I am a Virgin

I am a Virgin
75. Kerak


__ADS_3

“Ngapain lo bikin gue jadi kayak gini? Lo mau bilang selama ini gue jelek kan? Dan sekarang lo pengen ngeliat gue cantik, gitu?” Elena ketus dan menampilkan ekspresi pura-pura kesal.


“Gue iseng doang kali. Lo kan liat sendiri tadi hujan. Trus kita mampir berteduh. Iseng-iseng gue beliin lo baju dan sepatu. Tapi kayaknya kurang pas kalo muka kerak lo itu nggak dibersihin. Itu aja.”


“Apa? Muka kerak?”


“Iya. Muka lo berkerak. He heeee...”


“Revaaaaan....!” Elena mencubit lengan Revan hingga berhasil membuat Revan mengaduh kesakitan.


“Udah udah! Pliiiisss. Udah. Sakit!”


Elena melepas cubitannya yang meninggalkan bekas memerah.


“Cowok sih muka berkerak nggak pa-pa. Nah, lo kan cewek, mana pantes mukanya berkerak.”

__ADS_1


“Jangan bikin jepitan kepiting ini nyengat untuk kedua kalinya di badan lo.” Elena menunjukkan jari tangannya yang siap untuk mencubit.


“Iya iya, ampun. Gitu aja sewot. Emang nggak ada berubahnya. Payah ngedeketin cewek galak.” Revan tersenyum melihat muka Elena memerah. Awalnya ia memang iseng mengajak Elena memasuki butik. Tapi kemudian timbul keinginannya untuk melihat kecantikan Elena bila dibalut pakaian indah.


Hujan mulai reda. Revan mengajak Elena ke mol, makan es krim, makan mie goring dan berakhir makan burger.


Mereka pulang tengah hari. Revan menghentikan motor di depan gubuk reot. Tepat pada saat itu Salva terlihat berlari pulang sekolah. Ia menyambut gembira Kakaknya yang terlihat cantik bak seorang puteri. Tak pernah sebelumnya ia melihat kakaknya secantik itu. Ia pun terbelalak melihat motor gede yang dinaiki Revan. Ia juga menjingkrak girang saat menerima beberapa helai pakaian yang dibelikan Revan untuknya. Ia langsung membawa pakaian itu masuk ke dalam rumah dan mengganti seragam merah putihnya dengan pakaian itu. Ia berputar-putar gembira kemudian keluar rumah dan menggelayut di paha Revan.


“Ini motor siapa, Kak? Punya temen kakak? Pinjem?” tanya Salva dengan suara renyah dan wajah berseri-seri.


“Motor Kak Revan,” jawab Elena.


“Hah? Motor Kak Revan? Kok bisa Kak Revan mendadak punya motor bagus?” Salva histeris dan matanya menyipit. Beberapa kali ia mengelus badan motor. “Menang undian? Atau…”


“Ingatan Kak Revan udah pulih. Dia adalah orang kaya,” jawab Elena.

__ADS_1


Wajah cerah Salva mendadak mendung. Tawanya hilang tak berbekas. “Jadi… Kak Revan bakalan tinggal di rumahnya, dong? Kak Revan nggak akan tinggal bersama kita lagi? Kak Revan akan ninggalin kita?” Kesedihan menyemburat di wajah itu.


Tak pernah Revan melihat wajah bocah cilik itu bersedih. Kali ini kesedihan itu terlihat jelas. Bocah cilik itu tidak ingin berpisah darinya.


Revan melipat kaki, meletakkan lutut di tanah hingga pandangannya berjajar dengan wajah Salva.


“Hei, anak pinter, Kak Revan memang akan tinggal bersama keluarga Kakak, tapi bukan berarti Kak Revan ninggalin Salva. Kak Revan janji akan sering kesini ngejenguk kalian,” jawab Revan dengan pandangan teduh.


“Tapi kan sama aja, kebersamaan kita nggak akan sesering dulu.” Salva manyun.


“Salva, Kak Revan punya kehidupan lain, punya keluarga,” sahut Elena yang tak ingin adiknya merengek. Tak ingin melihat adiknya bersedih.


“Ya udah, deh,” ujar Salva akhirnya. Detik berikutnya ia berlari menjauh dan berputar-putar sambil bernyanyi. Lalu tertawa sembari sesekali mengamati pakaian baru yang dikenakannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2