
“Tante baru selesai mandi, jadi maaf agak lambat menemuimu.”
“Nggak apa-apa.” Elena tersenyum kikuk. “Mm…” Elena bingung harus memulai dari mana.
“O ya, soal dompet itu, makasih ya kamu udah kembaliin dompet tante,” potong Tante Vira. “Tante nggak nyangka, ternyata kamu yang menemukan dompet tante yang hilang. Andai saja bukan kamu yang menemukannya, tentu sudah raib semua isinya. Sebenernya bukan isinya yang tante cemaskan, tapi seluruh kartu di dalamnya. Semuanya penting.” Tante Vira memandang Elena penuh rasa bangga. Ia kagum, betapa tulus dan jujurnya hati gadis di hadapannya itu, bersedia mengembalikan dompet yang isinya sangat menggiurkan. Sampai detik ini kekaguman di benak Tante Vira tidak berkurang. Gadis itu sangat luar biasa di matanya.
Elena tersenyum. Tidak begitu menangkap apa yang dikatakan Tante Vira. Pikirannya menerawang, memikirkan bagaimana caranya membuka pembicaraan untuk mengutarakan maksud tujuannya.
“Ayo masuk!” ajak Tante Vira.
Elena masih membeku. Dan bergerak melangkah mengikuti Tante Vira ketika perempuan paruh baya itu menyentuh lengannya dan membimbingnya memasuki rumah megah.
Angin sejuk dari Ac menyapu kulit. Bola mata Elena berputar mengamati ruangan luas berisi perabot serba wah. Lampu gantung berukuran besar menjadi daya tarik tersendiri baginya. Kemudian pandangannya jatuh di lantai keramik super mewah.
__ADS_1
“Tante, apa saya mengganggu?”
“Enggak. Sama sekali nggak mengganggu. O ya, kamu tunggu sebentar di sini, ya!” Tante Vira meninggalkan Elena, menaiki anak tangga.
Elena mematung. Apa yang harus ia katakan? Kalimat apa yang pantas untuknya memulai pembicaraan? Ya Tuhan, Elena merasa tak enak hati. tante Vira terlalu baik, apakah pantas ia meminta bantuan pada Tante Vira? Bagaimana kalau Tante Vira akhirnya malah berpikir kalau ia memanfaatkan situasi?
Tak lama kemudian Tante Vira turun.
Elena tersenyum. Tak salah jika ia menganggap Tante Vira adalah wanita berhati baik. Lihatlah, senyumnya begitu memuliakan. Kata-katanya menenangkan. Tatapannya teuh.
“Sewaktu satpam bilang bahwa orang yang menemukan dompet saya bernama Elena, saya sempet kepikiran kamu. Ternyata dugaan saya bener. Elena yang dimaksud adalah kamu. Syukurlah kamu dateng ke sini. Jadi Tante nggak harus nyariin kamu kemana-mana.” Tante Vira gembira. “O ya Elena, ini ada sedikit buat kamu. Ambilah!” Tante Vira menyodorkan sebuah dompet kecil.
“Apa itu?” tanya Elena.
__ADS_1
Tante Vira membuka resleting dompet. Menunjukkan isinya. Tak lain emas.
Elena tersentak. Bukan itu maksud kedatangannya. Bukan untuk meminta tanda jasa karena telah menemukan dompet dan mengembalikannya pada Tante Vira. Ia sama sekali tidak mengharapkan imbalan.
“Enggak, Tante. Saya ke sini bukan untuk itu,” ujar Elena menolak. Tangannya tidak mau menerima pemberian Tante vira.
Tante Vira tersenyum, lembut menyentuh tangan Elena. “Elena, seandainya kamu nggak nyerahin dompet itu ke tante, semua milik tante itu sudah hilang. Ini adalah sebagai tanda terima kasih dari tante. Kamu pantas mendapatkannya. Jangan tersinggung ya, Nak. Tante nggak bermaksud buruk, kok. Maksud Tante baik, beneran!” Tante Vira meyakinkan.
“Tapi maaf Tante, saya nggak bisa menerima itu. Urusan dompet yang saya kembaliin ke tante itu udah selesai. Nggak perlu lagi ada tanda terima kasih. Dan sekarang, maksud kedatangan saya kesini untuk minta bantuan tante.” Elena berhenti. Sulit melanjutkan. Ia merasa tidak pantas mengajukan permohonan bantuannya itu.
TBC
KLIK LIKE
__ADS_1