
Revan tersenyum. Lembut menyentuh pipi Salva yang imut. “Biar ajalah Tuhan yang atur operasi Salva, Tuhan pasti baik.”
Salva menunduk sebentar. Lalu kembali mengangkat wajah yang ketakutannya telah hilang begitu saja. Tatapannya berani.
“Berdoalah!” lirih Revan.
“Berdoa apa?” tanya Salva polos. Suaranya tidak lagi gemetar. Tumbuh kekuatan yang mendadak muncul melawan rasa takut.
“Apa aja. Mintalah pada Tuhan sebelum Salva dioperasi.”
Salva berpikir. Kemudian mengangkat kedua tangan hingga di atas dada. Menatap ke langit-langit rumah sakit. “Ya Allah, Salva sakit. Dan sekarang mau dioperasi. Allah kan maha Tahu, Allah pasti udah tau itu. Salva mohon operasinya dilancarin, ya! Salva cuma minta keselamatan sama Allah aja. Segalanya pasti menjadi mudah jika Engkau permudah. Amin.” Salva mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya.
__ADS_1
Revan terharu. Mengusap atas kepala Salva beberapa kali.
Andai saja Elena tahu kejadian itu, tentu Elena akan tahu betapa besar rasa sayang yang ditumpahkan Revan untuk Salva. Sayangnya, Elena tidak tahu. Gadis itu terus memeluk adiknya erat-erat. Bersyukur karena Allah tidak mencabut nyawa adiknya di kamar operasi. Sesungguhnya Elena tahu bahwa amandel bukanlah penyakit yang mematikan. Tapi rasa trauma akan kehilangan membuatnya bersikap tidak normal. Akalnya kalah oleh perasaan trauma. Jangan salahkan dia bila bersikap setakut itu menghadapi kenyataan, karena memang kenyataan hidupnya begitu pahit.
Salva membalas pelukan kakaknya.
Revan berdiri terpaku, berkaca-kaca melihat pertemuan yang mengharukan. Betapa besar rasa cinta Elena terhadap kehidupan adiknya. Dan kebahagiaan Elena saat itu adalah anugerah besar untuk Revan.
Kebahagiaan Elena membuncah. Sampai-sampai ia mengesampingkan pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan. Siapa orang yang telah berbaik hati memberikan uang operasi untuk adiknya? Ia belum berterima kasih.
Elena tak kuasa membendung rasa gembira saat Salva mengatakan bahwa ia membaca basmallah sebelum dokter menyuntikkan bius. Sampai-sampai Elena tak menyadari ketika wanita tengah baya datang memasuki kamar memanggil Revan. Cepat-cepat Revan menarik tangan perempuan itu keluar kamar. Dialah Bik Nur.
__ADS_1
“Ada apa, Mas Revan?” tanya Bik Nur bingung melihat sikap Revan yang buru-buru meyeretnya keluar seperti sedang menghindari sesuatu.
Revan tidak membantah dengan panggilan itu karena memang namanya Revan. Kepalanya menoleh ke belakang. Pada pintu yang baru saja ditutupnya.
“Mas Revan, bagaimana kondisi Salva? Dia baik-baik saja?” Bik Nur mengutarakan pertanyaan lain.
Revan memandangi wajah Bik Nur yang dihidibalutas kecemasan. Betapa beruntung ia memiliki pembantu seperti Bik Nur, yang rela melepas separuh pikirannya untuk memikirkan nasib orang lain yang bukan siapa-siapanya.
Sebelum Salva dilarikan ke rumah sakit, Revan meminjam ponsel Aini. Revan memencet-mencet nomer, kemudian dihapus. Memencet lagi. Dihapus lagi. Ah, ia lupa nomer telepon rumahnya. Ingatannya belum benar-benar pulih.
Sambil menggenggam ponsel Aini, Revan terus berusaha mengingat-ingat nomer telepon rumah. Hanya tujuh angka. Tujuh angka yang mudah dihafal. Dan dulu ia hafal angka itu. Revan terus mengingat. Satu per satu angka itu muncul di kepalanya. Ia mulai mengingat semua angkanya. Dengan memejamkan mata, jarinya mengetik angka sesuai ingatan di kepala. Berhasil. Nyambung. Suara Bik Nur menyahut di seberang. Ia mulai kembali hafal suara itu.
__ADS_1
Bik Nur sangat gembira menyambut suara Revan yang dikenalnya.
TBC