I am a Virgin

I am a Virgin
73. Tak Rela


__ADS_3

Kalaupun Elena bersedia mengembalikan uang itu, sesungguhnya ia tidak akan menerimanya asalkan Elena bersedia berkencan dengannya. Itu saja. Tapi kenyataan tidak seperti yang dibayangkan. Elena benar-benar tidak mau menerima tawarannya. Pendirian Elena kuat, membuat rasa penasaran Om Davin semakin menggelinjang.


Di mata Om Davin, Elena memiliki daya tarik tersendiri. Tubuh gadis itu indah. Kulitnya halus. Rasa halus itu meninggalkan kesan aneh dalam diri Om Davin. Entah karena dia memang lelaki hidung belang, atau apalah. Yang jelas dia tergila-gila pada Elena.


“Jangan lagi lo ganggu Elena! Urusan lo dengannya selesai!” ujar Revan dengan pandangan tajam. Lalu berbalik, berjalan menuju ke luar dan menutup pintu kuat-kuat.


Detik berikutnya terdengar teriakan keras di dalam kamar. Om Davin meluapkan kekesalan. Memekik dengan umpatan.


“Bangsat! Biadab! Persetan dengan uang itu!”


Revan menggandeng tangan Elena meninggalkan pintu. Yang digandeng mengikuti sembari menatap separuh wajah pria di sisinya. Kenapa Revan begitu menyayanginya? Pantaskah perempuan kumal sepertinya dicintai lelaki sesempurna Revan?


Sentuhan hangat tangan Revan yang menggelandangnya menuju ke luar hotel membuatnya merasakan aliran darah yang mendesir-desir. Hangat. Hatinya bergetar.


Sampai di luar hotel, Revan berhenti dan menghadap Elena. Menatap mata gadis itu lekat-lekat.

__ADS_1


“Elena, jangan lagi berurusan dengan lelaki buaya darat itu!” pinta Revan penuh emosi. Membayangkan wajah lelaki itu seperti sedang melihat boncabe, ingin rasanya menelannya mentah-mentah.


Elena mengangguk menangkap betapa besar kasih sayang yang terpancar dari sorot mata Revan.


“Gue nggak rela lo berhubungan dengan lelaki kayak dia. Gue sayang banget sama lo,” lanjut Revan.


Hati Elena bergetar. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Uangkapan sayang yang diucapkan Revan membuatnya terharu. Terenyuh.


“Gue juga sayang sama lo,” jawab Elena setelah menarik nafas dalam-dalam agar tidak menetes ketika mengatakannya. Ah, ia bukan gadis cengeng. Tapi entah mengapa, ungkapan sayang Revan membuatnya begitu cengeng. Mungkin karena terharu.


Pelan Revan menyentuh kedua tangan Elena dan mendaratkan kecupan di punggung telapak tangan gadis itu cukup lama.


Lama Revan mencium tangan Elena dengan penuh cinta. Seperti sedang diresapi.


Elena menarik tangannya. Tak tahan melihat pandangan orang-orang yang melintas. Meski mereka memaklumi kelakuan anak muda, tapi Elena tidak terbiasa sehingga merasa risih. Revan yang menunjukkan pandangan protes.

__ADS_1


“Mereka pada ngeliatin,” ucap Elena tidak mau diperhatikan dengan tatapan protes.


“Peduli amat!” Revan **** senyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sedetik kemudian mereka tertawa kecil. Revan menarik tangan Elena meninggalkan hotel, mereka berboncengan naik motor sport. Revan menarik tangan Elena agar melingkar di perutnya. Suasana terasa hangat dalam pelukan itu meski angin menampar-nampar tubuh mereka.


Rintik gerimis membuat Revan menepikan kendaraan di depan sebuah butik. Mereka berteduh di terasnya. Kepala Revan melongok melihat isi di dalam butik. Kemudian ia menarik tangan Elena dan memasuki butik itu.


“Ini cocok banget buat lo.” Revan menyentuh sebuah dress cantik yang terpajang di patung manekin.


Elena melirik lelaki di sampingnya itu sembari **** senyum.


“Serius. Gue jamin pasti ini cocok buat lo. Cobain, deh!”


Elena menuruti Revan mencoba dress yang ditunjuk meski dengan perasaan canggung. Elena membawa dress itu ke ruang ganti. Tak lama kemudian ia keluar dan berhasil membuat Revan berdecak kagum.

__ADS_1


**TBC


KLIK LIKE YEPS**


__ADS_2