I am a Virgin

I am a Virgin
06. Tentang Elena


__ADS_3

“Salva, tukar pakaianmu. Ayo, makan!” ajak Elena meletakkan tiga piring dan tiga gelas yang masing-masing diisi dengan air mineral dari teko.


Salva cepat-cepat menukar pakaian, namun gerakannya terhenti ketika seluruh kancing kemeja telah dibuka.


“Hayooo… Kak Boy jangan ngintip. Tutup matanya!” perintahnya seperti seorang guru sedang menghukum murid.


Boy tertawa. Ia tidak menutup matanya, melainkan bangkit berdiri dan kemudian keluar. Setelah terdengar teriakan Salva memerintahnya masuk, barulah Boy kembali masuk.


Elena dan Salva sudah duduk di dekat hidangan yang disajikan. Boy bergabung. Dia menyiduk nasi setelah Elena dan Salva duluan mengambil porsi makanan masing-masing. Dengan lahap Boy menyantap nasi dan kentang tumis. Elena tergugu melihat Boy menikmati makanan apa adanya yang disuguhkan. Tanpa keluhan, tanpa komentar, lelaki itu terlihat lahap. Doyan atau lapar?


Usai makan, Salva berlari keluar. Bermain masak-masakan di belakang rumah.

__ADS_1


“Elena, tempat ini sepi banget, apa kalian nggak kesepian?” Boy membaringkan tubuh di atas papan, menjadikan kedua telapak tangannya sebagai alas kepala.


“Semasa ada Salva, gue nggak pernah ngerasa kesepian,” jawab Elena sambil mengemas piring-piring kotor dan menumpuknya ke dalam baskom besar. Nasi dan sisa lauk dikembalikannya ke tempat semula dan ditutup dengan tudung saji. Kemudian ia duduk menyandar melepas penat setelah tadi berkeliling memungut barang bekas. Matanya terpejam.


“Gue nggak bisa ngebayangin gimana ceritanya kalian berdua bisa tidur disini sewaktu malam tiba, apalagi kalo hujan.” Boy menatap atap yang berlubang-lubang hingga sinar matahari menembus masuk melalui celahnya.


Elena membuka matanya.


“Hah?” kejut Elena ketika melihat Boy sudah duduk di depannya. Bukannya tadi Boy berbaring di atas papan yang jaraknya agak jauh darinya? Mengejutkan saja.


“Lo tuh tiba-tiba meloncat ke sini, siapa yang nggak kaget?”

__ADS_1


“Sory, jangan marah-marah mulu, ngapa!” Boy menyandarkan punggung di dinding sisi Elena. “Keliatannya Salva itu anak yang cerdas. Dia juga lincah. Bokap nyokap lo pasti bangga kalo ngeliat Salva tumbuh sampe sekarang.”


Elena tertegun. Sekilas mengenang masa-masa indah beberapa tahun silam. Dulu, ia hidup di rumah yang layak bersama kedua orang tuanya. Ah, jika saja kedua orang tuanya masih ada, tentu nasibnya tidak akan seburuk sekarang. Siapa sangka titipan itu dicabut begitu mudahnya sesingkat kedipan mata. Waktu itu, Elena masih duduk di bangku SMA kelas tiga, Ayahnya meninggal dunia, meninggalkan Ibu yang masih mengandung lima bulan.


Disaat Elena selesai ujian nasional, Ibu menyusul ayah ke peristirahatan terakhir beberapa hari setelah melahirkan si bungsu, yang dinamai Dava oleh Elena. Mulai saat itu Elena menjadi kakak tertua, sekaligus menjadi orang tua untuk kedua adiknya. Dia berjuang menjaga Dava yang masih bayi merah dan Salva yang masih berumur empat tahun. Terpaksa, Elena memutus cita-citanya bersekolah di perguruan tinggi yang diimpikannya. Lulus SMA, ia memikul tanggung jawab menjaga kedua adiknya. Padahal, ia telah menerima surat bahwa dirinya terpilih sebagai siswi penerima bea siswa berperstasi ke perguruan tinggi. Apalah daya, cita-citanya terkubur bersama harapan yang selama ini dipupuk, demi kehidupan kedua adiknya.


Sungguh, biaya hidup yang tak murah, juga biaya sekolah Salva membuat Elena kehabisan akal. Apa lagi Elena mesti mengurus Dava yang baru dilahirkan, Dava membutuhkan susu formula. Habislah semuanya terjual untuk menyambung hidup Dava. Elena dan kedua adiknya mencari tempat tinggal gratis untuk bertahan hidup. Sekarang, mereka menempati rumah tak layak huni di dekat sungai ibu kota.


Kenangan yang melintas di ingatan Elena hilang begitu Boy berdehem.


To be continued

__ADS_1


Love,


Emma Shu


__ADS_2