
Elena dan Revan duduk di tepi sungai, keduanya fokus menatap air yang mengalir. Air yang dulu selalu digunakan oleh Elena untuk mencuci baju, masndi, dan keperluan lainnya. Di sungai itu juga Elena menemukan tubuh Revan saat pria itu terseret arus sungai. Ada banyak kenangan yang tertinggal di sana. Hanya dengan menatap airnya yang mengalir saja, ingatan Elena langsung melayang pada sederet kejadian yang pernah dia alami di sana. Ada rasa rindu menggelayut di benaknya, rindu pada dinginnya air sungai yang dulu selalu menyiram raganya, rindu pada kehidupan alami yang sebenarnya menyengsarakan, namun indah saat dijalani dnegan senyuman.
Beberapa menit Elena dan Revan hanya diam tanpa komunikasi. Wajah keduanya tampak cerah berbinar menandakan pikiran mereka sedang diisi dengan berbagai pemikiran positif.
“Elena!” panggil Revan sambil melempar batu ke sungai.
“Ya?” Elena menoleh ke samping, tepat ke wajah pria di sisinya.
“Aku ingin menikahimu.”
Ya Tuhan, kalimat Revan sungguh terasa menyejukkan hati. Elena merasa gembira mendengarnya. Kalimat itu memberikannya harapan untuk bisa menjemput impian.
“Mm… aku ternyata nggak salah berharap ke kamu, karena ternyata orang yang aku cintai nggak memandang aku dengan sebelah mata. Aku yang nggak punya apa-apa, aku yang dipandang hinda atas status sosialku, tapi kamu sanggup mencintaiku dengan tulus,” sahut Elena menatap Revan intens.
“Jangan memujiku berlebihan, nanti aku bisa gagal fokus. Elena, aku Cuma mau kamu. Ada banyak wanita di sekitarku, tapi entah kenapa hatiku Cuma ke kamu. Ini mitos atau fakta?” tanya Revan kemudian terkekeh, awalnya ia bicara dengan serius, ujung-ujungnya malah bercanda.
“Kamu tuh ya, bisa banget bikin aku ketawa.” Elena mencubit kecil perut Revan. Pria itu hanya tersenyum.
__ADS_1
Keduanya kemudian menatap Salva yang tengah asik bermain tanah. Bocah cilik itu membuat rumah-rumahan dari tanah. Angin yang bertiup kencang menerpa tubuh bocah itu hingga bajunya tampak berkibar. Salva tidak sendiri, dia bermain bersama dua orang yang baru saja dia kenal. Tak lain dua bocah yang baru saja menghuni gubuk milik Elena dulu.
“Lihatlah, Salva yang sekarang udah punya kakak bergaji besar, dia sama sekali nggak berubah. Dia tetap Salva yang dulu, yang nggak memilih-milih dalam berteman,” ucap Revan mengamati Salva yang terlihat tertawa riang bersama dua teman barunya.
“Aku juga bangga punya adik kayak dia.”
“Dia mirip kayak kamu.” Revan melirik Elena, yang dilirik balas melirik dan kemudian mengalihkan pandangan kembali ke Salva mengingat tatapan Revan terlihat berbeda.
“Aku jadi keinget Dinda. Aku nggak nyangka Dinda akan ngelepasin kamu. Ini pengorbanan besar.”
“Dia gadis yang baik. Tapi sayangnya aku nggak bisa mencintai dia seperti dulua ku mencintainya, aku lupa dnegan perasaanku dulu. Aku hanya cinta sama kamu sekarang. Aku jahat, ya? Aku nggak bisa menghargai atau seenggaknya sedikit mengorbankan perasaanku demi dia. Aku egois karena maunya hanya sama orang yang aku sayangi.”
Revan tersenyum mendengar jawaban Elena. Ia tahu Elena membelanya demi menjaga perasaannya.
“Jadi beberapa hari ini kamu tinggal dimana?” Tanya Revan.
“Di kosan.”
__ADS_1
“Besok-besok jangan pernah pergi lagi ya, aku nggak kuat kalau kamu tinggalin.” Revan berbiara dengan gaya seperti sedang beradegan di film-film.
“Mulai, deh. Jangan ngajak ribut.” Elena menatap dengan sorot tajam tanda mengancam.
“He heee… Setelah ini kamu balik lagi ke rumah kontrakan ya.”
Elena mengangguk. “Aku udah gajian, aku juga udah daftar kuliah. Aku akan cicil hutangku ke kamu untuk gaji periode bulan berikutnya.”
“Kalau kita nikah, cicilanmu itu kuanggap lunas. Masak sih istri ngutang sama suaminya sendiri. Nggak lucu, Elena. Makanya kita cepetan nikah biar hutangmu cepet lunas.”
Elena hanya mengangkat alis sambil tersenyum tipis.
“Ya udah, kita pulang, yuk!” ajak Revan.
“He’em.”
Elena mendekati Salva dan mengajak adiknya itu pulang. Mereka berpamitan pada dua bocah yang akan ditinggalkan. Mereka berjalan menuju mobil yang diparkirkan di kejauhan, menyusul Revan yang melangkah gontai menuju ke mobil.
__ADS_1
TBC