
Sepeninggalan Vira, Revan merasa situasinya kini berubah asing. Gadis di sisinya benar-benar telah mengubah situasi. Ia menoleh dan menatap Dinda yang saat itu juga tengah menatapnya.
Beberapa detik keduanya terlibat adu pandang dan hanya diam memikirkan sesuatu yang menjejal pikiran masing-masing. Revan yakin gadis di hadapannya itu memiliki satu harapan besar. Tapi Revan tidak mau berpikir panjang mengenai itu.
Revan masih terus mengingat-ingat gadis itu, gadis yang kini tidak memiliki ruang di hatinya, karena hatinya sudah terisi penuh oleh nama Elena dan tidak ada lagi celah untuk wanita lain.
“Van, lo inget gue? Dinda.” Gadis itu mulai bicara. Suaranya yang lembut dan senyumnya yang terus terurai membuat Revan mengingat sesuatu. Mengingat senyuman itu. senyuman yang dulu pernah mengukir hidupnya.
Melihat raut wajah Revan yang masih terlihat bingung, Dinda menyentuh tangan Revan berusaha untuk membuat Revan kembali ke memori masa lalu. “Lo inget dengan sentuhan tangan gue?”
Revan menatap tangannya yang kini berada di genggaman Dinda. “Mm... Gue... Maaf, Din, gue nggak inget.”
__ADS_1
Ekspresi wajah Dinda terlihat kecewa bahkan memucat dalam hidtungan detik. “Lihat cincin ini, ini cincin tunangan kita.”
Revan masih diam.
“Ini bukti cinta lo ke gue, Van. Lo mengucapkan kata cinta saat menyematkan cincin ini ke jari gue.” Dinda mengusap-usap cincin bermata merah di jemari manisnya.
Bukti cinta? Revan bahkan benar-benar telah lupa bagaimana perasaannya terhadap Dinda. Revan menatap cincin itu dengan seksama. Pelan-pelan ia mulai mengingat sesuatu, cincin itu membuat memori kepalanya speerti flashback ke masa lalu. Ia memang pernah menyentuh cincin itu, tapi ia masih lupa kapan tepatnya cincin itu ia pegang.
Entah bagaimana tiba-tiba Revan ingat tangannya pernah berada dalam genggaman gadis itu. mereka berada di perbukitan, di tempat yang sejuk dan saat itu tangannya berada dalam genggaman Dinda, mereka saling menatap dan tertawa satu sama lain, tapi Revan lupa kejadian itu entah dimana.
“Kuharap kamu nggak melupakan kisah cinta kita,” lanjut Dinda yang tak mau putus asa.
__ADS_1
Sekarang Revan baru ingat, bahwa ternyata ia pernah menjalin hubungan khusus dengan gadis di hadapannya itu, hubungan yang sangat dekat dan mungkin sudah sangat jauh. Revan tidak pernah main-main dengan perasaan, termasuk saat ia jatuh cinta pada Elena, mungkinkah ia menaruh rasa yang sama dalamnya terhadap Dinda waktu itu? tapi saat ini hatinya telah terisi oleh Elena.
Melihat cara bicara Dinda, serta tatapan mata gadis itu, Revan yakin kalau Dinda adalah gadis baik-baik. Sungguh Revan tidak kuasa mematahkan hati gadis itu untuk saat ini. revan butuh waktu.
“Revan, kamu ingat nggak, kamu sangat suka dengan ayam goreng krispi? Kamu suka baju warna biru. Kamu suka traveling. Aku tahu semua kesukaanmu.”
“Aku bahkan nggak ingat dengan semua itu. segala dalam diriku, justru kamu yang tahu. Pada diriku sendiri saja aku merasa asing, apa lagi pada orang lain?”
“Aku yakin kamu akan mengingat semuanya, sama halnya kamu mengingat kedua orang tuamu, juga asisten rumah tanggamu.” Dinda semakin antusias, berharap Revan akan mengingatnya.
TBC
__ADS_1