I am a Virgin

I am a Virgin
93. Extra Part 8a


__ADS_3

Sudah tiga bulan Elena bekerja di perusahaan milik orang tau Revan, ia juga sudah mencicil uang yang dia anggap sebagai pinjaman untuk Revan. Tak hanya itu, upah yang dia terima telah membawanya menjadi seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi. Cita-citanya untuk bisa kuliah sambil bekerja telah tercapai. Senin sampai jum’at kegiatannya adalah bekerja, kemudian hari sabtu dan minggu adalah jadwalnya untuk kuliah. padatnya jadwal kesehariannya tak lantas membuatnya merasa loyo, ia justru bersemangat dan merasa tertantang.


Elena selalu giat dalam bekerja, jika karyawan yang lain sering diomelin oleh atasan, Elena sama sekali tidak pernah. Gadis itu cekatan, rajin, ulet, cerdas, dan bahkan sering kali mencetuskan ide brilian untuk kemajuan perusahaan. Usianya yang cenderung masih muda, serta pengalaman kerjanya yang masih minim namun ia sanggup menyampaikan ide-ide cemerlang, membuat atasannya kerap memuji dan bangga padanya.


Seore itu, Elena sedang mengeprint laporan setumpuk, matanya fokus ke laptop dan jemarinya bergerak di atas keyboard. Sambil ngeprint, ia membuat laporan kerja dengan cekatan. Belum lama ia bekerja, namun dengan mudah ia memahami pekerjaan. Bahkan ia kini menggantikan pekerjaan karyawan lain yang sedang cuti hamil selama tiga bulan. Tidak butuh waktu lama untuknya memahami pekerjaan yang harus ia serap, ia terlalu cerdas untuk memahaminya. Bahkan ia juga tidak protes saat hanya mendapatkan upah tiga ratus lima puluh ribu per bulan sebagai insentifnya yang telah menggantikan pekerjaan karyawan lainnya.

__ADS_1


“Elena, kok lo mau sih dibayar tiga ratus lima puluh ribu untuk pekerjaan seabrek gitu? Liat deh, ini udah jam pulang kamunya masih aja sibuk ngerjain pekerjaan itu. Nggak sesuai kesibukan sama uang yang lo terima, harusnya lo protes,” celetuk Elsa, gadis yang bekerja satu ruangan dengan Elena, sudah empat tahun ia bekerja di sana. Ia tampak sedang mengemasi barang-barangnya, merapikan meja kemudian menenteng tas hendak segera pulang.


“Gue kan baru di sini, gue nggak berani protes,” jawab Elena ngeles. Dia bukannya tidak berani protes, tapi ia merasa sudah sangat bersyuur dengan nominal tiga ratus ribu yang harus ia terima. Nominal segitu bagi Elena sudah cukup banyak untuk tambahan uang masuknya. Bagaimnaa mungkin ia bisa protes?


“Halah, si bos mah suka ngelunjak kalo nggak diprotes. Jangan mau diinjek-injek ama bos, akibatnya kita dijadiin kayak babu. Namanya juga bos, pastilah dia mau mengambil manfaat dan keuntungan sebesar-besarnya dari tenaga anak buahnya. kayak nggak tau sifat para bos aja ”

__ADS_1


“Ya udah, gue cabut duluan. Nikmatin aja dah kerjaan lo itu. Dadaaah…!” Elsa melenggang pergi.


Satu per satu pegawai meninggalkan kantor. Elena tinggal sendirian. Sebenarnya Elena bisa saja menyelesaikan pekerjaannya besok pagi, tapi ia tidak pernah merasa puas sebelum pekerjaannya selesai. Tanggung jawab kerja menjadi beban yang harus ia pertimbangkan. Dan ia selalu merasa risih jika pulang saat pekerjaanya belum selesai.


Sepuluh menit telah berlalu sejak jam pulang kerja. Elena mengangkut setumpuk kertas berupa laporannya menuju ruangan atasannya. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk karena kedua tangannya terbebani oleh setumpuk kertas. Ia terkejut saat mendapati Pak Sandi masih duduk di kursinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2