
Revan memutar manik matanya gusar, berharap mendapat dukungan dari mamanya. Kini, perasaannya hanya tertuju pada Elena. Tak secercah pun harapannya timbul untuk Dinda.
“Revan, Rasanya mami masih belum percaya dengan penjelasanmu.” Vira menatap Revan mengharap penjelasan lebih lanjut. Ia ingat, saat pertama kali bertemu dengan Revan, ia dan suaminya langsung memeluk Revan. Perasaannya telah buncah oleh kebahagiaan atas pertemuan itu, sampai-sampai ia tidak membutuhkan keterangan apapun karena kebahagiaannya telah sempurna dengan menatap kehadiran Revan sehingga ia tidak banyak tanya. Ia sudah merasa cukup dengan penjelasan Revan yang mengatakan kalau selama menghilang, Revan kehilangan ingatan, ia hidup dan tinggal di sbuah gubuk. Itu saja. Vira tidak bertanya lebih banyak lagi tentang kehidupan Revan selama menghilang dari rumah. Ia bahkan tidak menyangka jika ternyata kepergian Revan memiliki sangkut paut dengan Elena, gadis yang berhati mulia, mengembalikan hartanya tanpa secuilpun yang hilang.
“Ini kenyataan, Mam. Elena, gadis yang pernah datang ke rumah untuk meminta bantuan sama Mami tapi nggak jadi itu adalah orang yang telah menyelamatkan hidupku.” Revan duduk di sisi ranjang. Pandangannya menerawang ke depan dan lidahnya dengan rinagn menceritakan semua yang terjadi saat ia dikejar perampok hingga terjatuh ke sungai. Elenalah malaikat penyelamatnya. Revan menceritakan bagaimana kehidupan Elena dan adiknya yang begitu miris, bagaimana Elena berjuang mempertahankan kehidupan adiknya, serta semua tentang Elena hingga Ervan membawa gadis itu tinggal di kontrakan bersama Salva.
Vira mengesah mendengar kisah yang diceritakan puteranya. “Masyaa Allah, jadi Elena yang menolongmu?” Vira takjub. “Entah sudah berapa kali dia menjadi penyelamat di keluarga kita.”
“Ya, ijinkan aku membawanya pulang sebagai pendamping hidupku.”
__ADS_1
Wajah Vira berubah sedikit lebih tegang. “Revan, Mami begitu mengagumi sosok Elena. Mami bahkan sangat menyanjungnya karena dia memiliki hati yang mulia. Dia menemukan dompet mama yang berisi emas tapi sedikit pun dia tidak tergiur untuk mengambilnya meski dalam keadaan hidupnya yang seperti sekarang. Tapi sekarang masalahnya berbeda, antara kamu dan Elena hanya terkait dua orang saja. Sementara antara kamu dan Dinda terkait dua keluarga, di sini banyak yang dilibatkan.”
“Jadi Mami nggak menyetujui hubunganku dengan Elena?” Revan menatap Vira keceawa. Manik matanya berputar resah.
“Bukan begitu maksud Mami, tapi ini situasinya berbeda. Andai saja tidak ada sebelum Elena, tentu Mami akan menyetuji hubunganmu dengan Elena. Kita sudah membicarakan banyak hal pada Dinda soal hubungan kalian.”
“Jujur saja, Mami bahagia saat tahu bahwa Elenalah yang telah menyelamatkan hidupmu, Mami bahkan jauh lebih bahagia jika dia menjadi menantu Mami, dia gadis yang baik. Tapi kita tidak bisa memikirkan sepihak saja, ada sisi lain yang juga harus dipertimbangkan.”
“Aku mengerti, Mam. Tapi aku nggak bisa menikahi Dinda. Aku mencintai Elena, mau gimana lagi?”
__ADS_1
“Revan, lalu bagaimana dengan keluarga besar Dinda? Mereka selalu membicarakan hubunganmu dengan Dinda.”
“Masih ada waktu, Mam. Aku dan Dinda belum menikah, dan aku masih bisa menentukan pilihan sebelum terlambat. Dinda justru akan jauh lebih terluka jika dia dinikahi laki-laki yang merasa asing pada istrinya sendiri karena perasaannya telah hambar.”
Vira menatap Revan menyerah. Ia mengerti putranya itu sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan, tapi tentu saja ia juga harus menanggung resiko jika putranya itu mengambil jalan untuk memutuskan hubungan sepihak. Ini tidak mudah untuk ia jalani. Namun ia juga tidak bisa memaksakan kehendak anaknya, karena kebahagiaan anaknya tidak bisa ditawar. Dan ia menginginkan putranya bahagia.
***
TBC
__ADS_1