
Elena berlari menghampiri sebuah angkot yang baru masuk dan terparkir manis. Bang Danu turun ketika Elena menungguinya di dekat pintu mobil.
“Bang, masih inget gue, kan?” tanya Elena menunjuk wajahnya sendiri.
“Mm…” Bang Danu memperhatikan wajah Elena dengan seksama. “Oo.. Neng yang tadi naik angkot Abang, kan?”
“Iya, bener. Abang ada nemuin tas kecil warna hitam nggak di angkot?” tanya Elena penuh harapan.
Supir itu menggeleng. “Nggak ada, Neng.”
“Tas gue ketinggalan.”
“Lo liat aja ndiri ke dalem. Siapa tau masih ada. Neng tadi kan duduk di jok nomer dua.” Masih melekat dalam ingatannya gadis cantik yang diperhatikannya sepanjang jalan melalui kaca di atas keningnya itu duduk di jok belakangnya.
“Gue periksa ke dalem, deh.” Elena membuka pintu mobil dan memeriksa.
__ADS_1
Deg! Jantungnya berdekup keras. Kosong. Tak ada tas yang tertinggal. Lemas tubuhnya. Lemah jantungnya. Nasib baik tidak berpihak kepadanya.
“Nggak ada,” singkatnya lemah.
Supir itu melongokkan kepala ke dalam mobil melalui jendela. Meneliti jok. Tak ada apa-apa.
“Yaah… Udah banyak penumpang naik-turun, Neng. Nggak taulah siapa yang ngambil,” ujar supir ikut menyesalkan kejadian itu.
Elena mengeratkan gigi. Mendesis kesal.
Elena menyeringai. Tak mau menjawab.
“Lain kali hati-hati bawa barang berharga, Neng.”
Elena bergegas pergi. Berjalan cepat meninggalkan supir yang turut merasa prihatin.
__ADS_1
Bintang bertabur menghias malam. Fenomena alam. Tapi Elena tidak bisa merasakan keindahan yang hanya bisa dinikmati di malam hari. Hatinya gundah bercampur kesal sehingga semuanya terlihat buruk di matanya.
Elena keluar terminal lalu terduduk lemas di tepi trotoar. Persis seperti seorang pengemis. Dengan pakaian kumal dan sobek-sobek terdiam dalam kepanikan. Sisa rambutnya yang tak terikat beterbangan dimainkan angin. Bola matanya liar menatap ke segala arah. Ia menarik nafas mengkal. Selalu saja, selalu timbul masalah dalam hidupnya.
Lalu… Sekarang apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia melupakan uang itu? Tak perlukah ia mengebalikan uang itu? Toh, Om Davin juga tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Lelaki itu pasti tidak akan bisa mencari keberadaannya. Lagi pula, Om Davin adalah orang kaya. Uang segitu pasti bernilai sedikit baginya.
Elena menimpuk pelipisnya dengan kepalan tangan. Apa yang baru saja dipikirkannya? Kenapa sempat terbesit pemikiran konyol itu? Ah, ia tidak mau menimbun kesalahan setelah kesalahan yang dilakukan. Ia tetap harus bertanggung jawab demi ketenangan hati. Demi… demi ayah dan ibu.
Uang yang ia dapatkan dari hasil pekerjaan yang buruk, yang tidak sempat dinikmati, yang membuat pikirannya sejenak melayang merasakan kenikmatan orang kaya itu, kini lenyap sudah. Apakah itu artinya Tuhan tidak mengijinkannya memakai uang tak halal? Tapi bukankah ia sudah berniat akan mengembalikannya? Entahlah, yang jelas ia harus belajar dari pengalaman, bahwa uang dari hasil pekerjaan yang buruk tidak akan membawa keberuntungan.
Kepalanya menunduk mengamati pakaian yang dikenakan. Compang-camping. Ia tidak peduli lagi dengan pandangan setiap mata yang menilainya hina. Sudah cemilannya sehari-hari. Baginya, Salva sudah terangkat dari penyakitnya, itu lebih dari cukup.
Sekarang yang harus ia lakukan adalah menemui Salva dan Revan. Memastikan pada Revan bahwa dirinya baik-baik saja. Revan pasti cemas menunggu kabar darinya.
Elena bangkit berdiri. Hup… Langkahnya terhenti ketika di depannya berdiri seorang pria yang baru saja turun dari mobil.
__ADS_1
TBC