
“Elena!”
Panggilan dari arah belakang membuat kepala Elena menoleh. Ia terkejut melihat Revan berdiri di ambang pintu.
Apakah Elena tidak salah lihat? Pria yang kini ada di hadapannya itu benar Revan? Ya, Elena tidak sedang berhalusinasi. Pria itu memang Revan.
“Elena, akhirnya aku menemukanmu,” kata Revan.
Elena berjalan mendekati pria itu. Bahkan Revan bisa tahu kalau sekarang Elena berada di sana. Betapa erat ikatan batin mereka. Elena keluar sembari menarik lengan Revan.
“Ngapain kamu ke sini?” Tanya Elena. “Aku kan udah bilang agar kamu nggak usah ingat-ingat aku lagi. Kehidupanmu sekarang adalah Dinda. Jangan biarkan aku jadi cewek paling jahat yang tega mengoyak perasaan wanita lain. Aku sangat tahu perasaan Dinda, pasti dia ngerasain sakit, sama seperti sakit yang kurasakan.”
“Kamu salah, Elena. Aku sekarang justru bahagia sudah menemukanmu.”
__ADS_1
Kalimat yang baru saja terlontar bukan dari mulut Revan, melainkan dari suara lembut yang bersumber dari arah belakangnya. Elena menoleh dan terkejut melihat Dinda. Kini Elena hanya bisa terbengong. Ada banyak pertanyaan yang berkelebatan di kepala Elena sekarang. Namun Elena tidak bisa mengutarakannya, dia biarkan saja semua pertanyaan mengendap di kepalanya karena terlalu banyak dan tak sanggup Elena menuangkannya satu demi satu.
“Revan bilang ingin menikahiku, tapi bukan karena kemauannya, melainkan karena kemauanmu. Itu namanya bukan cinta. Untuk apa aku memaksakan cinta Revan yang jelas-jelas bukan untukku?” Dinda menghambur dan memeluk Elena erat. Tangisnya pecah. “Makasih, Elena. Kamu udah ngajarin aku satu hal besar, yaitu pengorbanan. Kalau kamu aja bisa berkorban untuk ninggalin cowok yang mencintaimu demi aku, kenapa aku nggak bisa? Aku harus bisa menjadi sepertimu, mengorbankan perasaanku demi wanita lain yang dicintai oleh orang yang aku cintai. Kamu luar biasa, Elena.”
Elena membalas pelukan Dinda. Ia tidak bisa berkata-kata. Ternyata gadis yang dia anggap luar biasa, justru menganggapnya luar biasa. Mereka sama-sama wanita, sama-sama mengerti dengan apa yang masing-masing lawanny rasakan.
“Kamu adalah cewek yang dipilih oleh Revan. Kamulah yang seharusnya menikah dnegannya, bukan aku,” lanjut Dinda. “Aku bener-bener ikhlas ngelepas Revan dengan gadis sepertimu, gadis yang rela mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku, juga kebahagiaan Revan.”
“Tapi hakku udah gugur sejak kamu mengorbankan perasaanmu. Aku ikhlas, Elena. Beneran, aku ikhlas.”
Revan tersenyum haru menatap dua gadis itu berpelukan. Ah, dia jadi ingin ikutan memeluk.
“Kembalilah ke Revan. Dia menunggumu.” Dinda melepas pelukannya, menatap Elena kagum. Wajahnya basah oleh air mata.
__ADS_1
Elena menoleh ke arah Revan. Pria itu tersenyum. Kemudian pandangan Elena kembali ke wajah Dinda.
“Kamu yakin kamu nggak apa-apa?” Tanya Elena.
“Aku jauh lebih lega sekarang. Aku baik-baik aja. Percayalah.” Dinda tersenyum. Dia kemudian balik badan dan berjalan pergi. Ia melintasi Salva dan mengelus singkat pucuk kepala bocah itu. Ia naik ke mobil yang terparkir jauh, kemudian mobil melaju pergi dan menghilang dari pandangan.
Tinggalah Revan dan Elena yang kini bertukar pandang.
Revan mengangkat alis dan tersenyum tipis, kemudian ia merentangkan kedua tangannya. “Aku juga mau dipeluk,” ucapnya enteng, tanpa beban.
Dasar, Revan! Mulai nakal! Muka Elena memerah. Ingin sekali ia mencubit atau minimal memukul lengan kekar pria itu sebagai bentuk hukuman.
***
__ADS_1