
“Jadi, berapa uang yang kamu inginkan?” ulang Om Davin. Ia benar-benar ingin melihat Elena menerima uang darinya, dan ia akan meminta imbalan yang setimpal. Itu saja.
Elena bergumam dalam hati. Berapa jumlah uang yang harus gue sebut? Sepuluh juta? Dua puluh atau tiga puluh? Kalo gue sebut tiga puluh juta, apa itu nggak kebesaran? Ah, gue bisa pake sisa uangnya untuk kehidupan gue dan Salva agar lebih baik.
My God, sekilas Elena sempat mengingat perasaan rindu dan iri pada apa yang sering dilihat. Rasa rindu atas kehidupan yang lebih baik, seperti ketika orang tuanya masih ada. Rasa rindu akan berbagi. Rasa iri ketika melihat mereka yang bersekolah tinggi. Rasa iri melihat mereka yang beruntung di Universitas pilihan. Hingga muncul sumpah yang bersemayam di dalam hati. Ia berjanji menukar masa depan Salva dengan kebahagiaan, dengan indahnya merasa cukup.
Jika ia pulang membawa uang berjumlah banyak, tentunya masa depan yang lebih baik bukanlah janji semata. Tapi kenyataan.
“Hallo Elena… Berapa?” Om Davin mendesak.
“Mmm… dua… eh, tiga puluh juta.”
Om Davin menyernyitkan dahi.
__ADS_1
Elena mendadak cemas. Takut kebanyakan.
“Oke. Nggak masalah.” Om Davin tersenyum. Tiga puluh juta adalah nilai setimpal untuk harga seorang gadis. “Uang sebanyak itu bisa untuk memperbesar usahamu berjualan soto. Kamu bisa mencari tempat yang lebih layak. Kemudian membeli peralatan untuk keperluan jualanmu.”
Elena diam. Terserah lelaki itu mau berpikir apa tentangnya. Begitu mudah lelaki itu menyerahkan uang tiga puluh juta kepadanya. Apa yang diharapkan darinya jika bukan satu-satunya harta paling berharga di dirinya? Keperawanan. Hanya itu yang dia punya.
“O ya, soto buatanmu enak sekali. Sangat lezat dan nikmat,” desis Om Davin mengingat sebungkus soto yang ia buang di tengah jalan. “Aku yakin semua yang ada padamu itu sangat nikmat. Hmmm…”
“Kita ketemu dan bawa uangnya buat gue.” Elena tak peduli dengan apa yang dikatakan Om Davin. Meski kulitnya sempat merinding.
“Terserah Om aja.”
“Baiklah, pergilah ke kafe Delima di jalan Anggrek. Saya akan langsung meluncur kesana sekarang.”
__ADS_1
“He’em. Jangan lupa, siapin uangnya.” Elena meletakkan gagang telepon sembari melepas nafas panjang. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia sedang mengikuti emosi. Apapun itu, ia hanya ingin Salva bisa segera lepas dari sakitnya. Hatinya teriris melihat Salva mengeluhkan sakit.
Elena berjalan kaki menuju kafe yang disebut. Tak jauh dari wartel. Om Davin memilih tempat tak jauh dari lingkungan Elena sehari-hari berkeliling menjajakan soto. Elena berdiri di depan kafe. Ragu-ragu memasukinya. Sepintas matanya menyapu pakaian yang melekat di tubuhnya sendiri. Rasanya tak pantas ia duduk di kafe itu. Tapi buru-buru ia menepis perasaan itu. Ah masa bodo, itu adalah hidupnya. Buat apa perduli dengan pandangan orang? Kakinya melangkah masuk setelah membuang jauh perasaan canggung.
Ia duduk di salah satu meja. Seorang pelayan menghampiri dan menanyakan pesanan. Elena menggeleng. Lalu menjawab, “Tunggu teman gue dateng.”
Pelayan mengangguk. Sekilas pelayan memandangi penampilan Elena yang dirasa aneh. Kusut dan lusuh.
“Ngapa ngeliatin gitu?” sewot Elena mendadak kesal dipandang begitu.
Pelayan cepat pergi sebelum Elena melempar sendok ke wajahnya.
Elena mendengus kesal. Selalu begitu. Pandangan mereka penuh cemeeh dengan manusia berpenampilan compang-camping sepertinya. Tapi tidak masalah. Semua akan segera berlalu. Elena akan mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bisa dipakai untuk operasi Salva, sisanya untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Beli pakaian baru. Punya rumah kontrakan. Pikiran itu terbesit begitu saja melalui bisikan kecil di hati. Ajakan itu terus membujuk dan menggodanya agar mengikuti hasrat.
__ADS_1
TBC