
“Minta bantuan apa?”
“Mm…”
“Elena… Ada apa? Katakan!” tante Vira melipat dahi melihat Elena yang mendadak bingung.
“Saya… Saya bermaksud mau pinjem uang tante.” Nekat ia mengucapkan kalimat itu.
Tante Vira tersenyum. “Lah, kamu kan bisa jual emas ini.” Tante Vira kembali menunjuk emas di dalam dompet kecil.
“Sekali lagi Tante, saya udah nggak ada urusan lagi dengan emas-emas yang saya kembaliin ke tante. Sebab beda nilainya antara saya berniat mengambil imbalan dari apa yang telah saya lakukan ke tante, dengan berniat meminta bantuan. Beda, Tante. Sekarang ini saya berniat minta bantuan Tante.”
Tante Vira tersenyum lagi. Terserah bagaimana Elena menyikapi. Apapun itu, Tante Vira bermaksud ingin membantu kehidupan orang yang telah berjasa padanya. Orang berjiwa besar yang begitu jujur. Sungguh beruntung ia mengenal gadis di hadapannya itu. Ia sudah cukup stres selama beberapa jam ketika dompet itu hilang dari tangannya. Dan begitu dompet itu kembali, rasa syukur menghujani hatinya. Ia berharap bisa bertemu dengan orang berhati baik yang bersedia mengembalikan dompet itu kepadanya. Berharap dompet itu ditemukan oleh manusia berhati malaikat yang tidak tergiur untuk menguras isi dompetnya. Dan sekarang, orang baik itu telah ada di hadapannya. Ia tidak akan menyia-nyiakan niat hatinya.
“Berapa uang yang kamu butuhkan?” tanya Tante Vira.
__ADS_1
“Mm…” Elena bimbang, ragu untuk menyebutkan nominalnya. Tiga puluh juta tidaklah sedikit. Tapi… jumlah kekayaan tante Vira sangat banyak. Barang kali uang segitu nilainya sedikit bagi tante Vira.
“Berapa, Elena?”
“Ti… Tiga puluh juta.” Elena ragu-ragu.
Tante Vira mengernyitkan dahi. Lamat-lamat menatap wajah Elena yang dihiasi kegundahan. Kemudian menjawab, “Oke.”
Elena terkejut. Tak menyangka begitu mudah Tante Vira mengiyakan.
“Tante nggak keberatan?” tanya Elena tak yakin.
Elena mengangguk lega. “Tapi saya nggak punya jaminan yang bisa Tante pegang selama uang itu saya pinjem.”
“Elena, kamu nggak perlu mengembalikan uang itu. Kamu tahu, uang segitu belum seberapa jika dibandingkan dengan jumlah emas yang ada di dompet saya. Emas itu ratusan juta. Di dalemnya juga ada berliannya, loh. Kemarin itu saya baru pesen sama toko emas.”
__ADS_1
“Tapi Tan, jumlah yang saya pinjem itu banyak banget. Apa Tante nggak rugi ngasih secara Cuma-Cuma ke saya?”
“Emas ratusan juta kembali ke saya, tiga puluh juta ke kamu. Sama sekali nggak rugi. Lagi pula, bukan untung rugi yang saya pertimbangkan, rasa terima kasih saya ke kamu. Itu yang ingin saya sampaikan.”
“Tante, makasih banyak.” Elena terharu, tak menyangka orang sekaya tante Vira memiliki hati dermawan.
Tante Vira merangkul Elena. Membimbingnya duduk ke sofa. Mereka duduk bersisian. Bersitatap.
“Tan, saya nggak tau mesti bilang apa ke Tante. Pokoknya makasih banyak.”
“Saya yang harusnya bilang begitu ke kamu. Kamu itu malaikat penolong saya. Tuhan mengirimkan manusia sebaik kamu untuk saya. Well, saya yang harus bangga ke kamu.”
Lagi, Elena tersenyum. “Apa Tante nggak geli mempersilahkan orang berpenampilan lusuh kayak saya duduk di sofa tente?”
“Elena, saya dulunya berasal dari orang melarat. Kedua orang tua saya adalah buruh kasar. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan ketika ayah saya sakit-sakitan, sudah nggak bisa bekerja lagi, penghasilan sehari-hari kami hanya mengandalkan ibu. Hidup kami sangat sulit. Kami dipandang hina oleh semua mata yang memandang.” Tante Vira menghela nafas. Mengingat masa lalunya yang begitu getir.
__ADS_1
**TBC
KLIK LIKE**