
“Ini apaan?” tanya Boy sambil terus mengeruk-ngeruk.
“Kerak,” jawab Elena ketus. “Kenapa? Lo mau ngeledek lagi? Mo ngatain gue nggak bisa masak? Masak nasi pake kayu emang selalu ninggalin kerak.”
“Iya iya. Gue kan cuma nanya. Lo sewot mulu. Jangan galak-galak, ntar cantik lo hilang,” katanya kemudian menyantap nasi dengan lahap.
Elena tak membalas. Cepat menyantap nasi. Ia tidak sadar sesungguhnya ia dikaruniai wajah yang sangat cantik. Bahkan mungkin kecantikannya melebihi kecantikan miss Indonesia, atau miss universe. Tapi siapa yang memandang kecantikannya itu? Dia dikenal sebagai perempuan melarat. Berpakaian compang-camping seperti orang gila. Hanya Boy yang menyadari kecantikan Elena. Sehari-hari Boy menatap wajah itu, tentu dia sadar sepenuhnya bahwa Elena memiliki kecantikan yang luar biasa.
“Boy, gimana kalo sebenernya lo berasal dari orang kaya?” Elena mengulang pertanyaan yang membuatnya sering merasa gundah. Ia eringat kematian Dava yang nyawanya tidak sempat tertolong karena ketidakperdulian mereka yang kaya. “Gue benci orang kaya. Mereka sombong, angkuh, kikir, mereka membenci orang-orang melarat kayak gue. Mereka merasa jijik. Mungkin lo juga akan sama kayak mereka kalo ingetan lo pulih. Nggak akan sudi hidup dan tinggal di tempat menjijikkan kayak gini. Bahkan mungkin akan menghina gue.”
“Lagi-lagi lo ulang kalimat itu. Mau sampe kapan sih lo berpikir bahwa semua orang itu sama? Buruk banget penilaian lo sama gue? Jadi lo samain gue kayak mereka?”
Elena terdiam. Berpikir. Lalu berkata, “Lo mungkin nggak sama. Tapi itu udah bukan rahasia lagi. Kalaupun bukan lo yang muak sama orang melarat kayak gue, minimal keluarga lo yang bakalan ngebenci gue.”
“Jangan berpikiran negatif ngapa?” lembut suara Boy berusaha memberi pengertian.
__ADS_1
“Gue belum nemuin satu pun orang kaya yang mau memandang baik orang melarat kayak gue. Gue kenyang dengan hinaan dan remeh-temeh mereka.”
Boy diam. Dalam hati merasa mengerti dengan kemarahan Elena. Kemarahan terhadap sikap buruk mereka yang hidup bergelimang harta. Elena berkata demikian bukan tanpa alasan, kematian Dava menjadi saksi ketidakperdulian mereka yang kaya pada kemiskinannya.
Salva mengganti pakaian dengan seragam merah putih setelah selesai makan. Memasang tas di punggung. Dengan senyum lebar dia berseru, “Salva pergi sekolah dulu. Sampai jumpa lagi!” Bocah cilik berwajah cantik itu melambaikan tangan, lalu berlari keluar rumah.
Boy berjalan ke pintu. Mengamati kepergian Salva. Bocah kecil itu melompat kesana-sini sambil bernyanyi. Rambutnya yang diikat di ubun-ubun dengan karet itu bergoyang-goyang seiring lompatan tubuhnya. Biasanya Elena yang selalu mengikat rambutnya yang panjang itu, tapi beberapa hari terakhir, sentuhan tangan Boy yang mengikatnya. Seragam sekolah yang dikenakannya tampak kusut karena tidak pernah tersentuh setrika. Perjalanan menuju sekolah cukup jauh. Semua itu tidak meruntuhkan tekad dan semangat Salva menuntut ilmu. Boy tersenyum mengamati bocah cilik itu hingga mengecil di ujung jalan.
“Dia ngegemesin,” lirih Boy.
Boy menoleh dan mengangguk.
“Dia emang pinter, ceria, dan hebat,” puji Elena.
“Iya, kayak lo,” sahut Boy. Kemudian berjalan keluar meninggalkan Elena yang terbengong mendengar kata-kata yang terceletuk dari mulut Boy.
__ADS_1
“Ayo, cepetan!” seru Boy membuyarkan lamunan Elena. Punggungnya telah dicantoli karung yang kerap dibawanya memungut barang rongsokan.
“Cepetan? Kemana?” tanya Elena seperti orang tolol.
“Lha, kerja, dong. Nyari duit. Katanya lo kepengen jualan soto. Kumpulin modal, kita pasti bisa jualan soto!” seru Boy penuh semangat.
***
To be continued
Author Note : Nggak bosen aku katakan ini, jangan lupa baca karyaku berjudul PCARKU DOSEN, kalian bakalan ketawa ngakak, baper, dan menemukan banyak pengalaman di sana. Itu cerita yang paling kuandalkan dan menguras energy banget.
So, jangan sampe ketinggalan baca.
Love,
__ADS_1
Emma Shu