I am a Virgin

I am a Virgin
87. Extra Part 5a


__ADS_3

Langkah lebar Elena membawanya memasuki sebuah gedung perkantoran, gedung yang di mata Elena sangat bagus dan mewah. Setiap sudut ruangan tampak rapi dan bersih. Elena duduk di sebuah kursi, mengantri diantara beberapa orang pelamar kerja lainnya.


“Mbak Elena, ya?” seorang pegawai pria menghampiri Elena.


“Iya,” jawab Elena.


“Mari ikut saya.” Pegawai tersebut menunduk dengan sopan dan tersenyum ramah.


“Baik.” Elena bangkit berdiri dan mengikuti pegawai tersebut meski sesungguhnya ia dilanda rasa bingung. Akan kemana ia dibawa, dan kenapa hanya dirinya yang dipanggil oleh pegawai tersebut? Bukankah pelamar lain yang mengantri terlebih dahulu sudah sangat banyak?


“Saya Arga, saya mendapat kiriman foto Mbak dari Mas Revan. Beliau meminta saya untuk mempertemukan Mbak pada bagian Personalia,” ujar pegawai tersebut.


Elena mengangguk. Sebenarnya ia ingin mengatakan kalau apa yang Revan lakukan kepadanya adalah sebuah kekeliruan. Seharusnya Elena tetap mengantri seperti calon pegawai lainnya, seharusnya Elena mengikuti prosedur perusahaan, bukan dianak emaskan seperti ini. Ada rasa tidak tenteram dalam benaknya menerima perlakuan itu. Seperti sebuah nepotisme atau sejenisnya. Elena tidak pernah menginginkan hal itu.


“Mas Arga, apakah aku nggak dites? Apa aku juga nggak ikut ionterview seperti yang lainnya?” tanya Elena.

__ADS_1


“Sepertinya tidak. Soalnya Mas Revan meminta saya langsung mempertemukan Mbak sama personalia. Berarti Mbak nggak melewati proses tersebut. Sebab setiap karyawan yang sudah lulus tes dan interview, maka akan menghadap personalia untuk proses selanjutnya.”


Langkah Elena terhenti.


Arga menoleh, mengernyit menatap Elena yang berhenti.


“Maaf Mas, aku mau ikut prosedur seperti yang lainnya aja.”


“Loh, kenapa? Ini perintah Mas Revan, kok.”


“Aku tahu. Tapi aku mau ikuti prosedur seperti yang lainnya aja. Ini akan terasa adil bagiku.”


“Tapi… aku nggak bisa membantah perintah pimpinan. Mas Revan adalah pimpinan di sini.”


“Jangan katakana soal ini ke Mas Revan.”

__ADS_1


“Kenapa Mbak nggak mau melalui jalan yang enak aja sih Mbak? Belum tentu Mbak lulus kalau Mbak ikuti prosedur perusahaan.”


“Aku ingin menguji kemampuan dan potensi dalam diriku sendiri. Ini akan menjadi tantangan untukku. Kuharap kamu mengerti. Maaf jika ini justru merepotkanmu.”


Arga menatap bangga pada Elena. “Jangan minta maaf. Aku justru bangga padamu. Hanya saja, bagaimana jika ternyata kamu nggak lulus seleksi?”


“Itu resiko yang harus kuterima.” Elena berbicara dengan penuh percaya diri, membuat lawan bicaranya semakin bangga.


“Baiklah. Tapi… bisakah kamu melakukan hal ini tanpa melibatkanku? Aku nggak mau disalahkan oleh Mas Revan jika terjadi resiko yang tidak diinginkan.”


Elena tersenyum. “Kamu udah menjalankan tugasmu dengan baik. Jangan khawatir, kamu nggak akan mungkin terseret ke dalam masalah ini. Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja. Sebab Mas Revan itu orang baik. Kalaupun aku nggak lulus seleksi, minimal aka nada pilihan lain yang pasti akan dia berikan padaku. Baiklah, aku permisi.”


Elena kemudian balik badan dan melenggang menuju ruangan yang tadi ia tinggalkan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2