia memenuhi permintaannya. Ia tidak tahu bahwa dirinya sedang dikelabui.


Ketika Om Davin masuk ke kamar mandi, Elena langsung menyambar tas berisi uang di dalam laci dan membawanya kabur. Dalam arti kata, ia telah mencuri uang.


Sungguh, itu adalah pengalaman buruk yang dirasakan Elena disepanjang hidupnya. Tapi tak mengapa, pengalaman itu justru memberikan banyak pelajaran. Pelajaran yang mahal dan tak akan bisa ia raih hanya dengan teori. Perbuatan buruk pasti akan mendapat balasan buruk pula, bila tidak sekarang, maka kelak.


Revan tersenyum mendengar cerita Elena. Ia bersyukur gadis yang amat dicintainya itu tidak menyerahkan keperawanan demi sejumlah uang. Sekarang Revan tahu kenapa Elena bersikeras ingin mengembalikan uang itu. Sedikitpun Elena tidak dirugikan. Wajar saja Elena ingin mengembalikan uang itu. Sebab memang kesepakatan awal Elena berniat hendak meminjam uang Om Davin, namun Om Davin justru berniat lain.


“Makasih, Elena.”


“Makasih untuk apa?” Elena mengernyit.


“Untuk kisah yang baru aja lo certain ke gue. Suer, gue terharu. Gue bersyukur, gua juga bangga sama lo. Lo jaga kesucian lo untuk orang yang benar-benar berhak ngedapetinnya.”

__ADS_1


Elena tersenyum dan menunduk malu-malu.


“Kalau boleh gue jujur, gue ingin hidup bersama lo selamanya. Kita udah sama-sama dewasa. Kita sama-sama membutuhkan pendamping hidup.”


Jantung Elena berkejaran mendengar pernyataan Revan. Pendamping hidup? Elena bahkan belum pernah memikirkan hal itu. Dan sekarang Revan membahas perkara yang sama seklai belum pernah terpikir dalam hidupnya. Boro-boro memikirkan pendamping hidup, memikirkan kehidupan Salva saja sudah cukup menyita pikirannya.


“Gue masih memikirkan Salva. Gue belum memikirkan ke situ, perjalanan Salva masih panjang. Gue akan habiskan waktu buat Salva,” jawab Elena setelah berhasil mengatur detakan jantungnya.


“Elena, Salva itu udah seperti adik gue sendiri. Hidupnya juga merupakan bagian hidup gue. “Gue sangat menyayangi Salva. Dia akan tetap bersama lo, juga bersama gue.”


“Revan, jangan berpikir terlalu jauh. Lo masih memiliki mama dan papa yang juga mesti terlibat dalam keputusan ini.”


Revan tersenyum. “Gue tahu itu. Intinya sekarang, gue sangat sayang sama lo. Gue mencintai lo, Elena.” Revan menatap mata Elena dalam-dalam.


Yang ditatap jadi canggung dan mengalihkan perhatian. Andai Revan menyadari, menatap wajah Elena dengan cermat, maka pria itu akan menemukan roma merah di wajah cantik Elena. Wajah yang kali ini tidak terbalut debu. Wajah yang saat itu terlihat bersih dan bercahaya.


“Katakan Elena, lo juga sayang sama gue, kan?”


“Gue mau denger sekali lagi.”


Oh…


Begitu manis nada bicara Revan saat mengucapkan kalimat itu.


Batin Elena menggejolak oleh perasaan bahagia yang tiada tara. Gadis itu mengulas senyum dan menatap Revan. “Iya, gue juga sayang sama lo.”


Kini giliran batin Revan yang terasa berbunga. Hatinya menghangat. Degupannya tidak normal. Benar apa kata orang, Cinta itu indah. Terasa menyejukkan hati. Ini baru cinta manusia yang Elena rasakan. Lalu bagaimana dengan cinta yang Tuhan berikan? Sungguh agung dan tak terhitung.


“Gue akan tetap terus ngejagain lo, Elena. Juga Salva.”

__ADS_1


“Gue percaya lo.”


“Ini adalah pertama kalinya gue mencintai seorang gadis dengan sungguh-sungguh.”


Elena terharu mendengar kata-kata itu.


Ketika tangan Revan menggenggam tangan Elena. Ketika Elena buncah oleh perasaan bahagia. Ketika matahari bersembunyi di balik awan cokelat. Saat itulah rintik gerimis berjatuhan. Menitik-nitik di sekitar mereka. Jatuh tepat di hidung Elena. Seketika Elena tersadar hujan akan segera turun. Mereka malah merentangkan tangan, menunggu hujan deras turun ke bumi.


Elena menyadari akan satu hal, bahwa Tuhan itu benar-benar Maha Adil. Tuhan memberi ujian sesuai kapasitas kemampuan hamba-Nya. Tak akan mungkin Tuhan memberi ujian di luar batas kemampuan manusia. Segala perbuatan baik, akan dibalas dengan kebaikan pula oleh yang Maha Kuasa, sama seperti yang telah Elena lalui.


Sesungguhnya Elena merasa malu sekaligus terharu pada Tuhan, yang telah mengabulkan keinginannya seperti tidak perduli berapa banyak dosa-dosa yang telah ia perbuat. Berapa kali Elena protes akan takdir yang ia terima.


Berapa kali Elna mengeluhkan kondisi kehidupannya? Namun lihatlah, Tuhan membalas dengan kemuliaan yang tak ternilai harganya. Segala kemudahan telah Elena dapatkan. Melalui Revan, Tuhan menitipkan kemudahan itu.


Revan menyentuh ujung tangan Elena sambil mengulas senyum.


Keduanya bersitatap dan tersenyum menyambut turunnya hujan deras. Tubuh keduanya basah kuyup.


Terima kasih Ya Rabb. Elena berbisik dalam hati, sambil menatap langit yang kini telah menumpahkan air hujan ke bumi. Semua indah pada waktunya.


SELESAI


Jadi cerita Elena dan Revan selesai sampai di sini.


Mau extra part gak nih?


Aku mau fokus nulis ceritaku yang berjudul PACARKU DOSEN saat ini.


Makasih buat yg udah baca sampai sini, kalau banyak yg minta extra part, insyaa Allah aku bikinin extra part-nya.

__ADS_1


Love,


Emma Shu


__ADS_2