
Pandangan Revan dan Elena bertumpu pada satu titik, Salva. Kemudian keduanya saling pandang dan tersenyum kecil.
“Gue bahagia ngeliat Salva ketawa,” lirih Elena melempar pandangan ke arah Salva.
Revan mengangguk. Kemudian ia membuka aplikasi sosial media dan mencari sesuatu di sana.
"Elena, liat ini!" Revan menunjuk gambar yang diposting oleh pemilik akun di sosial media tersebut.
Perhatian Elena tertuju ke gambar yang ditunjuk dengan jempol oleh Revan. Gambar sederet rumah. "Ada apa dengan rumah itu?"
Revan tersenyum lalu berkata, "Apa lo mau tinggal di kontrakan itu? Gue kenal baik sama pemiliknya, dia adalah orang tua temen gue."
Elena malah terdiam. Mukanya berubah gusar.
"Kenapa, Elena?"
"Gue bukan siapa-siapa dalam hidup lo. Nggak lazim gue menerima tawaran itu."
__ADS_1
Revan mengesah. "Lo adalah calon ibu dari anak-anak gue. Apa gue salah kalo ingin ngebuat lo hidup lebih aman di sana. Gue nggak bermaksud buruk, suer maksud gue baik, gue mohon jangan tersinggung. Gue nggak akan bisa tidur tenang disaat gue memikirkan keadaan lo dan Salva di sini. Hidup kalian nggak akan aman di tempat seperti ini. Disaat gue tidur di tempat yang aman, apa gue tega ngebiarin lo dan Salva tidur di tempat yang mungkin aja bisa terseret hujan badai? Tempat ini nggak layak untuk keamanan hidup lo dan Salva, Elena. Plis, biarkan gue jadi manusia yang berguna buat kalian."
Elena tertegun menatap ketulusan y AC ng terpancar dari mata Revan. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
"Nah, gitu, dong. Setelah ini ajak Salva, kita akan berkemas ke kontrakan itu, okey?" ucap Revan dengan seulas senyum.
"Makasih."
Revan mengangguk senang. Pelan tangannya menyentuh tangan Elena. Sentuhan hangat tangan Revan membuat pandangan Elena beralih ke mata Revan. Beberapa detik keduanya bersitatap. Hangat nafas Revan menyapu wajah Elena. Wajah Revan berangsur mendekat ke wajah Elena. Elena menahan dada Revan saat bibir keduanya hampir bersentuhan.
“Lo yakin sayang sama gue?” tanya Elena.
“Lalu gimana sama Aini?”
Kening Revan mengkerut. “Aini? Memangnya ada apa dengan Aini?”
“Dia akan patah hati.”
__ADS_1
Revan terkekeh. Tawanya terhenti ketika Elena menepuk bahunya.
“Hubungan itu harus terjalin berdasarkan kerelaan, suka sama suka. Sehingga nggak akan ada yang teraniaya,” ujar Revan. “Gue nggak punya perasaan apa-apa sama Aini. Dia akan menjadi orang pertama yang teraniaya kalo gue ngejadiin dia sebagai kekasih gue. Nggak akan ada kebahagiaan dari hubungan yang terjalin tanpa pondasi cinta.”
Elena mengangguk dan memahami. Tapi kemudian ia berkata, “Gue cewek miskin, nggak punya rumah, nggak punya apa-apa. Gue ngerasa rendah diri. Gue nggak pantes jadi bagian hidup lo. Gue malu sama Tante Vira. Rasanya gue nggak tahu diri.”
“Mungkin lo udah memahami karakter mama meski belum lama mengenalnya. Gue yakin, hati kecil lo akan bilang kalau mama itu orang baik. Mama dan papa gue juga berasal dari orang miskin. Mereka sangat mengerti dengan kehidupan yang lo rasakan sekarang. Apa mungkin kehidupan lo yang begini akan menjadi alasan untuk mama ngejuhin gue dari lo?”
Elena terdiam. Ia sudah mendengar kisah kehidupan Tante Vira. Dan memang Tante Vira memiliki nurani yang baik.
“Mungkin orang akan bilang gue ini tolol, mencintai cewek miskin, bahkan yang udah disentuh orang, tapi ini soal perasaan, Elena. Gue nggak bisa ngendaliin perasaan gue. Perasaan itu tumbuh alami, tanpa alasan.” Revan tidak bisa menjawab kenapa ia memiliki perasaan sesayang itu terhadap Elena. Senyum dan tawa Elena adalah kebahagiaannya. Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati. Cinta yang tumbuh alami dari dalam lubuk hati, tanpa alasan, tanpa mengharap imbalan, tanpa melihat siapa yang dicintai.
Elena memejamkan mata sebentar. Menarik nafas dalam-dalam. Berusaha meredam rasa kesal karena Revan masih menilainya serendah itu.
“Gue masih perawan.” Tegas Elena.
Revan mengernyit hingga dahinya tampak terlipat.
__ADS_1
TBC