I am a Virgin

I am a Virgin
89. Extra Part 6a


__ADS_3

Elena berbaring di ranjang, memeluk bantal guling. Sambil berbaring, ia mengenang bagaimana tangannya begitu cekatan saat menjawab soal seperti ujian, yang mayoritas pertanyaannya menggunakan logika, juga matematika. Jika mengingat kerja kerasnya, ia yakin ia akan lulus.


Ponsel di sisinya bordering. Nama Revan tertera di sana. Senyum Elena mengembang menatap nama itu. Kemudian tangannya menjulur meraih ponsel itu.


“Halo!”


“Kukira udah tidur,” sahut Revan di seberang.


“Belum.”


“Kenapa? Mikirin aku?”


Elena menggigit bibir bawah. Pertanyaan Revan membuatnya jadi melambung. “Enggak.”


“He heee… Kamu tau nggak aku lagi ngapain?”


“Ya elah, main tebak-tebakan pula. Mana mungkin aku tahu kamu lagi ngapain. Lagi jongkok di WC kali.” Elena asal ceplos.


“Ha haaa… Jorok.”


“Jadi kamu lagi ngapain?”


“Berdiri di balkon, ngeliatin ke bawah. Aku ngebayangin seandainya aku di sini berdiri bersama kamu. Harapanku hanya ke kamu.”

__ADS_1


“Jnagan terlalu banyak berharap. Entar bahaya.”


“Satu-satunya harapanku kan Cuma sama kamu.”


Elena tersenyum membayangkan Revan ada di sisinya.


“Ya udah, aku hanya ingin denger suaramu aja. Besok kita ketemu lagi.”


“Oke. Aku juga mau ke luar. Tadi Salva minta dibeliin peyek. Aku lupa.”


“Tunggu aku di situ! Biar aku jemput kamu.”


“Heh? Hanya untuk beli peyek sebentar saja aku mesti dianterin sama kamu? Jangan edan!”


Elena menghela nafas. Kadang-kadang orang yang sedang jatuh cinta memang sedikit edan dan sikapnya di luar akal sehat,contohnya saja Revan yang tiba-tiba ingin dating ke rumah hanya untuk mengantar Elena membeli peyek. Itu konyol. Tapi kenyataannya terasa indah walau hanya sekedar bertatap mata.


“Aku ke rumahmu sekarang.” Revan keluar kamar sembari menyambar jaket dan mengenakan jaket tersebut dengan susah payah karena kepalanya mengapit ponsel di bahunya.


“Aku belum jawab boleh apa enggak kok kamu udah main nyelonong aja mau menemuiku?” sergah Elena.


“Aku tahu kamu mengijinkanku. Baay!”


Elena terpaku menatap durasi telepon. Dasar Revan keras kepala. Lihat saja, Elena akan pergi ke warung membeli peyek dan ia sudah kembali ke kontrakan saat revan dating. Ia kemudian menghambur turun dari ranjang, menyambar switer dan mengenakannya sambil berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Angin malam terasa menusuk kulit. Elena memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan mungilnya. Namun ia sudah terbiasa dengan belaian sejuknya angin malam. Dulu, bahkan ia berteman dengan angin malam setiap malam tiba. Ia kemudian setengah berlari di trotoar. Warung kecil di ujung jalan masih agak jauh.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan membuat kaki pegel, Elena akhirnya sampai ke warung. Ia membeli beberapa bungkus peyek, kemudian kembali berlari menuju pulang. Rasanya ia seperti sedang mengikuti perlombaan yang membuatnya harus berpacu dan segera sampai di tempat tujuan sebelum durasi waktu yang ditentukan akan berakhir.


Thin thiiiin…


Klakson mobil membuat Elena menoleh ke sumber suara. Ia terkejut melihat Revan menyetir mobil, wajah pria itu muncul dari kaca yang terbuka. Mobilnya pelan mengiringi langkah kaki Elena.


Ups, Elena kepergok. Ia kalah. Akhirnya berhenti, demikian juga Revan yang menghentikan kelajuan mobilnya.


“Ayo, masuk!” titahnya dengan seulas senyum. “Tega ya kamu beli peyek sendirian dan nggak mau nungguin aku.”


“Ha haaaa…. Kamu tuh yang aneh, Cuma beli peyek ginian doing aja mesti dianterin.”


Revan ikut tertawa. “Ayo, masuk!”


“Deket lagi juga nyampe. Aku jalan kaki aja.”


Revan turun dari mobil, kemudian ia mendekati Elena dan meraih pergelangan tangan gadis itu. “Sepertinya kamu mesti dipaksa baru mau naik ke mobilku!”


Baru saja Elena hendak menjawab, namun ponsel Revan berdering membuat ucapannya tertahan di lidah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2