I am a Virgin

I am a Virgin
45. Senyuman


__ADS_3

Revan mendorong pintu yang knopnya baru saja diputar. Ia memasuki ruangan dan berhenti di tengah-tengah ruangan. Membiarkan Elena menyelusup dan melewatinya. Tampak Salva setengah berbaring di ranjang dengan pakaian pasien berwarna biru muda. Bocah cilik itu tersenyum cerah menyambut.


Elena terkejut. Salva yang terakhir dilihatnya menangis dan berbicara dengan wajah memelas, merintih, kini sudah tersenyum lebar. Wajahnya cerah berseri-seri.


Elena menghambur dan memeluk Salva lalu menciuminya. Tangannya berkali-kali mengelus rambut pirang Salva. Kepala Salva menyandar di bahu Elena dengan bibir tersenyum.


Elena merasakan kesejukan yang tiada tara. Senyuman adiknya telah kembali. Hanya itu yang diharapkannya. Karena memang hanya itulah yang dimintanya pada Tuhan selama ini. Tak lebih. Sekarang permintaannya itu dikabulkan Tuhan, ia merasakan kasih sayang Tuhan begitu dahsyat. Rasa syukur menghujani hatinya.


Ia tidak tahu betapa sulitnya Revan membujuk Salva ketika akan dioperasi beberapa jam yang lalu. Bocah cilik itu berlari menghambur ketika akan memasuki ruangan operasi. Menangis ketakutan. Bahasa operasi sama halnya seperti tukang pancung yang akan memenggal tahanan. Mengerikan. Bola matanya liar berputar. Wajahnya pucat, pias. Sesekali menyebut nama Elena dengan suara lirih.


Revan mendekati Salva yang kebingungan mencari tempat untuk bersembunyi. Ia merengkuh kepala Salva yang menyandar di dinding lorong rumah sakit.

__ADS_1


“Salva, operasi amandel itu hanyalah operasi kecil,” bujuk Revan berusaha memberi pemahaman. “Nggak apa-apa, kok. Yakinlah semua akan baik-baik aja.”


Salva menggeleng. Memegangi tangan Revan kuat-kuat, lebih seperti mencengkeram. Kukunya yang panjang, belum sempat Elena memotong, meninggalkan bekas cakaran di kulit putih Revan. Perih. Tapi tak apa, Revan menahan perih.


“Salva jangan nangis, Salva kan anak pinter,” bujuk Revan lagi.


Salva melirik dokter laki-laki yang berdiri di jarak lima meter darinya. Ketakutan kembali menyergap. Kemudian meronta-ronta. Menangis menjerit.


Revan berlutut, lembut mendekap kepala kecil Salva dan membenamkannya ke dada. Rambut lusuh bocah cilik itu menyentuh wajahnya. Revan mengelus lembut rambut yang tak lebat, yang jika diikat hanya sebesar ibu jari saja. Sentuhan hangat tangannya ternyata mampu meredakan rasa takut Salva. Jerit tangis Salva tidak lagi menggila.


“Salva mempunyai Tuhan, bukan? Jadi kenapa mesti takut? Tuhan Salva itu baik. Maha Penyayang. Serahkan semuanya pada Allah. Berdoa dan mintalah pada Tuhan agar Dia memberikan yang terbaik untuk Salva.”

__ADS_1


Salva tertegun mendengar Revan menyebut Allah. Ia mendalami kata-kata Revan hingg dengan polosnya hatinya bergumam memikirkan Tuhan dengan pemikirannya yang masih begitu dangkal. Di sekolah, guru agama juga sering menjelaskan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Lalu, kenapa sekarang dia takut dengan keputusan Tuhan? Iya benar, Tuhan itu ada. Tuhan pasti akan menyayanginya. Ia harus percaya itu.


Cengkeraman tangan kecil Salva di tangan Revan melonggar. Ketakutannya mulai memudar.


Revan melepas pelukan dan menatap wajah Salva lamat-lamat. Mengusap dahi bocah cilik yang amat disayanginya itu.


Kerutan di kening Salva pelan menghilang. Tatapan matanya mulai normal. Tangisnya berhenti. Ia memang tidak begitu mengerti dengan siapa itu Tuhan. Yang jelas, ia tahu bahwa Tuhan itu ada. Maha kuasa. Maha melihat. Penyayang. Seperti yang selalu diajarkan guru agama di sekolah.


TBC


Jangan lupa klik Like 👍

__ADS_1


__ADS_2